”Hom pim pa!”
Suara sorakan segera terdengar menyusul setelah empat orang sama-sama mengulurkan punggung telapak tangan, berbeda dengan anggota yang lain. Haikal, Rendra, dan Yuda sudah sibuk terbahak dengan sebuah tepukan tangan keras, meloncat-loncat tidak jelas sebelum kembali berlari ke tengah lapangan. Nathan yang tadi berteriak ikut bersorak kecil, puas karena dapat menjadi salah satu orang yang beruntung. Pemuda itu segera ikut menyahut raket, mengambil tempat di sisi Yuda untuk melanjutkan permainan bulu tangkis mereka.
”Beli lagi dong, Jei.” Hessa menyentak layaknya anak kecil, membuat Jeiden di sisi cowok itu terkejut dengan umpatan pelan. ”Biar seru, jadi nanti ada semi-final, ada final, ada juara 1, 2, 3-”
”Lo pikir duit gue cuman buat ngurusin kepengenan lo!” sahut Jeiden ikut menyentak tak ingin kalah. ”Inisiatif kek raket lo bawa sini!”
”Raket gue buat main anak komplek.”
”Ya udah gak usah protes!” bentak pemuda itu kesal. ”Segala pakai minta ke gue! Minta ke cewek lo sana, katanya kaya!”
Soni di sisi Jeiden sudah sibuk terkekeh, berlari bergabung ke arah William, Hadi, Xafier, dan Yoga yang sejak tadi memang tak berniat ikut memperebutkan roket bulu tangkis. Hessa berdecih tak santai, melotot pada Jeiden yang juga balas melotot sekaligus menendang kecil tulang kering pemuda itu supaya menyingkir dari hadapannya. Tubuh Hessa segera berbalik, ikut bergabung ke arah Juna yang tengah membantu anak-anak perempuan menyalakan kembang api.
Malam ini, XI-IPA5 tengah dalam formasi lengkap baik dari anggota cowok maupun anggota ceweknya. Seperti biasa, halaman apartemen Jeiden yang dihiasi oleh lahan luas dengan fasilitas lapangan, dan pemandangan langit membentang menjadi pilihan mereka menikmati malam weekend kali ini. Pemuda itu sengaja memilih tempat yang memang masih sepi, sunyi, dan bahkan mungkin tak terlalu banyak dihuni.
Jarang ada pedagang kaki lima yang melewati daerah sini.
Jarang ada suara klakson mobil ataupun motor yang dapat menganggu telinga setiap jam berangkat dan pulang kerja.
Jarang ada kerumunan manusia yang berlalu lalang.
Bahkan selain gedung apartemen yang menjulang tinggi, bangunan perumahan baru dapat ditemui sekitar 500 meter dari sini. Benar-benar masih sunyi dan diperuntukkan bagi orang-orang yang memang mencari hunian tenang, tanpa mempedulikan harga sewanya. Tidak heran jika tempat ini akan langsung jadi basecamp yang dituju oleh anak-anak IPA5 setiap kali merasa suntuk.
”Lo gak gabung yang lain?”
Chaerra yang semula fokus pada pemandangan langit cerah di atas sana jadi tersentak, menolehkan kepalanya refleks. Setelah mengerjap ke arah Jeiden yang sudah duduk, mengambil tempat di tumpukan pipa bekas yang sengaja ditaruh sebagai kursi di sisi lahan, Chaerra melemparkan pandangannya pada beberapa tubuh ramping yang tak jauh tengah saling bercanda gurau dengan banyak kembang api.
”Enggak.“
”Kenapa?“ Jeiden kembali bertanya, masih memandang gadis itu aneh. ”Lo lagi marahan sama yang lain?”
”Cewek enem biji doang ngapain ada marahan segala?“ balas gadis itu tanpa beban. ”Emang enggak pengen.”
Biasanya di atas sini akan ada Chaerra, Xafier, dan Jeiden yang saling berebut gitar, mendorong satu sama lain untuk mendapatkan ruang duduk paling luas. Tapi malam ini Xafier lebih memilih melengkapi anggota game di bawah, membuat hanya ada Chaerra dan Jeiden sehingga mereka tak perlu saling dorong. Sejak tadi, gitar juga sudah ada dipangkuan Chaerra, membuat gadis itu kadang memetik beberapa kunci nada asal untuk membunuh bosan.
”Lo dari minggu lalu cemberut muluk, kenapa sih?”
Jeiden sejujurnya tak begitu ingin menegur, tapi perubahan sikap Chaerra memang cukup drastis dari minggu lalu. Walaupun gadis itu tetap pemarah, atau justru lebih pemarah karena sudah tiga kali penghampus berhasil dilempar ke kepala Haikal dan Jeiden minggu ini, tapi gadis itu juga seolah kehilangan senyummya. Jeiden yang kerap kali melihat tawa terbahak gadis itu setiap bersama teman-temannya di kantin juga tak lagi mendapati hal itu. Chaerra juga jadi lebih malas menghadapinya, atau lebih memilih untuk melepas sepatu dan melemparkannya pada Jeiden daripada harus membuka mulut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi... Boyfriend
FanfictionJeiden & Chaerra from Win Crown Lebih baik baca Win Crown dulu, tapi kalau mau langsung baca ini juga gak papa :) Rated: 17+ . . . . . Bagaimana jika gadis yang mendapatkan julukan Singa IPA bertemu dengan pemuda dengan julukan Idol Boy School di da...
