+62 8*7-465*-9*62
Chaerra Karinda?
+62 8*7-465*-9*62
Gue Jenan, sekertarisnya Om Sean.
+62 8*7-465*-9*62
Om Sean pengen bikin janji temu.
+62 8*7-465*-9*62
Kira-kira hari ini pulang sekolah lo bisa gak ya?
Itu pesan permintaan paling tidak sopan yang Chaerra baca di jam makan siang. Gadis itu bahkan hampir memuntahkan makanannya akibat sudah muak. Hidupnya benar-benar sinyal! Dosa apa yang pernah Chaerra lakukan di kehidupan sebelumnya sampai di masa kini harus berurusan dengan keluarga Jeiden? Apa dia dulu seorang selir tak tau diri yang meracuni seorang ratu sampai harus dikutuk seperti ini?
Setelah kemarin kepergok mentah-mentah di hadapan kedua orang tua Jeiden bahwa Chaerra bermalam dengan pemuda itu di apartemennya, kini orang yang paling membuat Chaerra kesal tiba-tiba mengabarinya untuk bertemu? Memangnya sesi sidang kemarin masih belum cukup? Padahal Jeiden sudah menjelaskan secara rinci bagaimana bisa pagi-pagi mereka dengan tampilan bangun tidur ada di apartemen. Memang kebencian ayah Jeiden pada Chaerra sepertinya sudah mendarah daging.
”Chaer, nanti ikut ke Mall gak?”
Tawaran Chacha membuat Chaerra segera mematikan layar ponselnya, mendorong benda itu menjauh. Jika Chaerra tidak ingat ia baru beli benda itu di kenaikan kelas XI, sudah gadis itu pastikan membuang jauh-jauh benda itu. Atau kalau bisa membuang jauh-jauh keluarga Jeiden beserta anak tunggal mereka. Ya-Tuhan, kesal sekali dia.
”Siapa aja?”
”Gue, Lia, sama Arina,” kata Chacha menunjuk masing-masing gadis di sisinya, ”Senya entar jalan sama William, Eli katanya gak mau soalnya ada janji sama ibunya,” lanjut Chacha ganti menunjuk masing-masing gadis di sisi Chaerra.
”Gue dance.”
”Habis dance aja,” usul Lia, ”biar kita tunggu di MX.”
”Gitu juga gak papa,” kata gadis itu cepat, ”gas.”
”Oke, sip, biar gue minta jemput supir entar,” ujar Chacha antusias, ”motor lo suruh ngurusin Juna,” lanjut gadis itu pada Arina yang langsung cemberut karena tak bisa membawa motornya.
Chaerra
Saya pulang malem, Kak.
Chaerra
Mungkin jam 7 baru bisa, soalnya harus ekskul dulu.
Chaerra berharap jawabannya tersebut bisa membatalkan pertemuan tidak jelas yang mungkin hanya bertujuan untuk semakin merendahkannya. Kenapa keluarga Jeiden punya perlakuan yang berbeda padanya? Bukankan jika ibu Jeiden benar-benar menyukainya, mau tidak mau ayahnya juga harus menyukai Chaerra? Tapi kenapa ayah pemuda itu seolah benar-benar berada di jalan yang salah?
+62 8*7-465*-9*62
Oke, jam tujuh malem ya.
+62 8*7-465*-9*62
Share a loc.
+62 8*7-465*-9*62
Nanti di sini, sebut aja meja atas nama Jenan Kalendra.
Pupus sudah harapan Chaerra. Gadis itu mendengus lelah, kembali mematikan layar ponselnya. Mata Chaerra yang semula ingin menggulir malas jadi berhenti pada pemandangan tak jauh dari meja yang ia tempati. Salah satu pemuda yang lebih tinggi daripada gerombolannya tampak berjalan dengan santai keluar dari Cafetaria. Daripada ikut kumpul dengan cowok-cowok dari XI-IPA5 yang masih berkumpul di salah satu pojok ruangan, pemuda itu dan William memilih keluar bersama komplotan XI-IPS1 berbincang dengan begitu akrab.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi... Boyfriend
FanfictionJeiden & Chaerra from Win Crown Lebih baik baca Win Crown dulu, tapi kalau mau langsung baca ini juga gak papa :) Rated: 17+ . . . . . Bagaimana jika gadis yang mendapatkan julukan Singa IPA bertemu dengan pemuda dengan julukan Idol Boy School di da...
