39. Not Description

132 17 4
                                        

”Ngapain Oma harus ke SMA? Kamu buat masalah, selesaiin sendiri.”

Jeiden mendesah panjang, menatap layar ponselnya yang menunjukkan adanya panggilan tengah berlangsung. ”Bukan aku, Chaerra, tapi gara-gara aku.”

Chaerra?”

”Iya, Chaerra.”

”Kenapa?”

”Berantem sama orang, katanya gara-gara aku,” adu pemuda itu, ”aku udah ngabarin Mama, tapi belum ada balesan. Sekarang anaknya masuk BP, takutnya habis ini dia dapet sanksi dikeluarin dari OSIS atau jabatan Ketua Ekskul Dance-nya di cabut. Oma ke sini ya? Bantuin ngomong sama pihak sekolah.”

Suara helaan nafas terdengar panjang dari dalam ponsel. ”Bisa-bisanya kamu bikin dia jadi kena masalah. Oma ke sana.”

”Oke, makasih, Oma.”

Setelah melalukan panggilan telfon, pemuda itu kembali menyusul Lia dan Chacha yang masih berdiri di depan Ruang BP. Ada tiga gadis lain yang Jeiden duga dari tingkat atas. Dibuktikan dengan mata sipit Chacha yang sejak tadi sudah melirik tak santai, seolah siap meraung dan melahap ketiga orang di sisi lain dari pintu Ruang BP sekaligus. Penampilan kedua orang dari kelas Jeiden itu tak kalah berantakan, Chacha dengan rambut acak-acakan dengan kulit putih secerah susu yang terlihat memerah di beberapa bagian, dan Lia yang lebih rapi dengan keadaan muka lebih parah akibat terdapat bekas cakaran di sana.

”Woi!” teriak Chacha tak santai, mengejutkan semua orang yang berdiri di depan Ruang BP. ”Bertiga doang, temen lo yang tiga lagi mana? Yang jambak rambut gue tadi ke mana?” todong gadis Chinese itu tak ada takut-takutnya.

”Cha, udah,” tegur Lia pelan, menarik tubuh Chacha semakin menjauh dari barisan kakak kelas yang hanya melirik juga tak kalah sinis, ”jangan bikin ribut lagi.”

”Woi!” Suara keras Jeiden ikut menyahut cukup kasar membuat Lia dan Chacha jadi sama-sama terlonjak. ”Punya motif apa lo-lo pada gangguin Chaerra?”

”Tau tuh, motif apa?” tantang Chacha jadi kembali maju, merasa mendapat pasukan. ”Tiba-tiba dateng ngajak ribut. Ngata-ngatain temen gue. Punya motif apa lo pada?”

Jeiden sudah melipat tangannya di depan dada, dagunya terangkat angkuh. Di sisinya, gadis dengan tinggi sepundaknya ikut melakukan gerakan yang sama. Chacha jadi bergerak lebih maju, selangkah di depan Jeiden tak ingin kalah. Mendongak bangga dengan tangan yang terlipat dan wajah angkuh.

”Jei,” panggil Lia pelan dari belakang, ”mending lo masuk kelas deh.“

”Bentar, nunggu Chaerra keluar dulu,” jawab pemuda itu tak mengalihkan pandangan sama sekali. Matanya tetap fokus pada tiga orang dari tingkat atas itu yang sudah menciut. ”Gue tanya bangsat! Jawab! Giliran gak ada majikan aja lo pada takut! Jadi antek aja bangga!” ujarnya merubah nada bicara.

Ada sedikit rasa bersyukur karena sebelum ini Jeiden kerap kali mengasah kemampuan sarkasnya pada Chaerra, membuat pemuda itu lama-kelamaan dapat mengikuti gaya bicara sengak dan kata-kata merendahkan gadis itu. Jeiden juga harus banyak berterimakasih pada Haikal dan bacotan pemuda itu yang secara tidak langsung akan mengajarkan Jeiden bagaimana menunjukkan ekspresi menyebalkan saat seperti ini. Tindakan pemuda itu juga jadi mempengaruhi Chacha sepenuhnya, membuat gadis Chinese itu makin maju menantang.

”Dengerin tuh dengerin, dijadiin antek aja bangga.”

”Ngapain pakai segala bawa-bawa nama gue?” Jeiden terus bertanya tak santai, memandang ketiga gadis di depan sana yang tampak sudah saling dorong. ”Gue gak pernah ngerasa deketin Putri! Cewek tempramental kayak gitu ngapain juga gue deketin! Ya walaupun banyak temen sekelasnya Putri yang pernah deket sama gue.”

Hi... BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang