Suara tepukan agak keras disusul dengan erangan kecil membuat Jeiden hampir mengumpat. Mata sipit pemuda itu mengerjap, memandang pelaku yang baru saja menampar lengannya. Pandangan pemuda itu masih agak rabun, menangkap tubuh Lia dan Arina yang mulai beranjak dari kursi. Baru saja mendapatkan kesadaran, bahu Jeiden yang memberat, kaku, dan keram membuat pemuda itu segera merunduk.
”Chaer, bangun!”
Suara Jeiden terdengar serak, tenggorokannya kering akibat baru bangun tidur. Tangan pemuda itu maju, sedikit mendorong kepala Chaerra supaya menyingkir dari bahunya. Beberapa orang mulai berlalu lalang, turun dari bus untuk terbebas dari ruangan yang terasa sesak ini.
Chaerra menggeliat, bergerak mencari posisi lain berharap tak dibangunkan. Rasanya baru beberapa saat yang lalu ia dapat menutup mata setelah saling umpat dengan Jeiden. Gadis itu mengerang, memunggungi Jeiden dengan mata yang perlahan terbuka.
”Kepala lo kayak batu, keras banget,” ujar Jeiden menggerakkan bahunya, ”anjir, keram banget tangan gue.”
Hanya suara lenguhan yang dapat Chaerra berikan sebagai respons sebelum tubuhnya bergerak lunglai bangun. Gadis itu melemparkan jaket Jeiden yang masih berada di atas pahanya ke arah pemuda itu, tepat mengenai wajah Jeiden membuat suara umpatan terdengar. Walaupun masih lemas, Chaerra yang sengaja melakukan itu jadi terkekeh sadar.
”Tas gue bawain, Jei,” kata Chaerra ringan, menyahut tas slempang miliknya untuk ia bawa sendiri dan meninggalkan tas punggung pemberian Jeiden.
”Chaerra, tungguin!”
Suara Eli dan Xafier yang cukup kencang dari belakang membuat langkah Chaerra yang sudah ingin turun tangga bus terjeda. Gadis itu melebarkan senyum, menunjukkan gusi-gusinya manis sembari melambai pada sosok Eli dan Xafier. Pipi chubby gadis itu ikut naik, merekah begitu saja merasa energinya kembali terisi setelah tidur.
”Tas lo mana?” minta Chaerra pada Eli. “Sini, biar gue bawain.”
Mata Eli ikut berbinar, dengan senyum muncul. Gadis tinggi itu dengan cepat melepaskan tas punggungnya, menyerahkan benda berat itu pada Chaerra. Baru saja sedetik menerima tas Eli, Chaerra kembali melempar barang itu ke arah pangkuan Jeiden yang masih sibuk memukul-mukul bahunya sendiri membuat pemuda itu terkejut.
”Sekalian, Jei,” lanjut Chaerra tanpa beban segera menarik tangan Eli untuk turun.
Bibir Jeiden terbuka, kagum pada tindakan gadis itu yang begitu semena-mena tanpa rasa bersalah sedikit pun. Pemuda itu jadi mendongak pada Xafier yang sudah terkekeh, menatap rendah pada Jeiden menyukurkan. Pemuda itu dengan kesal menarik tangan Xafier, meletakkan tas Eli ke tangan pemuda itu membuat tawa Xafier terhenti memprotes.
”Bagian lo itu," kata Jeiden galak, ”udah gak usah protes, kena marah kanjeng ratu entar. Sana keluar!”
Jeiden mendorong tubuh Xafier pelan supaya segera menyingkir. Pemuda dengan wajah baby face dan tatapan layaknya anak kecil masih mengerucutkan bibir memprotes akibat dapat beban tambahan. Jeiden tak kalah merenggut kesal, masih mengeluarkan umpatan walau tangannya benar-benar meraih tas Chaerra untuk ia bawa.
Pemuda itu terpaksa harus mengikuti arah tubuh Chaerra, dari mulai kumpul untuk absen, pengambilan kartu kamar, dan menuju kamar. Melihat gadis itu tertawa hahah hihih bersama teman-temannya. Xafier di sisi Jeiden juga tak kalah kesal, menggerutu walau setiap Chaerra menoleh pemuda itu jadi meringis manis.
”Makasih Xafier,” ucap Eli tersenyum lebar, ”nanti gue kasih jajan.”
”Sama-sama, Eli,” jawab pemuda itu berbanding terbalik dari raut wajahnya yang memprotes sejak tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi... Boyfriend
FanfictionJeiden & Chaerra from Win Crown Lebih baik baca Win Crown dulu, tapi kalau mau langsung baca ini juga gak papa :) Rated: 17+ . . . . . Bagaimana jika gadis yang mendapatkan julukan Singa IPA bertemu dengan pemuda dengan julukan Idol Boy School di da...
