40. Cantik

174 13 9
                                        

Jeiden

Pulang bareng gue.

Setelah berhari-hari lamanya notifikasi dengan nama tersebut menghilang, sore ini room chat itu kembali menjadi room chat paling atas di layar ponsel Chaerra. Seluruh anak dance di ruangan baru saja pamit pulang, menyisakan Chaerra seorang diri yang baru mengeringkan rambutnya dengan handuk putih karena baru saja membersihkan diri dari keringat akibat kegiatan ekskul. Ruang Dance memang difasilitasi kamar mandi pribadi dengan loker-loker tambahan, membuat ruangan ini sedikit lebih besar di bandingkan ruangan ekskul lain.

Kepala Chaerra jadi menoleh, menangkan bagian belakang tubuh Jeiden sudah dapat ia lihat dari balik jendela Ruang Dance. Pemuda itu sepertinya juga baru saja menyelesaikan kegiatan ekskul. Jika boleh jujur, ada sedikit rasa senang setiap kali Jeiden kembali menunjukkan sikap-sikap protection dan attention pada Chaerra. Tapi setiap kali mengingat Cantik, dan pagi tadi gadis itu tau fakta jika Jeiden juga tengah mendekati Putri, rasanya ia sudah benar-benar muak.

Mungkin jika di hadapan orang lain apalagi di hadapan teman sekelas, Chaerra dapat begitu bersikap biasa dan menggebu-gebu sarkas seperti sikap awalnya. Tapi jika sudah berdua, gadis itu jadi mudah terbawa suasana, berubah kembali jadi gadis yang senang mendapatkan perhatian dan diperlakukan begitu baik oleh Jeiden. Cowok keparat!

”Lo beneran gak ngerti bahasa manusia ya?” cibir Chaerra segera begitu kakinya melangkah ke luar dari Ruang Dance, bergerak mengunci ruangan itu lebih dulu tanpa menoleh pada Jeiden. ”Berapa kali gue harus bilang kalau gue bukan opsi yang bisa lo pilih kapan aja?”

Sosok tinggi dengan kaos hitam itu semula hanya melirik, mengangkat pandanganannya dari layar ponsel. ”Kayaknya lo deh yang gak ngerti bahasa manusia. Berapa kali sih gue harus tanya, lo kenapa?”

”Gak papa, emang gue keliatan kenapa-napa gitu?”

Suara nafas Jeiden terdengar menderu pelan, kehabisan kesabaran. Wajah gadis itu yang mendongak dengan garis rahang mengeras semakin membuat rasa kesal Jeiden meningkat. Chaerra selalu bicara tidak ada masalah di antara keduanya, tapi sikap gadis itu tak sedikit pun membuktikan jika mereka memang tengah berada di hubungan yang baik-baik saja.

”Lo tuh suka banget ya ngomong gak jelas gini? Padahal jelas-jelas sikap lo berubah-”

”Berubah?” selak Chaerra bertanya. ”Emang menurut lo sikap gue gimana? Gue dari awal kayak gini.”

”Chaer-”

”Jei!” bentak Chaerra lebih dulu mendengar nada suara pemuda di hadapannya sudah meninggi. ”Biar gue ingetin ya sama lo! Gue bukan cewek lo! Gue udah muak sama hubungan gak jelas kita yang bikin gue ngerasa jadi cewek goblok karena mau aja lo manfaatin! Lo cium sesuka hati, lo ajak keluar tiap lo bosen, sampai mau-maunya gue nemenin lo chatan! Lo pikir gue serendah itu? Gue gak peduli mau keluarga lo udah bikin gue bisa bebas dari sanksi, gue gak peduli mau lo petinggi di sekolah ini, gue gak peduli! Gue gak mau punya urusan lagi sama lo, dan gue harap lo juga sadar buat gak ikut campur urusan gue!”

Kelopak mata Jeiden refleks terpejam, dengan kepala pemuda itu yang tiba-tiba berjalan lebih lambat. Ia bisa saja langsung menyahut, menghentikan omong kosong yang baru saja Chaerra katakan. Seluruh kata-kata yang baru saja ditangkap oleh gendang telinganya terasa tak lebih dari sebuah angin lalu yang dihasilkan oleh sebuah emosi. Bukan itu yang Jeiden cari, tapi akar dari seluruh kejadian yang rasanya begitu membingungkan ini.

”Chaer,” panggilnya pelan, sepelan dan setenang yang ia bisa, sangat berbanding terbalik dengan suara Chaerra yang baru saja terdengar, ”lo gak mau jelasin sesuatu dulu gitu ke gue? Lo gak capek dari kemarin ngoceh gak jelas? Gak ada yang jadiin lo opsi, gak ada yang manfaatin lo, gak ada yang nganggep lo rendah. Gak ada, Chaerra.”

Hi... BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang