49. Girlfriend

191 16 11
                                        

Jeiden

Di mana?

Jeiden

Gue selesai basket mau mampir rumah.

Chaerra

Di club.

Jeiden

Shit!

Jeiden

Keluar!

Jeiden

Gue otw ke sana.

Jeiden

Sampai gue ke sana lo belum di parkiran, gue seret lo dari dalem.

Chaerra tak benar-benar keluar, gadis itu masih setia duduk ikut berbincang dengan beberapa kakak tingkat yang sudah ia kenal baik dari Dance maupun OSIS. Ponselnya di matikan, dengan getaran yang terus menyusul memberikan tanda beberapa pesan baru yang masuk, bahkan dering ponselnya secara pelan terdengar membuat Chaerra yakin Jeiden tengah berusaha melakukan panggilan telepon.

Sebenarnya kemarin malam pemuda itu sudah mengirimkan pesan baru, tapi entah kenapa Chaerra begitu ingin membalas Jeiden yang mengabaikannya walaupun ia tau pemuda itu terpaksa melakukannya. Jadi, biarkan pemuda itu yang gila sekarang setelah membuatnya jadi gadis bodoh yang seolah tengah dimabuk cinta. Memangnya pemuda itu saja yang bisa mengabaikan?

Jeiden

Chaerra ini udah malem ya.

Jeiden

Lo gak bales chat gue beneran gue telfonin Om Dana.

Chaerra

Iya, ini gue keluar.

Tapi ia juga lupa fakta bahwa Jeiden bukan lawan yang sepadan untuknya. Pemuda itu benar-benar menyebalkan. Demi apapun, ia sebenarnya sangat kesal pada sisi dominan Jeiden yang jika sudah muncul seolah tak bisa ditekan. Setelah pamit pada beberapa orang yang masih duduk di sofa melingkar itu, Chaerra segera beranjak dari kursinya.

Sangat ajaib karena begitu Chaerra keluar dari club, Jeiden sudah bersandar di sisi mobilnya sembari melipat tangan memandang ke arahnya tajam. Di mana cowok itu berlatih basket? Atau berapa kecepatan berkendaranya? Bahkan seingat Chaerra belum ada tujuh menit sejak ia mengabaikan pesan Jeiden.

Stop looking at me with those eyes!” ujar Chaerra dengan punggung menegak dan dagu terangkat berani.

Jeiden mendengus remeh. ”What eyes?”

Pemuda itu mengalihkan wajahnya cepat, membuka pintu mobil membuat tubuh Chaerra langsung melewatinya dan bergerak masuk. Gadis itu tampak rapi dengan kemeja satin berwarna hitam dengan bagian kancing atas terbuka menunjukkan tank top putih yang ia kenakan, dan hotpants denim. Sangat berbanding terbalik dengan Jeiden yang hanya muncul dengan kaos singlet dan celana jeans komprang panjang karena buru-buru kemari belum sempat mengganti pakaian.

”Kayak gelandangan,” cibir Chaerra begitu pemuda itu masuk ke dalam kursi kemudi.

Suara helaan nafas terdengar kasar, dengan pemuda itu yang mengenakan sabuk pengaman. ”Lo kayak baby girl-nya om-om.”

”Lah, emang tujuan gue lagi cari sugar deddy.”

Jeiden meringis dengan dengusan kecil, menoleh sekilas pada Chaerra yang tengah berkaca. ”Mau jadi baby gue aja gak Chaer?”

Hi... BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang