14. Start from Beautiful

157 17 2
                                        

Ayah

Kak, maaf ya belum sempet jemput.

Ayah

Kakak pesen ojek online gak papa kan?

Chaerra

Gak papa, Yah.

Chaerra

Aman.

"Pulang bareng gue?"

Chaerra memekik, membuat beberapa orang yang tengah bersiap pulang menoleh. Tapi begitu mendapati Jeiden sudah berdiri di sisi kursi Chaerra, semua orang jadi tidak acuh dan kembali pada kegiatan masing-masing. Seluruh kelas tau, pemuda itu tak akan puas jika belum memancing umpatan Chaerra atau mungkin seluruh anak kelas.

"Enggak," jawab Chaerra galak, menepis tubuh Jeiden untuk menyingkir dari sisi bangkunya, "gue mau pulang sendiri."

Pemuda itu menganggu, melirik ke sisi lain dari bangku Chaerra. "Rin, mau pulang bareng gue?"

Arina, gadis Chinese dengan pahatan wajah Berbie itu menaikkan alis heran. "Boleh?"

"Boleh," balas Jeiden tersenyum manis, "yuk. Entar gue traktir Yupi."

"Kayak penculik anjir," cibir Chaerra tajam, mengenakan tas biru tua pemberian pemuda itu.

Arina terkekeh ringan. "Gue bawa motor, Jei. Motor gue bisa masuk mobil lo?"

Suara keras Chacha menyusul dari arah lain. "Sogokan lo kurang tuh, coba lo ganti pakai tas Hermes."

"Chaer, mau tas Hermes?"

Chaerra menghela nafas panjang, melirik pada Jeiden tajam. "Gue kan bilang gue minta mobil Lamborghini."

Giliran Jeiden yang kini menghela nafas panjang, menarik tangan gadis itu untuk ia seret ke luar kelas. Pekikan Chaerra terdengar semakin keras, kali ini disertai umpatan dengan tangan gadis itu yang mencoba berpegangan pada apapun. Chacha sudah terbahak di tempatnya, dengan beberapa orang yang tak kalah terkekeh sembari melambai pada kepergian Chaerra.

"Fir! Fir tolongin gue!" Chaerra tak berhenti berteriak, menyaut pintu untuk menahan tubuhnya. "Jeiden anjir! Lepasin gak?"

"Lo marah-marah muluk heran," cibir Jeiden tajam, menepis tangan Chaerra dari pintu supaya dapat menarik gadis itu kembali, "Zafir gak bawa motor, gak bisa nganterin lo pulang."

"Yuda! Nathan! Xafier! Anjir!" umpat Chaerra kesetanan sendiri, membuat semua orang dari kelas IPS yang berjalan pulang untuk menuruni tangga menoleh pada aksi penculikan itu. "Senya, Chacha, Ya! Tolongin anjing!"

Suara tawa dari dalam kelas XI-IPA5 terdengar semakin keras, merasa yang mereka lihat sekarang ini hanyalah sebuah pertunjukkan yang kerap kali terjadi. Jeiden dan Chaerra menjadi ikon nyata bagi Tom and Jerry dalam kelas ini, tidak akan dapat akur dengan mudah. Di mana Chaerra akan selalu menang, tapi tak akan bisa berkutik jika sisi kucing pemuda itu sudah muncul.

Karena bagi Chaerra Karinda, perpaduan antara Jeiden Cakra Adnan dan sifat kepemimpinan adalah perpaduan paling bangsat.

"Yunka, Mina," sapa Jeiden berubah tersenyum begitu gerombolan dari kelas XI-IPS2 melewati XI-IPA5, "Hana."

Ketiga gadis yang semula menoleh aneh itu berubah tersenyum dengan anggukan kecil, melambai pada Chaerra tanpa beban yang membuat gadis itu menunjukkan ekspresi memelas. Chaerra masih menahan tangannya di sisi pintu, berusaha menahan diri walaupun Jeiden masih terus berusaha menepis tangannya. Keduanya bukan hanya jadi tontonan XI-IPA5 tapi juga anak-anak dari kelas XI-IPS1 dan XI-IPS2.

Hi... BoyfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang