”Peluk gue!”
Jeiden mengerutkan dahinya heran. ”Hm?”
”Dingin, peluk gue!“
Suara berat dan serak pemuda itu terdengar tertawa pelan. Tubuhnya segera maju, melingkarkan tangan ke pinggang gadis itu. Chaerra ikut bergerak pelan, mengangkat bagian tungkak kakinya supaya dapat meningkarkan tangan ke leher Jeiden walaupun pemuda itu sebenarnya sudah merunduk. Ia dapat merasakan dengan pasti tangan besar di belakang ikut menekan pinggangnya pelan, menahan tubuh Chaerra supaya tak terlalu pegal.
”Jawaban gue cuman yes kan?” tanya Chaerra berbisik kecil, menyandarkan dagunya ke bahu lebar Jeiden.
Wajah Jeiden yang sudah mendarat ikut bersandar ke perbatasan bahu dan leher gadis itu bergumam dengan anggukan pelan, mengelus pinggang Chaerra sehalus mungkin.
”Gue gak dapet hadiah apapun setelah jadi anak penurut yang ngomong yes?”
Kekehan pemuda itu terdengar lagi, dengan tubuh pemuda itu yang menegak membuat dagu Chaerra beranjak turun. Chaerra mengembungkan pipinya pelan, tetap menahan leher Jeiden sebisa mungkin dengan tangannya supaya pemuda itu tak bergerak lebih jauh. Sebelah tangan pemuda itu yang masih bertahan di masing-masing sisi pinggang Chaerra perlahan naik menggapai pipi di hadapannya dengan senyum kecil.
”Enggak ada,” jawab Jeiden ringan, ”just kiss.“
Berikutnya Chaerra tak dapat merespons karena wajah tampan di hadapannya sudah melesat miring menjemput bibirnya selain dengan tangan yang masih melingkar di leher Jeiden. Tangan pemuda itu sudah bergerak semakin ke belakang, menggapai tengkuk Chaerra dan menekan di sana membuat sensasi di bibirnya semakin penuh. Gerakan Jeiden yang semula begitu lembut lama-kelamaan jadi begitu menuntut, mengigit sisi bawah bibir Chaerra membuat desisan terdengar pelan.
“Buka bibir lo,” minta Jeiden pelan karena gadis itu mengulum kembali bibirnya rapat.
Kepala Chaerra bergerak menggeleng pelan. ”Bau rokok.”
Jeiden jadi menyeringai kecil, menarik kencang pinggang gadis itu membuat tubuh dihadapannya jadi tersentak makin maju merapat dengan tubuhnya. Seluruh anggota badan Chaerra rasanya membeku, merinding begitu saja begitu wajah Jeiden bergerak turun beralih ke lehernya. Angin malam semakin menambah suasana jadi buruk, memberikan kesan menggigil bagi Chaerra yang membuat otak gadis itu makin berhenti bekerja.
”Rilex, Babe,” bisik Jeiden pelan.
Chaerra memejamkan matanya merasakan hembusan hangat nafas pemuda itu di kulit lehernya. ”Lo gak kedinginan?” tanya gadis itu mencicit kecil, mengingat jika pemuda di hadapannya ini hanya mengenakan kaos singlet.
”Lo mau pindah mobil?“ balas Jeiden pelan.
Kepala gadis itu menggeleng cepat. ”Selesaiin di sini! Gue mau tidur di mobil nanti.”
Berikutnya suara rintihan Chaerra menyusul akibat sisi leher dalamnya tanpa aba-aba dihisap kuat. Tangan gadis itu yang melingkar di leher Jeiden naik untuk mencengkeram erat rambut tebal pemuda itu dengan kedua sisi bibir mengatup sempurna menahan suara rintihan apapun. Chaerra dapat merasakan punggungnya yang terasa sedikit kebas masih dielus oleh tangan Jeiden.
”Capek?” tanya Jeiden berbisik kecil, semakin merunduk membawa bahu Chaerra supaya menurun. ”Gak usah jinjit.”
”Udah?”
Jeiden mengangguk, tapi tak berniat menyingkirkan wajahnya dari leher gadis itu. ”Hari ini hadiahnya ini dulu, besok pilih sendiri hadiah yang lo mau.”
”Mobil?“ tanya Chaerra bergerak mundur, mendorong tubuh Jeiden cukup kuat supaya pemuda itu melepaskan dirinya. ”Gue mau barang mahal.”
Dengan terpaksa Jeiden menegakkan tubuhnya, tertawa kecil pada permintaan gadis itu. Tangan Jeiden kembali terulur maju, menggapai ujung kepala Chaerra dan mengacak rambut gadis itu membuat suara protes segera terdengar. Wajah gadis itu yang kembali mengerut dengan pipi mengembung membuat senyum Jeiden makin lebar dengan tatapan hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi... Boyfriend
FanfictionJeiden & Chaerra from Win Crown Lebih baik baca Win Crown dulu, tapi kalau mau langsung baca ini juga gak papa :) Rated: 17+ . . . . . Bagaimana jika gadis yang mendapatkan julukan Singa IPA bertemu dengan pemuda dengan julukan Idol Boy School di da...
