Mata bulat Chaerra mengerjap, hampir tak mempercayai pandangan yang ditangkap oleh retinanya. Gadis itu meneguk ludah pelan, menolehkan wajah pada Senya yang merekah dengan senyum mengembang tanpa rasa bersalah. Mata Chaerra tanpa sadar terpejam dengan helaan nafas panjang, padahal gadis di hadapannya itu bilang jika dia tidak punya teman dan itu sebabnya Chaerra ada di sini.
Tapi apa ini? Kenapa jadi ada William dan Jeiden? Chaerra jelas tak dapat menyembunyikan respons tubuhnya yang langsung membeku di tempat, hampir menjatuhkan dua popcorn di tangannya. Setelah melakukan pengambilan oksigen panjang, kedua sudut bibir Chaerra dengan pasti tertarik, tersenyum lebar. Apapun yang terjadi, ia hanya perlu bersikap biasa saja, seolah tidak pernah ada apapun dan hal apapun di antara mereka semua.
Senya dan William berpacaran, serta Chaerra dan Jeiden yang akan mengekor pada keduanya seperti minggu-minggu sebelum ini. Yah, Chaerra hanya perlu membuang perasaan bodohnya sejauh mungkin, menganggap Jeiden seperti teman laki-laki pada umumnya. Mereka bukan siapa-siapa, dan memang tak seharusnya menjadi siapa-siapa bagi satu sama lain.
”Udah dapet tiketnya?” tanya Chaerra melangkah mendekat, dengan suara dibuat setenang mungkin mengulurkan satu bungkus popcorn.
Rambut sebahu Senya bergerak seirama begitu kepala gadis itu mengangguk. ”Udah. Makasih, Chaerra.”
”Hm,” gumam Chaerra mengangguk tenang, ”ayok masuk.”
”Bentar, gue bagiin tiketnya dulu,” kata Senya bersemangat, ”eh, tapi kita agak jauhan seat duduknya.”
Yah, memang biasanya juga seperti itu. Chaerra tak begitu terkejut ketika ia menerima satu lembar kertas dari Senya, memandang kertas itu dengan deru nafas pelan mencoba sabar. Oke, ini sudah biasa terjadi dan yang harus Chaerra lakukan hanya bersikap seperti biasanya.
”Oke, udah ya? Ayok masuk.”
Setelah dengan semangat empat lima mengulurkan seluruh tiket, tubuh mungil Senya dengan cepat meraih tangan William. Sepasang kekasih yang saling melemparkan senyum hangat untuk satu sama lain itu lebih dulu berlalu, dengan langkah riang layaknya remaja kasmaran pada umumnya. Bahu Chaerra menurun berat, mengulum kedua sudut bibirnya sebelum mengambil langkah. Lagi dan lagi mencoba bersikap biasa saja.
”Chaer.”
Untuk pertama kalinya panggilan dari suara berat serak itu terdengar. Efek yang berikutnya Chaerra terima sungguh tak menyenangkan. Dadanya terasa disayat, dengan punggung yang ditusuk oleh benda tajam. Kepala gadis itu berdenyut, matanya terpejam erat mencoba mencari kesadaran dan kontrol dirinya sebaik mungkin. Menyedihkan sekali, Chaerra Karinda berubah jadi selemah ini hanya karena satu pemuda brengsek yang masuk ke dalam kehidupannya secara tiba-tiba, mengoyak seluruh perasaan Chaerra dan mendapatkan kemenangan.
Jeiden Cakra Adnan berhasil mengalahkannya secara telak dalam hal perasaan.
”Mau beli tiket baru?”
Tawaran itu keluar begitu saja, secara spontan dan tak dapat Jeiden tahan. Dalam hati pemuda itu sudah merutuk, mengumpat pada dirinya sendiri yang tak tahan melihat respons Chaerra begitu tak nyaman. Mungkin Jeiden berharap mereka memang memiliki waktu berdua, tapi tidak secepat sekarang ini apalagi pemuda itu belum tau letak kesalahannya di mana sampai Chaerra bertingkah tidak jelas seperti ini.
”Gak usah, ngapain?”
”Kalau lo gak mau duduk sama gue-”
”Kenapa gue gak mau duduk sama lo?” tanya Chaerra berbalik, wajahnya masih menunjukkan ekspresi angkuh dan tajam. ”Gue gak merasa punya masalah sama lo sampai gak mau duduk sama lo."
Ekspresi wajah Jeiden yang semula sedikit melunak perlahan ikut menajam. Sebelah alis tebal pemuda itu terangkat dengan wajah bergerak agak miring mengawasi Chaerra dengan tatapan paling rendah. ”Gak punya masalah?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi... Boyfriend
FanfictionJeiden & Chaerra from Win Crown Lebih baik baca Win Crown dulu, tapi kalau mau langsung baca ini juga gak papa :) Rated: 17+ . . . . . Bagaimana jika gadis yang mendapatkan julukan Singa IPA bertemu dengan pemuda dengan julukan Idol Boy School di da...
