Tubuh Chaerra tak bisa tenang sejak tadi, bergerak tak nyaman dengan mata yang terus melirik ke sisi kirinya. Gadis itu dibuat makin berdecak pada dua sosok laki-laki dari kesalnya, Rendra dan Haikal yang sejak tadi sudah bolak-balik mengintip penasaran membuat pemandangan jendela yang berada di hadapan Chaerra semakin memuakkan. Gadis itu seolah ingin bangkit, membuka jendela lalu berteriak pada keduanya untuk duduk diam di dalam daripada merusak pemandangan yang mengarah langsung ke taman belakang.
Kakinya sejak tadi sudah menahan untuk tak beranjak, mencoba fokus pada bacaannya walaupun sudah begitu ingin berganti tempat. Jeiden di sisinya juga tak membuat suasana lebih baik walaupun pemuda itu benar-benar diam, menepati kalimatnya sebelum mengekor pada Chaerra menuju perpustakaan. Pemuda itu malah lebih berminat ke arah buku, fokus membolak-balikkan kertas komik daripada memperhatikan sekeliling.
"Lo kenapa sih?" tanya Chaerra tak tahan lagi. "Ini baru hari pertama masuk semester dua lo jangan bikin gue tambah gila deh, Jei."
Jeiden mendongak, mata pemuda itu jadi mengerjap polos. "Gue baca."
"Ya lo ngapain baca?"
"Untuk menambah pengetahuan dan wawasan," ujar pemuda itu masih dengan nada sok lugu, "Yoga sering banget ngomongin dongeng."
"Yang lo baca itu komik," balas Chaerra malas, masih dengan suara paling tenang yang bisa ia keluarkan, "lo kalau mau baca dongeng di Google banyak."
"Terus kenapa sih?" tanya pemuda itu menurunkan buku di tangannya. "Emang yang boleh ke perpus lo doang? Yang bayar duit tahunan lo doang? Yang berhak nikmati fasilitas buku lo doang?"
"Masalahnya lo duduk samping gue," bentak Chaerra tertahan gemas.
"Lo tinggal minggir aja sih kalau gak mau duduk samping gue."
"Oke, awas lo ngekor!" ancam Chaerra bangkit, memandang Jeiden memperingati. "Anteng di sini aja lo pokoknya!"
Chaerra mengganti tempat duduknya di bagian yang cukup jauh, di sudut paling berseberangan dengan tempat Jeiden. Gadis itu sebenernya tak memiliki niat membaca buku, ia datang ke perpustakaan hanya untuk tidur. Matanya terasa berat dengan rasa kantuk yang tak dapat Chaerra Sembuntukan akibat gadis itu hampir tak tidur semalaman.
Suara serak, berat, dan lemas Jeiden masih terngiang-ngiang jelas dalam otaknya. Membentuk putaran cincin yang memaksa Chaerra untuk terjaga sepenuhnya. Kalimat pemuda itu seolah menusuk, memaksa ingatan Chaerra berputar pada pertemuan mereka di mana sejujurnya benar-benar masih banyak bangku yang kosong selain bangku paling depan di sisi Chaerra.
Tapi Chaerra juga masih ingat bagaimana Jeiden langsung menggoda Arina tepat di hari pertama yang kebetulan juga duduk sejajar dengan pemuda itu, membuat kalimat Jeiden tak bisa dipercaya sepenuhnya.
"Gue baru inget deh, Chaer."
Chaerra hampir menjerit begitu tubuh Jeiden tiba-tiba sudah kembali duduk di hadapannya, ikut merebahkan kepala berhadapan dengan gadis itu. Padahal baru beberapa saat Chaerra dapat memejamkan mata sempurna, tapi ia harus dipaksa membuka kelopak mata kembali. Namun berikutnya, gadis itu harus dibuat terpana pada wajah Jeiden yang sudah begitu dekat, dengan tatapan lugu dan wajah polos yang pemuda itu tunjukkan sejak tadi.
"Gu mau tanya. Tadi malem, kita telfonan bahas apa?"
Suara Jeiden terdengar begitu ringan, tapi ada jeda cukup panjang antara satu kalimat dengan kalimat berikutnya yang menandakan pertanyaan pemuda itu bukan sebuah pertanyaan spontan. Hal itu tanpa sadar membuat Chaerra tersadar, segera bangun dari posisinya saat ini yang bisa membuat siapa saja salah paham. Gadis itu jadi bergerak kaku, tak bisa mengontrol ekspresi wajah dan respons tubuhnya yang tiba-tiba khawatir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi... Boyfriend
FanficJeiden & Chaerra from Win Crown Lebih baik baca Win Crown dulu, tapi kalau mau langsung baca ini juga gak papa :) Rated: 17+ . . . . . Bagaimana jika gadis yang mendapatkan julukan Singa IPA bertemu dengan pemuda dengan julukan Idol Boy School di da...
