Chaerra keluar dari kamarnya dengan wajah merekah. Tubuh jenjangnya dibalut kaos putih crop fitt body dengan gambar dinosaurus berwarna hijau dan celana kulot jeans panjang yang membuat efek tubuhnya jauh lebih tinggi. Dengan langkah meloncat-loncat kecil dan nyanyian asal, gadis itu menunjukkan ekspresi antusias dan bersemangat.
Mata gadis itu yang semula fokus pada satu persatu anak tangga perlahan naik begitu mencapai anak tangga terakhir. Respons berikutnya dari gadis itu berbanding terbalik dengan semangatnya tadi. Senyum Chaerra luntur, garis matanya menurun dengan bibir terbuka kecil, kakinya yang meloncat-loncat layaknya kelinci sejak tadi membantu begitu saja hanya karena indra penglihatannya kini menangkap sosok pemuda yang sudah tidak asing lagi tengah duduk santai di sofa ruang keluarganya menggulir layar ponsel.
”Lo?”
Suara keras Chaerra membuat bola mata Jeiden terangkat, dengan senyum miring menyusul. ”Hai.”
Wajah Chaerra sudah mengeruh, dengan umpatan tertahan yang gadis itu tujukan untuk sosok di hadapannya. ”Ngapain lo di sini?“
”Jemput lo,” jawa Jeiden masih santai, menunjukkan layar ponselnya, ”lihat, lo yang nelfonin gue.”
”Gue chat minta tolong buat jemput Xafier,” kata Chaerra gemas juga kesal, ”gue nelfonon lo mau mastiin lo beneran jemput Xafier. Gak ada satu kata pun yang bilang biar lo mampir sini, bisa baca gak sih?”
”Ganti baju deh Chaer,” ujar Jeiden tiba-tiba tidak peduli masih sangat santi, ”baju lo susah buat gerak tuh, sesek banget kayaknya.”
”Ini fitt body,” balas Chaerra makin galak, ”lagian bahannya lentur, gue pakai gerak gimana pun kainnya ngikut,” lanjut gadis itu memperagakan, bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya senam.
Jeiden terkekeh kecil, mematikan layar ponselnya untuk fokus pada Chaerra. ”Tetep aja ganti baju, malem-malem pakai kayak gitu masuk angin entar lo. Badan lo kan spek-spek nenek panti jompo.”
Hembusan nafa panjang melalui mulut yang gadis itu lakukan sudah cukup jadi tanda jika kesabarannya habis. Tubuh Chaerra berbalik, menghentak-hentakkan kakinya kasar menaiki tangga secara tidak santai. Tubuh Chaerra kembali hanya dalam beberapa detik, kali ini dengan kaos merah yang sedikit lebih longgar untuk tubuhnya.
”Jangan pakai warna merah deh,“ celetuk Jeiden belum puas, “warna kulit lo makin terang pakai merah.”
Chaerra melirik tajam. ”Bagus dong, kan warna kulit gue pucet.”
”Pucet lo keputihan anjir, lo pakai merah malah kayak iparan sama kain kafan,“ balas Jeiden untuk pertama kalinya ikut tak santai, “pakai baju warna abu-abu, atau warna apa yang gak bikin kulit lo nusuk mata gitu lho.”
”Mata lo sini biar sekalian gue tusuk!“
Walaupun sempat menggeruru kecil, gadis itu tetap kembali berbalik. Langkah kakinya yang mengenakan sneakers putih masih mwnghentak-hentak tak santai, ekor matanya masih melirik memperingati Jeiden yang juga ikut memandang kepergian tubuh gadis itu untuk kembali naik. Seperti permintaan Jeiden, tubuh Chaerra turun kembali dengan kaos abu-abu yang dimasukkan ke dalam cenala jens kulotnya.
”Udah nih, puas mata lo?”
Suara tak santai gadis itu segera menusuk Jeiden begitu tubuh Chaerra melewatinya, melenggang pergi lebih dulu membiarkanmu Jeiden yang mengekor. Masih dengan langkah menghentak-hentak, pipi menggenbung, dan garis mata naik lucu membuat Jeiden harus menahan tawa supaya tak semakin kena semprot. Rambut Chaerra yang sudah mulai agak panjang dicurly, semakin memberikan efek lucu dan menggemaskan bagi wajah bulat ovalnya yang tampak membengkak akibat kesal.
”Yang ngide nonton siapa, Chaer?” tanya Jeiden mencoba mengisi obrolan.
”Hessa.”
Nada suara Chaerra masih menyentak tak santai, dengan wajah gadis itu yang melengos ke arah jalanan. Jeiden makin menahan bibirnya supaya tidak tersenyum atau membuat gadis di sisinya makin sebal. Perjalanan mereka menuju rumah Xafier hanya diisi oleh suara musik dengan Chaerra yang terus menggulir layar ponsel seolah menganggap tidak ada lagi sosok lain di dalam mobil selain gadis itu sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi... Boyfriend
FanfictionJeiden & Chaerra from Win Crown Lebih baik baca Win Crown dulu, tapi kalau mau langsung baca ini juga gak papa :) Rated: 17+ . . . . . Bagaimana jika gadis yang mendapatkan julukan Singa IPA bertemu dengan pemuda dengan julukan Idol Boy School di da...
