28. Status and Kiss

242 15 3
                                        

”Badan lo kurusan gak sih?”

Jeiden tak dapat menahan bibirnya untuk tak berkomentar. Pemuda itu yang sejak tadi dibuat gagal fokus pada kaki putih Chaerra menyeletuk begitu saja, tak peduli jika gadis di hadapannya sudah benar-benar berada di tingkat rasa kesal tertinggi. Ia dengan ringan mengambil apel dari salah satu keranjang buah yang baru saja diambil dari kulkas, berdiri menyandarkan punggung ke meja dapur menatap ke arah Chaerra yang tengah memunggunginya menghadap meja dapur yang lain.

Suara helaan nafas terdengar panjang, dengan suara blender yang berikutnya menyusul. Setelah dibuat terjebak bersama satu manusia yang paling ia hindari, Chaerra harus rela berlama-lama di dapur akibat banyak temannya yang tidak tau diri. Bisa-bisanya Chacha minta dibawakan jus alpukat dan Arina yang tak ingin kalah segera mengirim pesan padanya minta milk stroberi.

”Kaki lo makin keliatan gak ada dagingnya.”

Jeiden jelas dapat melihat perbedaan bentuk tubuh gadis itu yang tampak terlihat kurus daripada terakhir Chaerra menggunakan pakaian terbuka. Kaki gadis itu lebih ramping memberikan efek semakin jenjang untuk kakinya. Ditambah dress biru yang Chaerra gunakan malam ini hanya sebatas setengah paha dengan karet yang menunjukkan jelas lingkar kecil di pinggangnya.

”Beneran turun ya, Chaer?”

Suara helaan nafas terdengar setelah Chaerra menuangkan jus terakhir yang ia buat. Tubuh gadis itu perlahan berbalik dengan wajah malas. ”Serius deh, hidup lo tuh kalau gak komentar muluk apa langsung miskin? Gue gendutan salah, gue kurusan salah, terus lo mau gue gimana?”

”Siapa yang bilang lo gendutan salah?“

Nada bicara Jeiden yang semula terdengar lembeng dan hanya mencibir kecil jadi segera terdengar tajam. Tatapan mata pemuda itu juga spontan naik, memandang Chaerra dengan garis wajah sedikit mengeras. Pemuda itu segera menunjukkan nuansa tak menyenangkan hanya dalam beberapa detik, membuat Chaerra jadi meringsut kecil tanpa sadar.

”Siapa yang bilang salah kalau lo gendutan?” Jeiden mengulang pertanyaan setelah mendapati respons gadis itu yang tak memberikannya jawaban. ”Gue tanya, Chaerra.”

”Lo!” bentak Chaerra kasar, mendapatkan keberaniannya setelah nada suara Jeiden kembali memelan. ”Lo kan yang selalu komentar tentang badan gue! Gendut lah! Bongsor lah! Gue gak cocok pakai baju lucu karena badan gue gede lah! Apa lah! Gue emang sengaja diet buat kurusan! Kenapa? Masalah buat lo?”

Garis muka Jeiden kembali berubah, sedikit naik serius. ”Lo masukin ke hati?”

”Gue cewek, anjir,” umpat Chaerra tak tahan lagi, ”gue cewek, Jeiden, cewek! Lo harusnya paham dong omongan apa aja yang bisa-”

”Enggak, gue gak paham.” Jeiden menyela cepat, menegakkan punggungnya untuk melangkah maju. ”Gue tau lo cewek, sadar 100% lo cewek tulen. Tapi apa hubungannya sama candaan-”

”Lo pikir omongan sampah lo tuh-”

”Mulut lo juga gak kalah sampah ya bangsat!”

Chaerra mengumpat dengan suara tertahan, langsung membalikkan badan kembali menata gelas jus di nampan. Gadis itu mengatupkan kedua bibirnya tak berniat membalas akibat kepalanya yang sudah terasa ingin pecah hanya untuk menghadapi sosok dari kelasnya itu. Terkadang Chaerra benar-benar merasa Jeiden melupakan jika dirinya masih seorang perempuan, yang sensitif pada pembahasan mengenai wajah dan bentuk tubuh. Pemuda itu seolah memilih tak peduli, menjadikan dua hal itu sebagai candaan untuk terus menganggu Chaerra.

Apalagi pemuda itu berakting dengan begitu hebat di depan umum seolah keduanya memang tak pernah punya hubungan apapun. Atau mungkin sebenarnya mereka memang tak pernah terlibat dalam hubungan apapun?

Hi... BoyfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang