15. Pengakuan

175 17 1
                                        

”Kayaknya, gue suka deh sama Chaerra.”

William tersedak udara yang baru saja ia hirup, melirik aneh pada sumber suara yang masih duduk santai tanpa menoleh. Ia yang sudah tiduran bersandar jadi bergerak ke sisi ranjang, duduk tegap dengan pandangan aneh. Wajah dengan garis rahang tegas itu jelas mengerut, antara bingung juga heran.

”Gimana?”

Jeiden melirik, membuang sisa putung rokoknya ke asbak yang ada di meja. ”Gak jadi.”

”Enggak enggak, gue tadi udah denger.” William menye cepat. ”Tapi gue pengen lo replay.”

”Gak ada siaran ulang.”

William berdecak kecewa, bangun untuk duduk di sofa yang berhadapan dengan Jeiden. Cowok dengan tubuh yang lebih bongsor daripada Jeiden itu menyahut rokok di meja, menyalakannya sebelum ia apit ke dua sisi bibir tebalnya. Mata tajam William masih fokus, memandang tak santai pemuda yang jauh lebih tinggi daripada dirinya di depan sana sudah memainkan ponsel, terlihat tak peduli.

”Lo kehabisan stock cewek?”

Mata Jeiden yang tak kalah tajam sedikit naik. ”Gue malah niatnya mau deketin Yunka.”

”Terus?”

”Kecantol sama emaknya bangsat!”

Suara tawa terdengar menggelegar keras, dengan tangan besar William yang sudah sibuk menepuk-nepuk sofa heboh sendiri. Jeiden semakin melirik tak santai, membuang nafas berat dengan kepala bersandar pada punggung sofa malas. Pemuda itu ingin kembali menyahut batang rokok untuk sekedar menjernihkan pikirannya yang sedikit gila seminggu terakhir ini.

Jeiden jadi sering tersenyum tanpa sebab hanya karena ingat adegan saling mengumpat dengan Chaerra, atau hanya dengan melihat gadis itu di bangkunya yang kadang sibuk dikerumuni anak-anak lain, melihat gadis itu mengomel pada siapa pun.

Bagaimana bisa ada gadis sedominan itu yang tak takut pada apapun?

”Karma lo dibayar tuntas pakai Chaerra kayaknya," kekeh pemuda itu masih belum berhenti, ”kok bisa?”

Mata Jeiden makin melirik dengan sebuah decakan menyesal. ”Diem aja! Gue juga diem waktu tau lo suka sama Senya!”

”Lah, gue mah udah jadi,” ujar William bangga dengan nada merendahkan, ”lo sih udah jelas gak bakal jadinya.“

Untuk kedua kalinya decakan menyesal keluar dari bibir Jeiden. Semula pemuda itu berpikir tidak masalah, toh memang perasaan seperti itu pasti wajar dan akan pudar seiring waktu. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia pikir serius. Tapi setelah mengatakannya pada William, Jeiden merasa sedikit berbeda, seolah ada yang menyayat tepat pada kepala dan jantungnya.

“Anjir, kok bisa gue mikir gue suka sama tuh cewek?” umpat pemuda itu pada dirinya sendiri, mengacak rambutnya asal.

William mencoba menahan tawanya supaya dapat bicara serius. ”Tapi emang sejak masuk semester dua, semingguan ini lo jadi sering mancing-mancing Chaerra sih.”

”Gue sama cewek lain juga gitu.”

”Sebelumnya kan lo sama Chaerra gak berani,” timpal William cepat, ”tapi akhir-akhir lo keliatan banget menelin dia.“

”Masak?” tanya Jeiden tak yakin. ”Enggak ah, lo aja yang lebay.”

”Dih, dikasih tau gak percaya ya udah.“

Jeiden tak berani menimpali lagi, berpikir ulang bagaimana sikapnya pada Chaerra selama semester satu. Tatapan nyalang yang gadis itu tunjukkan sejak awal sudah menjadi banteng tersendiri yang membuat Jeiden tak berani menganggu gadis itu walau Chaerra berada tepat di sisinya saat awal masuk kelas XI-IPA5. Lalu berikutnya, Jeiden hanya akan melakukan tindakan-tindakan secara tidak langsung yang membuat Chaerra menegur tanpa berani menganggu gadis itu blak-blakan.

Tapi akhir-akhir ini, seperti yang dikatakan William, Jeiden memang kerak kali datang sendiri ke hadapan Chaerra untuk dimaki-maki gadis itu. Karena sekarang ini, Chaerra Karinda tak cukup menakutkan bagi dirinya, dan tak lebih dari gadis lucu yang memiliki mood PMS 24/7 yang suka mengamuk. Wajah bulat lonjong gadis itu akan memerah, dengan pipi berisi yang semakin menggembung setiap kali marah.

Membayangkan Chaerra saja sudah dapat membuat senyum Jeiden tanpa sadar muncul.

”Orang gila,“ cibir William memandang pemuda di hadapannya yang sudah tidak jelas.

Senyum Jeiden berubah jadi tawa dengan mata tajam pemuda itu yang masih menggulir layar ponsel, memandang room chatnya dengan Chaerra yang sesungguhnya tidak begitu penting. Rata-rata hanya diisi oleh Jeiden yang memanggil nama gadis itu, lalu dibiarkan hanya dengan tanda centang biru saja tanpa ada balasan.

”Apa gue telfon aja ya?”

”Beneran udah suka lo?” tanya William sedikit menaikkan suara. ”Anjir, kok bisa?“

”Gak tau,” balas Jeiden ringan, “paling lagi ngerasa seru aja sama tuh anak, bentar lagi juga pasti udah bosen.”

”Gue awalnya gitu sama Senya, entar jilat ludah sendiri,” cibir William menghembuskan asap rokoknya, ”beneran bakal karma dibayar dituntas.”

Suara notifikasi ponsel Jeiden membuat senyum cowok itu makin mengembang. Apalagi pesan baru muncul di bagian paling bawah dari room chat yang tengah ia gulir tadi. William dibuat makin mengernyit atas tingkah pemuda itu yang tidak jelas, mencibir kecil dengan gerutuan tak jelas.

”Lihat, dia masih butuh gue,” katanya bangga, “bukan karma sih, emang gue sama Chaerra lagi simbiosis mutualisme aja.“

Chaerra

Besok minta tolong jemputin Xafier, gue mau nonton tuh anak ngerengek ikut tapi gak mau berangkat sendiri.

”Padahal Chaerra nganggep lo gak lebih dari sopir,” nyinyir cowok itu berlebihan.

”Ya gak papa, gue juga cuman nganggep dia gak lebih dari alat doang.“

William terkekeh ringan. ”Kalau lo beneran sampai suka, gue ketawain pakai speaker OSIS.”

”Ketawa aja,” gumam Jeiden pelan, sangat pelan yang hanya terdengar seperti gerutuan tidak jelas, ”orang udah beneran suka.”

Jeiden sedikit menendang kaki meja, membuat William mengumpat akibat pinggiran meja yang mengenai lututnya. Si pelaku hanya tertawa pelan, bangkit dari duduknya sembari mengambil satu batang rokok lagi. Tubuh tinggi itu berjalan pelan menuju balkon, dengan pemandangan lapangan luas dan hamparan langit gelap yang bisa langsung Jeiden tangkap dari bagian luar apartemennya.

Warna merah langsung menyala begitu ia menyalakan korek api untuk membakar bagian ujung batang rokok yang sudah ia apil di bibirnya, dengan mata pemuda itu yang memandang jauh. Karmanya benar-benar dibayar tuntas hanya karena melibatkan gadis itu dalam hidupnya. Gadis yang harusnya sejak awal Jeiden tau akan begitu kuat dan akan dengan mudah membuatnya jatuh begitu dalam.

Chaerra Karinda benar-benar bukan sosok gadis yang bisa ia ajak main-main.

Jeiden

Coba lo ngomong lewat telfon.

Setelah mengirimkan pesan itu, dan tau hanya akan ada tanda dibaca tanpa respons lebih lanjut, pemuda itu melempar ponselnya ke kursi yang ada di bagian sudut balkon. Tubuh tingginya sedikit merindukan, menyandarkan kedua tangannya ke pinggiran balkon dengan helaan nafas panjang. Asap rekok mengebul memenuhi wajah Jeiden, menyembunyikan ekspresi pemuda itu yang sudah berkerut kecil.

Chaerra jelas berbohong mengenai apa yang Jeiden katakan ketika pemuda itu mabuk. Gadis itu bukan gadis bodoh sampai tidak tau jika Jeiden sudah menaruh rasa sejak minggu lalu... atau bahkan rasa yang sebenernya sudah ada sejak lama.

Hi... BoyfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang