10. Pertemuan Kedua

153 20 1
                                        

Sejak pertemuan pertama mereka, Chaerra tau pandangan dari wanita setengah baya di hadapannya bukan tatapan dingin seperti yang ia terima dari ayah Jeiden. Itu tatapan dalam yang tertarik. Kondisi sehat bugar dan masih muda untuk seseorang yang telah memiliki cucu berusia 18 tahun membuat Chaerra yakin jika tradisi menikah muda sudah ada sejak lama di keluarga pemuda itu. Neneknya baru berusia 61 tahun, orang tua Jeiden masih tampak muda dengan kisaran usia awal kepala empat, secara tidak langsung memang usia rata-rata pernikahan di keluarga ini berada di angka dua puluh tahun.

Pantas saja pemuda itu sudah dicarikan tunangan di usia sekarang.

”Gak suka sama makanannya, Chaerra?”

Chaerra tersentak, kakinya ikut diinjak pelan oleh Jeiden yang duduk tegap di sisinya. Gadis itu merasa sedikit aneh dengan nuansa ini, seolah keduanya tengah meminta restu untuk menikah atau sekedar mengucapkan janji suci di hadapan tetua rumah mereka. Benar-benar canggung, tapi tak bisa dikatakan dingin.

”Suka kok, Oma,” jawab Chaerra terbata, ”tadi Jeiden ngabarinnya mendadak, jadi aku udah makan malam duluan di rumah. Maaf ya, Oma, kalau gak bisa ngabisin.”

”Jangan dipaksa, singkirin aja singkirin,” balas wanita paruh baya tenang, tak terdengar menyindir sama sekali.

Tangan Jeiden dengan cepat terulur, mengangkat piring di hadapan Chaerra yang masih utuh. Pemuda itu dengan telaten mengganti benda itu dengan piring puding sebagai penutup, menyiapkan seluruh hal yang dirasa perlu dilakukan Chaerra dengan heboh sendiri.

Pilar-pilar besar dengan warna merah dan emas yang mendominasi membuat ruangan ini punya nuansa Chinese kental. Jeiden bilang ini rumah yang keluarga pemuda itu beli untuk ditinggali satu orang paruh baya yang kini hidup sendiri. Ya, hanya untuk ditinggali satu orang dan sudah sebesar istana.

Lalu bagaimana penampakan rumah pemuda itu yang ia tempati sekarang? Di pertemuan pertama, Chaerra juga di bawa ke sini, begitu pula kali ini. Gadis itu belum benar-benar tau bagaimana dan rumah yang ditempati Jeiden selain apartemen pemuda itu yang kerap kali jadi basecamp anak-anak XI-IPA5 selain rumah Hessa.

”Ini pertama kalinya Oma ngomong sama kamu kan ya?” tanya wanita itu sembari menaikkan sebelah tangan, mempersilahkan beberapa pelayan yang menunggu di sisi-sisi meja bergerak cepat membersihkan meja. ”Sebelumnya, kamu udah keburu emosi sama ayah Jeiden.”

Chaerra tertawa. Bukan tawa puas melainkan tawa canggung dan kaku. ”Maaf, Oma.”

Wanita yang jelas masih menunjukkan garis wajah ayu dan wajah elegant itu ikut tertawa pelan. ”Gak papa, Oma kalau jadi kamu juga bakal marah.”

Jeiden yang sejak tadi hanya melirik pada Chaerra dengan bosan maju, menarik tangan gadis itu yang terus menerus meremas bagian dress di pahanya. Kain yang semula begitu rapi dengan kesan formal tersebut langsung berubah jadi kain lusuh hanya kerena penggunanya yang kurang kerjaan.

”Berapa kali gue bilang, gak bakal ada yang nembak kepala lo kalau lo ngomong,” bisik pemuda itu mengunci pergerakan tangan Chaerra di genggamannya, ”santai, Chaer, santai. Biasa aja, sikap lo yang biasanya udah bikin semua orang jatuh cinta.”

Mata Chaerra naik, melirik sinis ke arah Jeiden. ”Lo ngomong gampang anjing, lo di keluarga gue diterima banget. Gue tiap di keluarga lo udah kayak kena sidang.”

”Simulasi ngajuin dispensasi nikah kalau lo mau nikah muda.”

Kaki Chaerra bergerak maju, menginjak kaki Jeiden pelan karena sadar ia mengenakan high heels membuat pemuda itu hanya memekik pelan terkejut. Chaerra menarik kembali jari-jemarinya, menepis tangan Jeiden supaya memberikan mereka jarak. Pemuda itu yang menggeser kursi untuk terus mendekat ke arah Chaerra membuat tubuh gadis itu semakin menerima respons tak menyenangkan.

Hi... BoyfriendCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang