Epilog: To the Class

318 21 23
                                        

”Kamu ada cewek lain atau masih sama Chaerra?”

”Masih sama Chaerra,” jawab Jeiden ringan tanpa pikir panjang, mengambil tempat duduk, ”udah official malah,” lanjutnya bangga dan congkak.

Sean menggeleng kecil. ”Ngapain aja semalem?”

Jeiden jadi menoleh aneh, memandang sang ayah tajam. Pemuda itu menggerakkan kepala perlahan ke arah dapur di mana sang ibu masih sibuk menyiapkan sarapan. Tatapan jadi semakin sinis pada Sean, bergerak menggeser kursi mendekat, memastikan suaranya sekecil mungkin.

”Ayah masih nyuruh orang buat ngikutin aku ya?” tuduh Jeiden dingin.

”Enggak.”

”Terus tau dari mana aku semalem sama Chaerra?" tanya Jeiden makin aneh.

Sean yang sejak awal sudah tak berniat menoleh jadi melirik malas. ”Mending kamu ngaca terus liat leher kamu sebelum Mama lihat dan langsung lempar piring ke kamu.”

Mata Jeiden yang tak terlalu lebar jadi melotot kecil, beranjak kembali dari Ruang Makan cepat. Pemuda itu kembali menaiki tangga menuju kamarnya, benar-benar melakukan instruksi yang ayahnya berikan walaupun setelah itu jadi menyesal turun dengan tergesa dan tak melihat penampilannya lebih dulu tadi. Jeiden jadi mengumpat kecil, melihat tanda kemerahan di bagian lehernya yang baru terlihat jelas. Padahal semalam Jeiden pikir akan gagal total dan tak memberikan efek apapun karena Chaerra tak dapat menghisap dengan benar.

Ia jadi sedikit kesal karena gadis itu tak mau mendaratkan ciumannya ke bagian dalam saja, dan malah di sisi depan dekat dengan jakun. Mau tak mau ia harus mengambil hansaplast, meletakkan benda lengket itu ke bagian kemerahan yang tampak kecil dan masih sedikit abstrak di lehernya. Tidak nyaman, tapi akan lebih tidak nyaman lagi jika orang lain melihatnya.

”Kamu udah mau sekolah?” tanya Erin begitu mendapati Jeiden menuruni tangga. ”Gak sekalian hari Senin aja?”

”Mau ngumpulin tugas minggu ini,” ujar Jeiden mencoba setenang mungkin meski sadar tatapan sang ayah masih begitu tajam padanya. ”Mama udah siapin pesenan aku?”

”Udah, bentar lagi sampai,” jawab wanita dengan garis wajah elegant itu pelan, ”buat Chaerra ya?”

Jeiden mengangguk, tak berniat duduk sama sekali. ”Satu paket kan?”

”Iya. Lagian kamu yakin merk make up-nya?”

”Iya, bedaknya ketinggalan di mobil. Tapi aku gak tanya sih dia pakai satu paket atau tiap barang beda merk.”

”Kamu tuh udah serius banget sama dia?” tanya Sean heran, hampir tak pernah melihat putra semata wayang di keluarga ini jadi setertarik itu.

Jeiden menoleh malas, jadi tak lagi menunjukkan wajah antusias seperti ketika ia bicara dengan sang ibu. ”Iya. Ayah kalau udah mau punya cucu bilang aja.”

Berikutnya Jeiden merintih refleks dengan pekikan kencang akibat kepala belakangnya dipukul lumayan keras. Pemuda itu merutuk pelan, mendongak dengan tatapan memprotes pada sang ayah yang justru melemparkan pandangan tajam. Beruntung berikutnya suara bel pintu terdengar membuat Jeiden langsung dapat bergegas pergi.

Pemuda itu sempat mengambil bingkisan yang sudah ia minta dari sang ibu untuk dibawa ke sekolah hari ini. Ia tak bisa menjemput Chaerra karena gadis itu menolaknya mentah-mentah, mengatakan pada Jeiden untuk berangkat lebih dulu dan tidak ingin terlihat bersamanya. Selain itu, postingan Instagram terbarunya yang menunjukkan screenshot saat melakukan video call dengan gadis itu sudah menimbulkan notifikasi begitu ramai. Apalagi caption ’say hi to my girlfriend’ yang ia sertakan membuat seluruh media sosialnya jadi diteror terutama oleh anak-anak gadis dari XI-IPA5.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 26, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Hi... BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang