Empat

136K 5.9K 55
                                        

Adeline mengerjapkan matanya, berusaha menjernihkan penglihatannya. Pertama yang dia lihat adalah sebuah kamar, kamar yang sama saat pertama kali dia membuka mata.

Adeline bangkit, menutup mulutnya dan mulai menangis. Dia benar-benar merasa hilang arah, dia benar-benar frustasi dengan apa yang terjadi.

Bagaimana dia bisa terjebak di sini, bahkan yang membuatnya gila adalah tubuh yang dia tempati jelas bukan tubuhnya. Lalu orang-orang itu, sebenanrya kedua orang tuanya ke mana.

"Non Zora!" Adeline mengangkat kepalanya, menatap Bi Nana yang baru saja datang dengan wajah panik saat melihat Zora begitu berantakan.

"Kenapa Non Zora pergi, Non Zora harus banyak istirahat." Bi Nana terlihat begitu khawatir. Tatapannya sama seperti ibunya dulu. Setidaknya dia masih memiliki Bi Nana di sini.

"Aku takut," lirih Adeline menyuarakan isi kepalanya.

"Jangan khawatir, Non. Di sini ada Bibi yang bakal selalu nemenin Non Zora." Bi Nana mengelus bahu Adeline guna menenangkan.

"Ke mana Mama dan Papa Bi?" Zora bertanya penasaran. Sejak dia bangun dia tak melihat kedua orang tua tubuh yang dia tempati ini.

"Non Zora." Bi Nana terlihat begitu sedih.

"Kedua orang tua Non Zora sudah lama meninggal." Zora terkejut, pantas saja.

"Tapi siapa yang bawa aku ke sini, Bi?" tanyanya penasaran. Tak mungkin tiba-tiba dia sampai ke sini sendiri.

"Non Anya yang membantu Non Zora pulang."

"Anya?" Adeline bertanya heran.

"Iya, sepupu Non Zora."

Adeline mengangguk paham. Walau sebenarnya dia masih begitu belum terbiasa dengan nama Zora yang ditujukan untuknya.

"Kalau ketiga orang yang tadi siapa, Bi?" Adeline begitu penasaran dengan tiga orang yang menatapnya penuh kebencian. Seolah Adeline baru saja melakukan hal-hal yang tak dapat mereka maafkan.

"Mereka kakak Non Zora. Ada Den Raffael, Den Mahesa, dan Non Zafia," jelas Bi Nana. Walau sebenarnya Adeline tidak tau yang mana Mahesa dan Raffael.

Sebenarnya Adeline lumayan antusias karena di tubuh ini dia mendapatkan tiga orang saudara, tetapi melihat respons ketiganya sepertinya hubungan mereka kurang baik.

"Aku ada salah sama mereka, Bi?" Adeline bertanya hati-hati.

"Bibi tidak bisa jawab, Non." Adeline mengangguk pasrah. Sepertinya dia harus mencari tau sendiri.

Jangan lupakan juga Adeline akan mencari cara agar bisa kembali ke rumahnya, tetapi Adeline tak tau apakah alasannya dia sampai di sini. Lalu apakah tubuhnya di sana masih hidup, dan bagaimana kedua orang tuanya.

"Non Zora lebih baik istirahat, kesehatan Non Zora belum sepenuhnya pulih." Adeline mengangguk patuh. Langsung merebahkan tubuhnya di sana.

"Semoga cepat sembuh, Non." Adeline tersenyum lebar membalas ucapan Bi Nana. Walau dia tidak mau berada di posisi ini, setidaknya masih ada Bi Nana yang dapat diandalkan.

"Terima kasih, Bi." Bi Nana mengangguk kaku.

Dia merasakan perbedaan dari majikan yang sejak kecil dia rawat itu. Walau Zora terkenal nakal di luar, tetapi Zora selalu bersikap baik kepada Bi Nana. Sejak dulu juga Zora sudah menganggap Bi Nana sebagai pengganti ibunya.

Namun, melihat senyum Zora entah kenapa Bi Nana merasa senyum itu sedikit asing. Walau begitu Bi Nana bersyukurlah Zora sudah semakin pulih walau dengan keadaan yang kurang baik.

***

Seminggu lebih Adeline berada di tempat yang begitu asing ini. Adeline mulai terbiasa dengan sikap orang-orang di rumah ini yang kadang membuat Adeline ingin menangis. Bahkan kadang-kadang Adeline tak dapat menahan diri untuk menangis.

Bagaimana tidak semuanya begitu berbeda. Adeline terbiasa hidup penuh kasih sayang, semua orang memanjakannya dan selalu berusaha membuat Adeline nyaman. Namun, sekarang semuanya berbeda.

Hanya Bi Nana yang bersikap baik, hanya Bi Nana yang berusaha membuat dirinya merasa nyaman. Sedangkan dua orang yang berada di atap yang sama dengannya selalu berusaha menjauhinya.

Seperti saat ini Adeline berusaha membujuk keduanya untuk berangkat bersama ke sekolah, mau bagaimana pun Adeline tak tau di mana dan bagaimana sekolahnya.

"Aku mau ikut kalian!" Adeline atau yang lebih tepatnya sekarang Zora berucap dengan nada tak terbantahkan. Sayangnya sama sekali tak berpengaruh untuk dua orang yang saat ini menatapnya tak peduli.

"Aku gatau di mana sekolahnya, kalau aku diculik gimana?" Raffael berdecih sinis mendengar ucapan Zora.

Sepertinya selain amnesia Zora juga kehilangan otaknya. Selama ini mereka tak sedekat itu. Walau mereka bertiga sedarah, tetapi terada ada tembok besar yang membatasi mereka.

Lalu sekarang Zora dengan seenaknya mendekati mereka, dan bersikap seolah tidak ada apa-apa. Padahal di masa lalu gadis itu memiliki banyak dosa, sehingga kata maaf saja tak pantas untuk gadis itu.

"Gue gak peduli, mati sekalian pun gue enggak peduli!" Zora mengerucuti bibirnya sebal mendengar ucapan kasar dari Raffael.

"Jahat banget ucapannya," protes Zora dengan mata semakin menyendu.

Raffael dan Zafia sama-sama memutar bola mata malas melihat hal itu. Bahkan tanpa perasaan keduanya menaiki mobil dan mulai meninggalkan Zora yang sudah mulai menangis kencang.

"Non Zora!" Bi Nana berlari dengan raut khawatir mendengar suara tangis Zora.

"Non Zora kenapa?" Bi Nana bertanya bingung. Apa lagi saat melihat wajah Zora yang semakin memerah dan gadis itu yang masih sesegukan.

Sungguh ini bukan Zora yang dia kenal. Selama ini Zora selalu bersikap angkuh dan seolah-olah berperan sebagai gadis yang kuat. Namun, kenapa Zora saat ini tanpa malu menangis dengan suara yang cukup kuat.

"Aku ditinggalin, padahal aku gatau sekolahnya di mana!" Zora berteriak kesal dengan wajah menunjukkan penuh kekesalan.

"Sudah, Non Zora diantar supir aja ya?" Zora mengangguk. Lagi pula itu satu-satunya cara agar dia bisa berangkat ke sekolah.

"Tunggu Bibi panggilin sopirnya dulu."

Tinggalah Zora sendirian saat ini. Gadis dengan tubuh mungkin itu melengkungkan bibirnya saat merasa dunia benar-benar aneh saat ini.

Bagaimana caranya dia menghadapi orang-orang yang membencinya. Padahal Zora sendiri tak tau sebenarnya letak kesalahannya di mana.

Sepertinya sebelum dia berada di dini Zora yang asli memiliki kesalahan yang cukup fatal hingga banyak yang membencinya.

Sebenarnya Adeline tak peduli, hanya saja saat ini dia menempati tubuh Zora. Dia tak yakin bisa menghadapi semuanya, Zora hanyalah anak manja yang penuh kasih sayang. Bagaimana bisa Tuhan tega membawanya ke sini dan mengalami hal-hal menyedihkan seperti ini.

Gimana ya nasib Adeline yang manja?

Yuk vote dan komen!

Antagonis yang Terbuang (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang