Delapan Belas

88.2K 4.1K 40
                                        

Bertahan hidup di tempat yang sama sekali tak dikenali adalah hal yang tersulit yang pernah Zora rasakan. Hal ini menjadi titik tersulit yang dia alami semasa hidupnya.

Tak ada yang berubah, semuanya masih sama seperti sebelumnya. Kedua kakak yang membencinya, semua orang yang menganggapnya manusia paling berhati jahat, serta Gazza yang terus menyalahkannya.

Yang berubah hanya Mahesa. Pemuda itu seolah sengaja berkeliaran di hadapan Zora, padahal Zora berusaha keras bersembunyi dan menjauh. Karena Zora agak tak terbiasa untuk hal itu, mau bagaimana pun sejak awal dia berada di sini Mahesa seolah tak peduli dengan kehadirannya, berbeda dengan saat ini.

"Aku gabisa hidup tenang kalau kayak gini!" Zora menutup wajahnya frustasi. Kaki gadis itu dientakkan ke lantai melampiaskan rasa kesal yang menggebu dalam hatinya. Sedangkan Dira sejak tadi setia mendengarkan keluh kesah sahabatnya.

"Emang sialan, plis deh akutuh cuma pengen nikmatin hidup. Emang cowok gajelas!"

"Siapa yang lo maksud cowok ga jelas?" Dira dan Zora terperanjat kaget. Keduanya sama-sama saling melirik saat melihat Mahesa sudah berdiri dengan gagah tepat di depan pintu rooftoop.

"Tamat sudah," lirih Dira meratapi nasib Zora.

"Ikut gue!" Mahesa tanpa perasaan menarik kasar Zora hingga berdiri di sebelahnya.

"Kak jangan bawa Zora!" Dira meraih tangan Zora, berusaha membawa Zora kembali ke sampingnya. Sayangnya Mahesa semakin menarik Zora ke dekatnya.

"Ikut gue!" Zora menatap sedih Dira yang juga menatapnya prihatin.

"Kak mau ke mana, sih?!" Sepertinya Zora harus banyak berolahraga agar bisa membela diri dan melawan para laki-laki pengecut yang selalu bersikap kasar kepadanya.

Lihatlah kali ini Mahesa membawanya tanpa peduli beberapa kali kaki gadis itu tersandung dan hampir mencium lantai. Walau sebenarnya Mahesa memeganginya sangat kuat hingga mustahil terjatuh, tetap saja Zora merasa jantungnya akan segera copot.

"Ini ulah lo kan?" Zora mengernyit saat Mahesa membawanya ke depan mading.

"Gue selama ini cukup baik hati enggak ganggu lo karena lo amnesia, ternyata lo emang selicik itu ya?" Zora mengernyit heran, karena dia tak tau ke mana arah pembicaraan Mahesa.

Mahesa merobek salah satu kertas yang tertempel di mading. Di sana terdapat foto seorang anak kecil gendut dan beberapa kata makian di dalamnya. Zora dapat menebak, sepertinya itu Mahesa semasa kecil.

"Jadi apa tujuan si putri maha sempurna ini?" Mahesa bersedekap dada.

Wajahnya memang terlihat tenang, tapi Zora dapat merasakan emosi dari mata pemuda itu. Apa lagi tangan Mahesa yang mengepal kuat hingga kertas yang berasal dari mading tadi sudah tak berbentuk.

"Aku beneran enggak tau apa pun!" Zora mengelak, karena memang dia sama sekali tak melakukan hal itu. Bahkan dia sendiri tak tau bagaiman wujud Mahesa saat masih kecil.

"Terus siapa lagi, selain lo yang tau semua ini?" Mahesa mendorong kasar tubuh Zora ke tembok, menghimpit tumbuh gadis itu.

Zora berusaha mendorong Mahesa, hingga berhasil Mahesa sedikit memberikan jarak untuknya.

"Aku beneran enggak tau, bahkan aku enggak tau foto masa kecil kakak!" ucap Zora membela diri.

Karena memang itu adanya, dia sama sekali tak tau jika Zora yang asli menyimpan foto Mahesa, walau begitu dirinya sama sekali tak penasaran. Karena itu sama sekali bukan urusannya.

Lalu sekarang mengapa dirinya yang tertuduh, padahal dia tak melakukan apa pun sejak menjadi Zora. Kenapa semuanya terarahkan kepadanya.

"Kak bahkan aku baru tau kalau kakak sepupu aku, untuk apa aku sampai berbuat hal ini sama sepupu aku sendiri?" Mahesa tertawa sumbang, kali ini matanya benar-benar menunjuk kemarahan.

"Untuk apa?" Mahesa tertawa meremehkan, bahkan itu benar-benar menyeramkan di telinga Zora.

"Sejak awal enggak ada alasan buat lo ngelakuin hal-hal busuk, lalu untuk apa lo bertanya, sialan!"

Zora meringis dalam hati, benar-benar ramah ucapan Mahesa. Zora menatap Mahesa serius, dia akan meyakinkan Mahesa kali ini.

"Kak aku bener-bener enggak inget apa pun. Bahkan tentang foto yang kakak maksud. Aku bener-bener minta maaf kalau aku ada salah sama kakak," ucap Zora memberi jeda pada ucapannya.

"Aku minta maaf, aku enggak tau kenapa aku dulu bisa sejahat itu. Aku mau berubah, Kak. Aku tau kalian semua enggak bakal percaya, tapi aku beneran mau ngelakuin hal itu!" Mahesa memalingkan wajahnya seakan tak tertarik dengan penjelasan Zora.

"Aku enggak tau hal apa yang pernah aku lakuin dulu, pasti menyakitkan buat kakak. Tapi aku bener-bener mau berubah." Zora meraih tangan Mahesa, berusaha menggenggamnya.

Mahesa tertegun beberapa saat, hingga akhirnya menepis kasar tangan mungil Zora. Dia menatap tajam Zora, bahkan kali ini tatapan matanya benar-benar menunjukkan kebencian di dalamnya.

"Nyawa harus dibayar nyawa. Hutang lo dimasa lalu benar-benar enggak bisa tertolong, jadi gue cuma mau lo ngerasain apa yang gue rasain. Stop bertingkah sebagai orang tersakiti di sini." Setelah mengatakan itu Mahesa pergi dari sana.

Meninggalkan Zora dalam keheningan. Saat ini jam pelajaran telah dimulai, hampir semua murid berada di dalam kelas. Karena itu saat ini benar-benar sepi, dan tanpa Zora sadari sejak tadi Zafia berada di sana menatap dan mendengar percakapan antara Mahesa dan juga Zora.

Aku lama enggak update huhu

Maaf ya

Keluarga aku lagi dapat musibah, dan aku lagi enggak enak badan beberapa hari ini.

Semoga masih setia menunggu ya.

Terima kasih telah membaca cerita penuh kekurangan ini!

Antagonis yang Terbuang (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang