Sebelas

95.6K 4.9K 26
                                        

Dari kejauhan Zora hanya bisa melihat Anya yang begitu beruntung. Setelah menginap di rumahnya, kali ini Anya juga diantar oleh Raffael ke sekolah.

"Aku yakin dia enggak sebaik itu," ucap Zora.

"Yang pasti bukan iblis macem lo!" Zora tersentak kaget, dan memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang baru saja mendengar ucapannya.

"Kali ini apa lagi?" Gazza, pemuda itu entah mengapa sudah sampai di depannya. Apa lagi dengan tatapan tajam yang membuat Zora ingin cepat-cepat pergi dari sana.

"Lo berniat fitnah Anya, atau bully dia lagi?" Gazza mengikis jarak mereka membuat Zora sontak memundurkan langkahnya.

"Aku enggak lakuin itu kok!" Zora mendorong tubuh Gazza hingga pemuda dengan penampilan rapi itu memundurkan tubuhnya.

"Kalian kenapa sih selalu tuduh aku? Akutuh enggak jahat!" Zora menumpahkan kekesalannya. Sungguh dia merasa tak nyaman jika terus berada dalam situasi seperti ini.

Apa lagi menghadapi orang-orang yang berbicara dan menyakitinya. Zora benci semua itu.

"Enggak jahat?" Gazza mencengkeram rahang Zora hingga sang empunya memekik kesakitan. Zora mencoba menjauhi tangan Gazza tetapi sama sekali tidak berhasil. Perbedaan tenaga mereka sungguh jauh.

"Lo bilang enggak jahat?" Gazza semakin menekan rahang Zora.

"Lep--as," cicit Zora. Namun Gazza sama sekali tak peduli dengan raut kesakitan gadis itu.

"Lo itu bahkan bisa disebut iblis, sialan!" bentak Gazza hingga Zora memejamkan matanya.

Saat membuka mata dan pandangan mereka bertemu, Gazza tertegun saat melihat tatapan berkaca-kaca dari mata Zora. Tatapan yang tak pernah dia kenali sebelumnya.

"Kenapa kalian lebih milih Anya, padahal aku yang adik kandung Kak Raffa dan Kak Zafia?" Gazza melonggarkan cengkeramannya, lalu memundurkan tubuhnya.

"Kenapa kalian lebih sayang sama Anya dibanding aku?" Gazza hanya menatap datar Zora yang sudah terisak di tempatnya.

"Kenapa?"

"Jangan tanya kenapa," balas Gazza dingin.

"Karena memang elo enggak pantas mendapat apa yang Anya punya," balas Gazza. Bahkan sekarang pemuda itu tersenyum sinis menatap Zora yang sudah berjongkok dan menangis di sana.

"Jangan pernah berubah, karena semuanya enggak berpengaruh apa-apa." Setelah mengatakan itu Gazza pergi meninggalkan Zora.

Zora meraba rahangnya yang terasa hampir remuk. Tangis Zora semakin kencang, tak peduli ada orang yang mendengar tangisannya. Karena rahangnya benar-benar sakit sekarang.

"Huwa, Mama!" teriak Zora keras.

Selain rahangnya yang sakit, Zora merasakan hatinya juga sakit. Sepertinya tinggal di sini Zora akan terus merasakan sakit hati. Terlebih lagi menghadapi sikap-sikap yang benar-benar di luar dugaan Zora.

Zora bangkit menghapus air matanya asal. Mata, hidung, serta pipinya sudah memerah. Karena dirinya tak memakai make up semua itu terlihat sangat jelas.

Zora tak peduli jika orang mengatakan dirinya jelek, saat ini Zora hanya ingin ke kelas dia tidak ingin bertemu dengan kakak-kakaknya, Anya, Gazza, dan semua orang yang membuat hatinya terluka.

Namun, Zora tak akan menyerah membuat mereka mengatakan yang sebenarnya. Apa alasan mereka membenci Zora sampai sebesar ini, pasti ada alasan di balik semua ini.

***

Katakan Zora sedang dalam masa kesialan Anya yang saat ini sedang menangis sendirian di taman. Zora ingin pergi dari sana, tetapi dia tak tega meninggalkan Anya sendirian. Bagaimana jika nanti Anya berniat melukai dirinya? Zora tak ingin itu terjadi.

Dengan langkah yakin Zora melangkah ke arah Anya, hingga isakan gadis itu semakin terdengar jelas di telinga Zora.

"Anya?" panggil Zora hati-hati.

Anya menoleh, menatap Zora dengan wajah penuh air mata. Melihat itu Zora ikut merasa sedih, hingga Zora menjatuhkan bokongnya di sebelah Anya.

"Kamu kenapa?" Zora bertanya penasaran.

"Bukan apa-apa," balas Anya menghapus air matanya dan memasang senyum seolah dirinya baik-baik saja. Melihat itu Zora malah semakin penasaran. Bukankah Anya sudah mendapatkan segalanya, lalu mengapa gadis itu menangis.

"Kamu berantem sama cowok galak itu?" Anya menatap Zora bingung mendengar ucapan gadis itu.

"Cowok galak?" Zora mengangguk penuh semangat.

"Yang namanya Gazza itu, dia galak banget!" Anya terkekeh mendengar ucapan Zora.

"Nanti Gazza marah loh kalau denger." Zora mengangguk lesu, benar Gazza memang sangat pemarah.

Sebenarnya Anya merasa aneh dengan Zora. Biasanya Zora tak pernah bersikap seperti ini. Karena itu Anya berjaga-jaga jika Zora melakukan hal di luar dugaannya.

Anya menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya, berusaha menghubungi Gazza hingga panggilan terhubung ke pemuda itu.

"Kamu enggak perlu nangis, bukannya kamu udah berutung dapetin cinta semua orang?" Anya mengangguk membenarkan.

"Jadi jangan serakah." Anya mengangguk kaku mendengar ucapan Zora. Di seberang sana Gazza sudah berlari mencari keberadaan Anya. Dia merasa khawatir saat tau Anya bersama Zora, dia yakin Zora berniat melakukan sesuatu yang pasti akan merugikan Anya, apa lagi saat mendengar ucapan Zora di seberang sana.

"Aku pergi dulu, kamu jangan nangis lagi." Anya tersenyum dan mengangguk sambil melihat punggung Zora yang semakin lama semakin mengecil.

Double up ga nih?

Ayo dong komen-komen guys!

Jangan lupa share juga ya hehe.



Antagonis yang Terbuang (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang