Senyum bahagia terlukis pada bibir gadis cantik yang saat ini menggunakan gaun berwarna putih tulang yang senada dengan heels putih yang saat ini ia kenakan. Rambut pendeknya dihiasi dengan jepit rambut berbentuk bunga yang menambah kesan imut pada gadis berpipi chubby dengan senyum indah di bibir mungilnya.
Hari ini tepat hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas, benar-benar hari yang begitu gadis bernama Adeline itu tunggu sejak lama. Bagaimana tidak, hari ini beberapa keinginannya akan terkabul. Salah satunya dibelikan sebuah mobil dan akan belajar mengendarainya setelah sekian lama membujuk ayah serta ibunya.
Sebenarnya jika boleh berkata jujur, kedua orang tuanya tak ingin mengabulkan permintaan yang satu itu. Tak peduli sampai menikah Adeline tetap mengandalkan mereka dan menemani gadis itu ke mana pun yang ia mau, sayangnya Adeline tetaplah Adeline.
Adeline melambaikan tangan kepada teman-temannya yang datang ke acara pesta ulang tahunnya. Hampir semua teman sekolahnya datang, apa lagi Adeline di kenal sebagai gadis cantik, ramah, dan mudah bergaul. Hal itu membuat siapa pun akan senang berteman dengan gadis berlesung pipi itu.
"Aku ke sana bentar, Ma." Adeline berjalan hati-hati karena kesulitan menggunakan heels yang cukup tinggi.
Dia berjalan menghampiri salah satu seseorang yang cukup berarti dihidupnya, seorang yang selama ini menjadi sumber kebahagiaan serta menemaninya selama ini. Namun, belum sampai di sana tiba-tiba suara tembakan memekakkan telinga terdengar. Suara jeritan dan kesakitan terdengar di telinga sampai ke telinga Adeline .
Adeline bingung, kaget, sekaligus takut saat melihat semua orang berusaha berlari ke luar dari gedung tempat ulang tahunnya dilaksanakan. Adeline kebingungan, dia tak tau harus bagaimana di posisi seperti ini. Matanya menatap seorang pemuda yang saat ini menatap penuh kekhawatiran ke arahnya, sayangnya pemuda itu tidak dapat mendekat ke arahnya karena terhalangi beberapa tamu undangan yang sudah kalang kabut.
"Adeline lari, Sayang!" Pandangan Adeline beralih ke arah ibunya berdiri. Adeline ingin menghampiri ibunya, sayangnya semuanya terlambat.
Mata gadis itu terbelalak saat melihat ibunya terjatuh dengan darah membasahi sekitar wajahnya, begitu pun dengan sang ayah yang sudah menutup mata di lantai dengan kondisi yang benar-benar mengenaskan. Tubuh Adeline lemas, rasanya dia sudah tidak mampu menopang tubuhnya yang sudah seperti jelly.
"Papa, Mama," Adeline berucap lirih. Air matanya tak dapat dibendung lari perasaan sesak menyusup di dadanya.
Tanpa memikirkan resiko Adeline berlari menuju ke arah jasad ke dua orang tuanya, memeluk sang ibu hingga gaun putihnya dipenuhi oleh cairan berwarna merah. Pesta ulang tahun yang seharusnya menjadi hari kebahagiaanya berubah menjadi malapetaka.
"Akhirnya, ketemu!" Adeline mengangkat kepalanya. Namun, seketika dia merasakan sesuatu menghantam tepat di dadanya, sebuah pisau yang di arahkan dari seorang paruh baya yang sama sekali tak dia kenal. Hal itu terjadi begitu saja tanpa bisa ia cegah.
"Berterima kasihlah, karena kalian semua pergi bersama-sama."
"Ke neraka," lanjut pria itu dengan suara tawa yang menggema di ruangan besar itu.
Tubuh Adeline ambruk, gadis itu merintih menahan sakit. Matanya beralih pada jasad kedua orang tuanya, setidaknya dia merasa lega karena meninggal bersama kedua orang yang begitu dia cintai, dengan begitu Adeline tidak perlu takut sendirian lagi, bukan?
Setelah itu gelap, Adeline tak dapat merasakan apa pun selain dadanya yang kian menyesak, dan air mata merembes melewati celah matanya yang sudah tertutup rapat.
***
Adeline menyentuh kepalanya yang terasa habis dihantam sesuatu. Matanya mengerjap guna menjelaskan penglihatannya yang terasa samar. Kepalanya terasa semakin memberat, tetapi sekuat tenaga Adeline berusaha membuka kedua matanya.
Saat kedua matanya sepenuh terbuka Adeline mengernyit heran saat melihat tempat asing di sekelilingnya. Yang membuatnya heran adalahnya fakta jika dirinya masih hidup. Padahal dia yakin insiden itu akan menewaskannya, apa lagi rasa sakit yang saat itu menderannya.
Adeline berusaha bangkit, memperhatikan sekitarnya dengan saksama. Adeline juga ingin mencari kedua orang tuanya, apakah mereka masih hidup sama seperti dirinya.
"Mama," panggilnya lirih.
Tenggorokannya terasa begitu kering, kepalanya juga terasa begitu pusing. Mungkinkah ini efek dari tusukan itu. Adeline meraba sekitar dadanya, kedua mata Adeline melebar. Dia tak menemukam bekas luka tusuk di sana. Berapa lama dia tertidur, hingga secepat itu lukanya sembuh?
"Non Zora!" Adeline mengalihkan pandangannya pada sosok paruh baya yang baru saja masuk ke kamarnya dengan wajah lega.
Adeline mengernyit merasa tak pernah mengenal wanita di depannya ini. Apakah ini pembantu baru di rumahnya, tetapi Adeline bingung ini sama sekali bukan rumahnya. Dia tak mungkin melupakan satu fakta penting itu.
"Ibu siapa?" tanya Adeline sesopan mungkin, dia tak tau siapa wanita di depannya ini.
"Ini Bi Nana, Non. Tunggu Bibi panggilin dokter!" Adeline memilih menurut, duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan sekelilingnya.
Kamar besar yang besarnya sama dengan kamarnya, tetapi mengapa dia bisa di sini?
"Nona Zora, bisa bebaring sebentar?" Seorang wanita dengan setelan dokter datang bersama Bi Nana yang membantu Adeline merebahkan tubuhnya. Adeline tak ada pilihan selain menurut.
"Zora siapa?" Adeline bingung ketika menyadari mereka memanggilnya dengan nama yang berbeda. Mengapa mereka memanggilnya Zora, namanya jelas bukan Zora.
"Bi Nana, ke mana keluarga Nona Zora yang lainnya?" Bi Nana menggeleng dengan raut sedih.
"Sepertinya Nona Zora mengalami amnesia paska kecelakaan hebat yang menimpanya."
"Tapi aku enggak kecelakaan!" Adeline berteriak tak terima.
"Ada orang jahat dia nusuk di sini aku!" Zora menunjuk dadanya, rasa sakit waktu itu masih terekam jelas di kepalanya.
"Non Zora tenang dulu," ucap Bi Nana berusaha memeluk Adeline yang semakin memberontak.
"Aku mau Papa sama Mama, kalian pasti orang jahat!" Tanpa bisa dicegah Adeline menangis keras, dia merasa sendiri semuanya sama sekali tak dia kenali.
Adeline terkejut saat dokter itu menyuntikannya sesuatu, setelah itu matanya terasa berat Adelina merasa tubuhnya lemas, dan setelah itu gelap.
"Nona Zora pasti masih sangat syok dengan apa yang baru saja terjadi. Tolong jaga Nona Zora, jangan biarkan dia kelelahan, dan jangan lupa sampaikan kepada kedua orang tuanya."
"Tapi Dok, bagaimana menjelaskan semuanya?"
"Jangan terlalu dipaksakan, Bi. Biarkan perlahan Nona Zora mengingat semuanya, jangan terlalu memaksa karena itu hanya semakin memperburuk keadaannya," jelas sang dokter.
Bi Nana mengangguk paham, setelah itu mengantarkan dokter yang beberapa hari ini merawat Zora ke luar. Bi Nana yang awalnya merasa senang karena anak tuannya sadar langsung merasa sedih kembali mendengar keadaan Zora saat ini.
Zora mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil, keadaannya cukup barang saat itu. Sayangnya Bi Nana terpaksa membawa Zora pulang karena paksaan majikannya yang lain.
Bi Nana menghela napas pelan, merasa sedih dengan keadaan Zora. Setelah apa yang Zora alami sekarang Zora malah mengalami amnesia.
"Semoga Non Zora segera menemukan kebahagiaan," ucap Bi Nana penuh harap.
Gimana ya respon Adeline nanti?
Yuk ikutin kisahnya
Jangan lupa komen dan vote guys!
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonis yang Terbuang (END)
Ficción General⚠️ Mengandung adegan kekerasan (Cerita Lengkap!) Adeline hanya anak manja yang hidup penuh dengan keberuntungan. Sayangnya nasib baik tidak berpihak kepadanya saat perasaan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Adeline harus mati terbunuh oleh musuh bisn...
