"Gue menderita Anya!" teriaknya.
"Ibu gue jual gue, gimana kalau lo jadi gue. Tubuh gue enggak suci lagi, bahkan gue jijik untuk mengingatnya." Dira menutup wajahnya menangis di sana dalam diam.
"Dan kalian berhasil buat Zora menderita." Anya dan Zora melebarkan mata melihat orang lain selain mereka yang sedang tersenyum smirk.
"Gazza?"
"Mahesa?"
Gazza dan Mahesa tersenyum sinis mendekati Anya dan juga Dira yang terlihat panik. Terlebih Anya yang langsung pucat pasi, siapa yang tidak panik jika sikap yang selama ini dia sembunyikan telah orang lain ketahui.
"Dari kapan kalian di situ?" tanya Anya.
"Dari kapan, ya?" Mahesa menatap Gazza dengan senyum puasnya. Sepertinya sejak awal keduanya mendengar ucapan kedua gadis itu.
"Udah bahagianya setelah buat orang lain menderita?" Gazza mendekat ke arah Anya yang semakin memundurkan tubuhnya.
"Udah, Anya?" Anya mendorong Gazza, matanya menatap Gazza dengan sedih. Jelas itu adalah sebuah kebohongan.
"Gazza kamu jangan percaya, Dira sengaja jebak aku!" Anya bersembunyi di balik punggung Gazza untuk semakin meyakinkan, sayangnya Mahesa lebih dulu menarik gadis itu dan mendorongnya hingga tersungkur di rerumputan.
"Iblis lo!" Anya meringis, tetapi tidak lama dari itu dia langsung bangkit dan menghadap langsung kepada Mahesa.
"Kak Mahesa kok gitu?"
"Gila lo Anya, gue kecewa. Kita sepupu gimana bisa kamu bersikap seperti itu." Mahesa tak habis pikir dengan jalan pikiran Anya. Apa lagi Anya adalah sepupunya juga.
"Apa yang salah?" Anya menatap Mahesa kesal.
"Kenapa sikap aku salah, Zora aja melakukan itu semua?!"
"Beda Anya, Beda!" bentak Mahesa marah. Dia jelas tau Anya bukanlah anak kecil lagi untuk diberitahu mana yang benar dan yang salah, tetapi kenapa gadis itu malah tak menggunakan logikanya.
"Bukan hanya itu Gazza, Mahesa." Dira maju ke arah mereka, dia tersenyum paksa saat semua mata tertuju padanya.
"Dia yang buat trauma Zora selama ini, semuanya bahkan termasuk memfitnah Zora agar lo Gazza malah benci Zora?"
"Selama ini Anya bukanlah gadis lemah yang mudah menangis saat di tindas, enggak sama sekali," jelas Dira.
"Heh tutup mulut lo!" Anya melangkah maju, sayangnya Mahesa lebih dulu menariknya dan menahan kedua tangan Anya ke belakang.
"Bahkan gue punya buktinya." Dira mengangkat ponselnya dengan wajah puas. Hal itu membuat Anya semakin pucat dan berusaha memberontak.
"Sialan lo, lo juga bakal masuk penjara kalau ngelaporin gue anj*ng!" Dira mengedikkan bahunya tak peduli.
"Gue lebih baik masuk penjara dari pada harus hidup penuh penyesalan, lagi pula apa lagi yang perlu gue harapin dari kehidupan gue. Jadi jalang?" Jelas Dira juga ingin bahagia. Sayangnya kebahagiaan itu bukan miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonis yang Terbuang (END)
Fiksi Remaja⚠️ Mengandung adegan kekerasan (Cerita Lengkap!) Adeline hanya anak manja yang hidup penuh dengan keberuntungan. Sayangnya nasib baik tidak berpihak kepadanya saat perasaan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Adeline harus mati terbunuh oleh musuh bisn...
