Empat Satu

93K 4.1K 33
                                        

Anya melambai antuasias kepada Gazza yang sedang berjalan ke arahnya dengan setangkai bunga tulip putih di tangannya. Anya sudah tau ke mana tujuan pemuda itu karena itu Anya langsung mengejar Gazza.

"Gazza, kamu mau kirim bunga lagi?" Gazza tak membalas, pemuda itu hanya menatap Anya datar. Tatapan yang sangat asing bagi Anya.

"Gazza!" Anya menyentuh lengan Gazza saat pemuda itu bersiap untuk pergi.

"Kenapa?" tanya Gazza.

"Kamu kenapa sih berubah gini, kamu seolah mempermainkan aku tau ga?!" Gazza. Menghela napas pelan lalu menatap dalam pada Anya yang masih menatapnya dengan kesal.

"Tolong jangan ganggu gue, ngerti?" Gazza menyentak tangan Anya langsung pergi dari hadapan gadis itu begitu saja.

Semenjak kepergian Zora Gazza memang selalu rajin mengantar bunga di loker gadis itu, lalu setiap hari mengganti bunga dengan bunga yang baru. Hal itu berlaku sampai hari ini.

Gazza semakin menyadari, jika dia terbiasa dengan keberadaan Zora. Bahkan dia menginginkan Zora hadir dengan sikap apa pun, asalkan Gazza dapat melihat kembali gadis itu. Rasanya Gazza hidup dengan kehampaan saat ini.

Entah kenapa perasaannya kepada Anya kian biasa saja, dia sadar ini jahat rasanya dia telah mempermainkan hati orang lain. Namun, dia juga tidak dapat berbohong dengan perasaannya saat ini.

"Pagi, Zora?" Bahkan saat orang-orang mulai menatapnya heran Gazza sama sekali tak peduli.

Tujuan Gazza mengapa sampai mengirimkan bunga ke loker gadis yang sudah pergi itu adalah satu. Semua barang Zora masih tersimpan rapi di sana, dan Gazza merasa jika gadis itu masih di sana.

"Aku bawa bunga yang baru untuk kamu," ucap Gazza sambil mengambil bunga kemarin yang sempat dia letakkan di dalam sana.

Setelah menyimpannya dengan baik Gazza menutup loker gadis itu dengan senyum tipis. Berharap di atas sana Zora melihat kesungguhannya di sini, dan semoga Zora sudi untuk memaafkannya.

***

Dira kira kepergian Zora adalah tujuannya selama ini, kebahagiaannya akan terbayarkan dengan kepergian Zora. Entah kenapa semuanya tidak berjalan seperti itu, nyatanya Dira merasakan perasaan yang aneh.

Dia memang banyak memiliki teman di sekolah dibanding Zora, dan walau begitu semuanya tetap berteman seperti biasa saja, tidak ada yang seperti Zora.

Saat dia melihat semua orang tertawa bersama dengan teman-teman mereka, entah kenapa Dira merasa cemburu. Dia merasa dulu dia menjadi salah satu seperti mereka, namun kenapa harus ada perasaan seperti ini.

Dira tidak pernah bisa tidur nyenyak setelah kepergian Zora, bahkan setelah ibunya berterima kasih kepadanya karena berhasil membuat Zora menderita. Sialnya Dira selalu dihantui rasa bersalah, dia benar-benar tidak merasa tenang.

Selama kepergian Zora pun banyak teman-temannya yang memunculkan sifat asli mereka, mereka tak segan-segan membicarakan dirinya. Bahkan Dira sering sekali mendengar orang-orang membicarakannya dengan buruk.

Berita meninggalnya Zora memang bukan lagi rahasia umum, tetapi dari mereka hanya mengetahui jika Zora  mengalami kecelakaan tunggal tidak lebih. Banyak dari mereka juga mensyukuri Zora, entah kenapa Dira merasa hatinya panas.

"Dira?" Dira yang sedang asik melamun menoleh, menemukan seorang gadis yang sedang tersenyum dengan dirinya dengan lebar.

Dira berdecih sinis, melihat senyum gadis itu yang terlihat tak bersalah. Mungkin orang bodoh akan menganggap gadis itu tersenyum lembut dan tulus, sayangnya Dira sudah mengetahui apa yang sedang otak licik gadis itu pikirkan.

"Kamu sendirian aja?" Anya berjalan semakin dekat tanpa memudarkan senyumnya sedikitpun.

"Oh aku turut berduka cinta atas meninggalnya sahabat kamu. Pasti kamu benar-benar sedih." Dira mengepalkan tangannya menahan emosi mendengar penuturan Anya.

"Aku juga sedih, dia kan sepupu aku ya? Sayang banget hidupnya kurang beruntung." Dira memejamkan mata sejenak, dia tak ingin sampai terpancing oleh ucapan Anya.

"Tapi bukannya itu takdir yang baik, Dira?"

"Sialan lo!" Anya mengerucuti bibirnya dengan raut sedih atas perlakuan Dira.

"Kamu kasar banget," ucap Anya pura-pura sedih.

"Stop tutup mulut lo sialan!"

"Kamu kenapa kayak sedih gitu, sih? Bukannya bagus orang itu mati?" Bukannya diam Anya malah semakin menjadi.

Mereka saat ini sedang berada di belakang sekolah yang memang sangat sepi, jadi tidak heran mengapa sampai Anya berani berkata seperti itu.

"Anya stop!"

"Kenapa?" tanya Anya pura-pura heran.

"Bukannya ini tujuan kita? Kamu senengkan dia mati. Kamu bisa balas dendam kamu atas meninggalnya papa kamu, dan aku bisa dapetin semua yang Zora punya." Raut wajah Anya yang biasanya lembut penuh senyum tulus saat ini benar-benar tak ada. Seperti orang berbeda yang orang-orang kenal.

"Pasti mama lo banggakan?" Dira sama sekali tak menjawab, dia menatap Anya dengan mata memerah.

"Jadi semua yang lo lakuin enggak sia-sia. Teror untuk Zora, fitnah untuk Zora, bahkan menjadi teman terbaik Zora?" Anya tersenyum mengejek memihat Dira yang sama sekali tak berkutik.

"Kalau gue sih seneng ya, seharusnya dari dulu aja enggak sih?" Anya tertawa puas. Dia mendekat ke arah Dira yang masih tak mengeluarkan suara.

"Kenapa Zora selalu beruntung sedangkan kita enggak?" Ekspresi Anya kali ini berubah, terlihat menyimpan kesedihan.

"Dia terlahir kaya, cantik, pintar, dan memiliki semuanya. Bukannya enggak adil?" Dira mendorong Anya menjauh dari tubuhnya.

"Sakit jiwa lo, Zora enggak sebahagia itu! Karena lo dia jadi korban pemerkosaan, lalu cinta bertepuk sebelah tangan, semua orang benci dia. Lo enggak tau gimana perasaan Zora saat kedua kakaknya malah benci dia!" Dira tak dapat menahan air matanya, dia menangis hingga terisak cukup keras.

"Gue bodoh karena tertutup dendam, padahal gue salah satu orang yang tau sebesar apa penderitaan dia. Anya lo bener-bener berhasil." Dira menghapus air matanya kasar.

"Lo berhasil Anya, karena kecemburuan lo satu orang hidup penuh penderitaan!"

"Lalu kamu?" Anya menatap tak terima pada Dira.

"Ibu kamu merebut ayah Zora, terus saat ayah Zora meninggal kenapa kamu enggak terima? Cuma karena uang?" Anya bertanya penuh menuntut.

"Sama ajakan?" Dira menggeleng keras dan terjatuh ke atas rumput yng agak basah karena terkena hujan pagi tadi.

"Gue menderita Anya!" teriaknya.

"Ibu gue jual gue, gimana kalau lo jadi gue. Tubuh gue enggak suci lagi, bahkan gue jijik untuk mengingatnya." Dira menutup wajahnya menangis di sana dalam diam.

"Dan kalian berhasil buat Zora menderita." Anya dan Zora melebarkan mata melihat orang lain selain mereka yang sedang tersenyum smirk.

Haloyo siapa?


Ditunggu ya untuk yang bahas season 2nya. Pertanyaan kalian akan terjawab di sana.

Yuk sebelum itu follow aku dulu.

Antagonis yang Terbuang (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang