Tiga Tujuh

93.3K 4.5K 174
                                        

Gazza menyesali satu hal kali ini. Dia mengenal Zora sejak lama, sayangnya dia tak benar-benar mengenal gadis itu. Gazza seolah tutup mata tentang Zora, tentang hidup gadis itu. Bagaimana dia bisa meragukan Zora, bagaimana dia bisa tidak mau mendengarkan Zora disaat Zora selalu mendengarkannya.

Sejak dulu Zora adalah seseorang yang begitu mengenalnya dengan dekat, teman yang selalu dapat Gazza andalkan. Sampai dia mengenal Anya, dia buta oleh cinta. Dia buta dengan sikap lembut Anya yang tidak dia lihat dari Zora, sifat yang dia tidak dapati dari Zora.

Zora anak yang pendiam, tetapi dia akan begitu cerewet saat bersama Gazza. Zora anak bertingkah galak dengan orang-orang yang berusaha mencari perhatian kepada Gazza. Gazza sadar, Zora cukup egois dalam memiliki.

Seperti Mahesa dulu, Zora hanya ingin Mahesa bersamanya, hanya ingin Mahesa selalu melihat ke arahnya. Begitu pula dengan Gazza, Zora mencintai dengan cara egois.

Satu yang tak Gazza sadari, jika dia bisa bodoh karena cinta, lalu mengapa Zora tidak. Zora sama sepertinya seseorang yang pantas memiliki cinta, dan cinta Zora ada kepadanya.

Gazza menatap sebuah figuran yang berada di dinding kamarnya, fotonya, Mahesa, dan Zora. Mahesa kecil tidak menunjukkan senyum, Gazza yang menunjukkan senyum tipis, dan Zora yang menunjukkan senyum paling ceria yang gadis itu punya. Senyum yang sekarang tak dapat Gazza lihat.

Gazza meraih jaket serta kunci motornya. Dia akan memastikan sendiri, apakah benar perkataan Zora, atau Zora memang sejahat yang orang lain pikirkan selama ini.

Motor besar pemuda itu melaju membelah jalanan malam, udara dingin begitu menusuk, dia meringis pelan merasakannya.

Sesampainya di rumah Zora yang Gazza lihat adalah sepi, tetapi salah ketika dia masuk dia mendengar suara gelak tawa dari beberapa orang yang sedang makan malam bersama. Dan Gazza tak menemukan Zora.

"Gazza?!" Anya yang sadar keberadaan Gazza langsung menyapa penuh semangat, dia berjalan mendekati Gazza dengan senyum di wajahnya.

"Kamu tumben malem-malem ke sini, ada perlu?" Gazza diam saja, dia menatap ke arah Zafia dan Raffael yang tampak biasa saja.

Bagaimana bisa semuanya biasa saja disaat Zora kesakitan, bagaimana semuanya bisa tertawa tanpa tau ada orang lain yang merasa terpuruk di dalam atap yang sama.

"Zora di mana?"

"Kenapa kamu cari dia?" Anya langsung balik bertanya. Senyumnya telah luntur saat mengetahui bukan dirinya yang Gazza cari.

"Di mana Zora?" Gazza bertanya penuh penekanan.

"Di kamarnya." Bukan Anya yang menjawab, melainkan Raffael.

Gazza mengangguk pelan, tanpa permisi dia berjalan menaiki tangga menuju kamar Zora. Dia menghela napas pelan, butuh keberanian besar untuk mengetuk pintu bercat coklat di depannya.

"Zora, ini gue Gazza." Gazza berharap Zora membukakannya pintu. Tetapi sayangnya tak ada sahutan sama sekali di dalam.

"Zora, lo baik-baik aja?" Tetap sama. Hening, tak ada suara apa pun di dalam kamar Zora.

"Udah tidur ya?" Gazza bertanya kembali. Walau dia tak yakin Zora sudah tidur di jam segini.

"Zora?"

"Dia enggak jawab?" Anya dan yang lainnya menyusul saat mendengar Gazza terus memanggil nama Zora

"Zora, plis buka pintunya." Gazza khawatir. Jelas kondisi Zora sedang tidak baik-baik saja, meninggalkan seseorang yang sedang terpuruk adalah hal yang buruk.

"Gue masuk ya?" Gazza berusaha membuka pintu, sayangnya nihil terkunci.

"Gue panggil Bi Nana dulu." Zafia berlari turun memanggil Bi Nana yang memang memiliki kunci cadangan.

Setelah Bi Nana datang semuanya mundur memberikan ruang untuk Bi Nana. Setelah terbuka Bi Nana mempersilakan Gazza untuk membuka pintu.

Saat pintu terbuka yang mereka lihat adalah gelap, rasa dingin menusuk terasa dari kamar yang terasa begitu kosong ini.

Gazza menghidupkan saklar lampu, hingga matanya menemukan seseorang yang seharusnya dia lindungi selama ini.

"Zora." Suara Gazza tercekat, dia menutup mulutnya terkejut.

"Zora!" Zafia dan Raffael berteriak panik. Sedangkan Anya menutup mulutnya terkejut melihat pemandangan di depannya.

Gazza berlari, dia membuka paksa tali yang terikat di atas menyambung pada tubuh seseorang yang sudah memucat.

Gazza berteriak khawatir dan tak dapat menahan air matanya. Bagaimana tidak, dia merasa dunianya berhenti seketika. Zora seseorang yang selama ini selalu mencari perhatiannya menggantung dirinya sendiri, tempat di depan mata Gazza.

Tubuh Gazza kaku, dadanya bergemuruh hebat. Dia tak dapat menahan diri, tubuhnya seketika lemas. Zora memeluk erat Zora seerat mungkin, berharap jika ini adalah mimpi, berharap Zora yang dia kenal masih berdiri dengannya dengan wajah jutek andalan gadis itu.

Zafia mendekat, dia mengambil alih tubuh Zora dari pelukan Gazza, memeluk tubuh kaku itu dengan erat dan penuh penyesalan.

"Zora, plis lo bohongkan. Lo tadi masih ngomong sama gue, Zora tolong bangun!"

"Zora," panggil Raffael pelan, dia mengguncangkan tubuh Zora beberapa kali, sayangnya tak ada balasan.

"Gue cuma emosi Zora, lo jangan bener ngabulin ucapan gue!" Gazza menatap Zafia. "Ucapan apa?" tanyanya penuh penekanan.

"Ucapan apa sialan!" Gazza berteriak marah, dia mengambil alih tubuh Zafia dan mendorong Zafia menjauh.

"Puas kalian?!" Gazza menatap satu-satu wajah mereka semua.

"Non Zora." Bi Nana mendekat dengan langkah tergopoh-gopoh, dia menangis keras saat melihat majikan yang sudah dia anggap anak sendiri telah tiada.

"Lo juga buat Zora gini, Gazza," ucap Anya membuat Gazza membeku.

Gazza menunduk menatap Zora penuh penyesalan, dia memeluk Zora erat untuk terakhir kalinya. Tangisnya tak dapat ditahan, perasaan sesak yang menyiksa yang memang pantas dia dapatkan.

"Zora maafin gue," ucap Gazza dengan suara tertahan.

Dia mengelus wajah pucat Zora dengan lembut. Lalu tangisnya kembali pecah, seharusnya sejak dulu dia sadar jika selama ini bukan hanya dia yang tersakiti atau Anya, tapi Zora.

Mereka semua berbeda tetapi memiliki satu kesamaan, penyesalan terhadap seseorang yang saat ini telah terbaring kaku dengan wajah pucat, tak ada senyum yang biasa mereka lihat setiap hari.

Zafia ambruk dibantu oleh Raffael yang hanya dapat menatap Zora kaku, dia tak dapat mengeluarkan suara sama sekali. Hatinya benar-benar terasa mengganjal.

Semuanya sibuk dengan kepergian Zora, tanpa menyadari salah satu dari mereka sedang tersenyum penuh kepuasan. Iblis yang selama ini menjelma menjadi malaikat cantik yang penuh keberuntungan.

Anya berjalan mundur menjauh ke luar dari kamar Zora, membiarkan semua orang menangis. Anya tersenyum puas, lalu menghubungi seseorang yang pastinya sudah menunggu kabar ini sejak lama.

Gimana?

Zora berhak bahagia guys, dia hidup pun kasian karena luka itu emang susah disembuhin.

Belum selesai, masih ada lanjutannya.

Keluarin pendapat kalian tentang part ini.
Mohon maaf untuk yang enggak iklas dengan sad ending. Tapi aku rasa ending ini emang cocok untuk Zora yang hidupnya udah lama menderita.

Tapi ada kejutan sih buat kalian, tunggu aja oke.

Antagonis yang Terbuang (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang