Dua Belas

94.5K 4.9K 64
                                        

Zora terkejut saat seseorang datang lalu mendorongnya kasar hingga terjatuh ke lantai. Zora meringis saat merasakan bokong serta tangannya yang sakit akibat bergesekan langsung dengan lantai.

"Di mana Anya?!" Zora gemetar saat tanpa rasa kasihan Gazza menarik kerah bajunya hingga memaksa Zora untuk berdiri.

"Lepasin!" Zora berusaha melepaskan cengkeraman Gazza, untung saja kali ini berhasil. Namun, walau begitu Zora merasakan lehernya sakit.

"Lo apain Anya?!"

"Aku enggak ngapa-ngapain kok!" Zora balas berteriak. Dia tak suka saat dia dituduh lagi, padahal dia tak melakukan apa pun.

"Gue tau lo pasti nyakitin Anya lagi!"

"Lo itu ada otak enggak sih, Anya itu sepupu lo!" Zora menutup telinganya. Dia lelah mendengar Gazza terus berteriak.

"Aku gatau, capek!" Zora berlari pergi dari sana. Bahkan tak mempedulikan Gazza yang terus berteriak memanggil namanya.

Zora menjauh dari sana, dia mengambil tasnya lalu ke luar dari sekolah. Dia beralasan jika dirinya izin pulang ke rumah karena merasa tidak enak badan.

Dia tidak mau bertemu mereka lagi. Zora lelah diteriaki atau dimaki. Zora belum terbiasa dengan semua ini, semuanya begitu mengejutkan untuk Zora.

Zora duduk di bangku taman yang memang tak jauh dari sekolahannya. Air mata yang sejak tadi dia tahan kini lolos, bahkan isakannya pun tak mampu dia tahan.

"Mama," lirihnya.

"Kenapa aku di sini, sih. Di sini semuanya jahat, aku enggak suka." Zora menangis seperti anak kecil yang tak dibelikan permen. Bahkan dia benar-benar tak peduli jika ada yang melihatnya dan menganggapnya sebagai orang gila.

Zora begitu lelah. Fisiknya, batinnya, semuanya. Dirinya lihat telapak tangannya yang memerah dan lecet, lalu meraba lehernya yang terasa sakit.

Sebelum berada di sini Zora yang dulu sebagai Adeline tidak pernah merasakannya. Semua orang menjaganya, menganggap Zora adalah barang antik yang mudah pecah.

Sebenernya apa dosa Zora sebelumnya hingga semua orang membencinya. Mengapa mereka lebih memilih Anya, bukan Zora.

"Nih."

Tangisan Zora berhenti, dia melihat ada tangan seseorang yang memberikan dirinya permen. Zora mengangkat kepalanya, melihat siapa pelaku yang menganggapnya seperti anak kecil.

"Biasanya anak kecil kalau dikasih permen nangisnya berhenti." Zora mengerucuti bibirnya sebal. Tapi tak urung gadis itu menerima permen pemberian seseorang yang tak dia kenal.

"Jangan nangis lagi." Zora mengangguk kaku.

Setelah mengatakan itu pemuda dengan hoodie hitam dan rambut yang hampir menutupi matanya itu pergi dari sana. Bahkan sama sekali tak memperkenalkan namanya.

"Makasih," ucap Zora lirih, karena tau pemuda itu tidak akan mendengar.

Zora tersenyum tipis, tak dapat berbohong dia sedikit bahagia. Masih ada yang peduli dengannya, walau malah seperti menghinanya yang bertingkah seperti anak kecil.

"Aku harus berterima kasih secara langsung kalau ketemu," ucap Zora penuh semangat.

***

Zora kira berada di rumah adalah tempat yang aman. Ternyata tidak, ini lebih parah dari pada berada di sekolahan yang benar-benar menyebalkan.

"Lo mau jadi jalang?" Tanpa perasaan Raffael menarik rambut Zora hingga masuk ke dalam rumah.

"Kakak!" Zora meringis kesakitan, dia merasakan jambakan Raffael tak main-main.

Di dalam sudah ada Zafia yang sedang bersedekap dada. Gadis itu seakan tak peduli dengan keadaan adik bungsunya.

"Gue udah tau semua, lo hari ini ganggu Anya kan?"

"Enggak!" Zora berteriak membalas.

"Zora," panggil Raffael masih menarik rambut Zora hingga keduanya saling bertatapan.

"Aku cuma ngobrol," sangkal Zora. Namun, sepertinya Raffael sama sekali tak percaya bahkan peduli kepada ucapannya.

"Zafia urus adek lo!" Raffael mendorong Zora ke arah Zafia. Bukannya membantu Zafia malah menyingkir hingga Zora malah jatuh ke lantai dengan keras.

"Aku enggak ganggu Anya," ucap Zora lirih. Bahkan air matanya sudah mengalir deras.

"Kak Zafia, aku lihat Anya nangis dan aku cuma hibur dia. Kakak bisa tanya sama Anya." Zora berusaha bangkit dan menatap Zafia, berharap Zafia percaya.

"Lo bener-bener mau bunuh Anya, setelah lo hancurin keluarga ini?" Zora menggeleng. Dia tak sejahat itu hingga sampai menghilangkan nyawa seseorang.

"Aku enggak gitu, aku temenan sama Anya. Aku juga enggak hancurin keluarga mana pun!"

Plak

Zora memegang pipinya yang terasa kebas. Menatap tak percaya Zafia yang malah seakan tak peduli setelah menamparnya.

"Itu balesan dari gue hari ini!" Zora menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

Dia hanya mampu menangis dalam diam di sana. Dia meraba pipinya yang pasti sudah memeras, juga sudut bibirnya yang terasa perih. Sebenarnya kenapa Zora yang asli berniat membunuh Anya.

Zora menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya berjatuhan ke lantai. Dia hanya bisa menangis dalam diam menumpahkan seluruh kesedihannya beberapa hari ini.

Sejujurnya Zora ingin menyerah. Mengapa semua orang membencinya, mengapa semua orang bersikap kasar. Zora tidak suka semua itu. Dia merindukan pelukan hangat ibunya, pelukan hangat sang ayah. Lalu kasih sayang semuanya, bukan semua ini. Situasi yang sama sekali tak Zora kenali.

Ayo komen-komen guys!

Yang belum follow mari follow biar aku tambah semangat nulisnya. Masak kalian gamau follow sih?

Wajib follow ya hehe biar kalau kalian minta cepet up atau double up langsung aku turutin.

Semoga suka sama ceritanya, love you guys!

Antagonis yang Terbuang (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang