Dua-Dua

81.4K 3.8K 63
                                        

Ada yang salah dari Gazza dalam pikiran Zora. Bagaimana tidak, beberapa kali Zora memergoki Gazza sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Bukannya kepedean, hanya saja Zora sedikit ngeri dengan hal itu.

Bagaimana jika tiba-tiba Gazza menghampirinya dan menikamnya seperti adegan di film-film, atau bahkan tatapannya mampu meremukkan punggung Zora. Okelah Zora memang sangat berlebihan, intinya Zora merasa benar-benar tidak nyaman.

"Tu anak ngeselin banget, sih!" Zora tak henti mengomel saat masih mendapati tatapan tajam Gazza.

Dira yang yang sedang sibuk makan hanya menyaksikan omelan Zora dalam diam. Seolah di depannya adalah tontonan asik yang wajib ditonton.

"Zora?" Zora menoleh, mendapati Anya yang sedang membawa nampan berisi makanan ke arahnya.

Zora meringis dalam hati. Dia takut jika Gazza akan salah paham dan kembali menuduhnya, tetapi Zora hanya mampu memasang senyum tipis membalas sapaan sepupunya itu.

"Aku boleh izin duduk di sini?"

"Enak aja!" Bukan Zora yang menjawab. Melainkan Dira yang sedari tadi menyimak kejadian.

"Dira," tegur Zora.

"Tempat lain penuh, cuma tempat kalian yang kosong." Zora mengedarkan pandangan, dan benar saja semua bangku sudah terisi penuh.

"Yaudah duduk aja." Dira yang ingin berbicara langsung ditahan Zora.

"Makasih," ucap Anya dengan senyum lebar dan langsung duduk tepat di hadapan Zora.

Zora melirik sekilas Gazza, penasaran bagaimana respon pemuda itu. Namun, dia malah tak menemukan Gazza di mana pun. Zora mengedikkan bahu tak peduli, lagi pula masalah Gazza bukan urusannya.

"Kalian selalu makan berdua?" tanya Anya penasaran.

"Iya, berdua," balas Zora seaadanya. Karena sejujurnya dia merasa canggung.

Mau bagaimana pun hubungan Anya dan Zora tidak begitu baik. Lalu tidak lucu sekali jika mereka tiba-tiba akrab seperti ini. Walau sebenarnya Zora tidak begitu keberatan, tetapi tetap saja rasanya aneh.

"Dulu kita deket banget loh, Zora." Zora yang awalnya tidak peduli langsung menatap Anya. Cukup tertarik dengan ucapan Anya kali ini.

"Dulu kita deket banget, kamu juga sering banget nemenin aku main. Sayangnya kamu tiba-tiba berubah." Anya memasang wajah penuh kesedihan. Hal itu membuat Zora merasa tak enak hati.

"Kenapa?" tanya Zora.

"Semenjak Gazza malah suka sama aku." Zora mengangguk kaku. Seperti dugaannya, Zora pasti marah saat Gazza menyukai Anya. Karena dari beberapa yang Zora dengar, jika dirinya dulu begitu menyukai Gazza.

"Aku beneran enggak berniat ngambil Gazza, Zora. Cuma aku enggak bisa nolak seseorang sebaik dia." Anya memasang wajah penuh penyesalan. Wajah putihnya memerah seketika seperti menahan tangis.

Zora yang mendengarkan merasa sedikit iba. Mungkin karena dia bukan Zora yang asli, jadi tidak tau bagaimana perasaannya dulu.

"Udah lupain aja, lagi pula aku enggak ada apa-apa sama Gazza." Mendengar ucapan Zora Anya sedikit merasa terkejut. Hal itu langsung ditangkap jelas oleh Dira yang sejak tadi memperhatikan keduanya.

"Kenapa bisa?" tanya Anya tak percaya.

Walau tau jika Zora saat ini mengalami amnesia, bukankah cukup aneh jika perasaan dalam hati Zora juga hilang. Apa Zora tidak merasakan sedikit pun perasaannya dulu.

"Apa dulu aku sering bully kamu?" tanya Zora hati-hati takut melukai perasaan Anya. Karena dia takin pasti tak mudah menjadi korban bullyng.

Anya menundukkan kepala, lalu setetes air mata jatuh ke atas meja. Lalu isakan tangis terdengar, Zora seketika panik saat beberapa pasang mata mengarah ke arahnya. Termasuk Gazza yang entah sejak kapan sudah duduk di tempatnya semula.

"Jangan nangis, Anya." Zora mengentuh bahu Anya mencoba menenangkan, dan berhasil. Hanya saja masih terdengar isakan kecil dark gadis di depannya.

"Itu emang salah aku, Zora. Mungkin aku terlalu serakah ngambil Gazza dari kamu," ungkap Anya sedih.

Zora menggelengkan kepala tidak setuju. Dia sedikit merasa kesal dengan Zora yang asli, bagaimana bisa tega menyakiti hati gadis sebaik Anya.

"Anya," panggil Gazza dengan suara berat.

Zora menatap takut kepala Gazza yang sedang menatap ke arah Anya datar, lalu beralih kepadanya dengan tatapan tajam. Zora menyengir konyol, berhadap Gazza mengerti jika Anya menangis sendiri bukan karena dirinya.

"Ayo ke sana," ajak Gazza menarik tangan Anya pelan lalu membawa makanan gadis itu.

"Makasih Zora, aku ke sana dulu." Dira memutar bola mata malas saat drama yang dia tonton selesai juga.

"Pick me amat sih jadi cewek!" cibir Dira penuh kebencian.

"Udahlah biarin aja," tegur Zora tak mau membuat keributan.

Walau dia agak heran dengan sikap Anya. Bukankah Anya menyesal telah merebut Gazza, namun kenapa Anya begitu menurut kepada Gazza. Bukankah itu cukup melukai perasaannya, bagaimana jika dia menjadi Zora yang asli yang menyaksikan semua itu.

"Udah abisin makanannya," ucap Dira membuyarkan lamunan Zora.

Zora mengangguk memilih kembali melahap makanannya. Beberapa kali sengaja Zora melirik ke arah Anya dan Gazza terlihat mengobrol cukup akrab.

Zora mengedikkan bahu tak peduli. Dia bukanlah Zora, jadia dia tak peduli dengan kisah percintaan Anya dan juga Gazza. Sekarang hanya satu, memecahkan setiap teka-teki dalam hidup seorang Zora. Hidup yang benar-benar rumit untuk anak manja kurang pengalaman seperti Zora yang saat ini.

Hai
Jangan lupa follow dan komen

Share juga yuk kepada teman-temannya literasinya. Butuh double up ga nih?

Antagonis yang Terbuang (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang