Tiga Belas

92.8K 4.9K 15
                                        

Zora berusaha menghindari semua orang, bahkan Zafia dan juga Raffael. Bahkan Zora datang pagi-pagi ke sekolah agar tidak bertemu dengan siapa pun. Sebenarnya Zora tak menyukai saat harus mandi pagi-pagi dan hari masih begitu dingin. Namun, tidak ada cara lain selain itu.

Saat ini Zora hanya berdiam diri di kelasnya yang sudah terisi beberapa siswa salah satunya dirinya. Zora hanya menelungkupkan kepalanya di meja, tak mempedulikan suara berisik dari teman sekelasnya yang sedang asik bercerita.

Zora lelah, semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan cara untuk menjauhi Zafia, Raffael, dan juga Gazza. Bahkan jika bisa semua orang yang sudah mengibarkan bendera perang kepadanya.

Lagi pula mereka lebih dulu yang memulai, Zora hanya mengikuti alurnya. Mau bagaimana pun dia bukan Zora. Zafia dan Raffael bukanlah kakaknya, Zora hanyalah anak tunggal yang tidak memiliki saudara.

Ternyata selama ini sendirian tidak begitu buruk. Tidak buruk juga saat dulu banyak orang yang mau berteman dengannya hanya untuk memanfaatkannya. Karena sekarang Zora tau rasanya benar-benar dibenci.

Mulai sekarang dia tak akan merubah apa pun. Dia hanya orang asing yang tak tau apa pun, lagi pula merubah semuanya hanya akan membuatnya dalam bahaya. Karena dia tak mengenali sifat asli dari mereka semua yang berada di sini.

"Zora sayang!" Zora mengangkat kepalanya malas saat mendengar teriakan Dira yang berjalan mendekat ke arahnya.

"Zora!" Dira berlari mendekat, memeluk Zora begitu erat.

Saat mereka sudah menjauhkan tubuh Zora menatap dalam Dira. Dia juga sedikit ragu, apakah benar Dira ini teman baik Zora.

"Lo kenapa?" Dira menyentuh kedua bahu Zora.

"Ada masalah?" Zora menggeleng lesu dan menjauhkan tangan Dira dari bahunya.

"Enggak," balasnya.

Dira tak percaya begitu saja, Dira kembali menarik Zora agar kembali menatapnya.

"Lo kenapa, cerita sama gue?"

"Kita beneran sahabat?" Dira membeku mendengar pertanyaan Zora. Bahkan wajah gadis dengan rambut sebahu itu menyendu.

"Lo enggak percaya?" Zora mengedikkan bahunya.

"Aku cuma takut aja," jawab Zora jujur.

"Zora, liat gue!" Dira memaksa Zora menatapnya. Lalu berusaha mematap Zora setulus yang dia mampu.

"Gue beneran sahabat lo, Zora. Gue enggak bohong, lo bisa tanya semua murid di sekolah ini. Gue tau mungkin lo ragu, tapi tolong jangan raguin gue." Zora tertegun saat melihat air mata menyusuri pipi mulus Dira.

"Apa yang buat lo enggak percaya, Zora?" Dira masih begitu kaget dengan pertanyaan Zora yang seakan meragukannya.

"Aku seolah orang bodoh di sini, Dira. Aku enggak tau apa pun, enggak ingat siapa yang dulu berada dipihak aku atau pun membenci aku." Zora menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah sekaligus bodoh.

"Zora," panggil Dira lembut.

"Semuanya bakal baik-baik saja. Sebanyak apa pun yang membenci lo, gue percaya semuanya baik-baik aja selama lo udah berubah."

"Kenapa kamu mau temenan sama orang jahat kayak aku?" tanya Zora.

Inilah yang dia pertanyakan sejak awal. Mengapa Dira mau bersahabat dengannya, bahkan setelah semua orang membencinya. Bukankah sedikit mencurigakan.

"Karena gue tau semuanya." Tubuh Zora membeku. Dia menatap Dira tak percaya.

"Kamu tau semuanya?" Dira mengangguk penuh keyakinan.

"Alasan kakak-kakak aku membenci aku?" Dengan ragu Dira mengangguk. Sebenarnya Dira tak ingin memberitahukan ini, hanya saja dia tak ingin Zora meragukannya lagi.

"Apa alasannya?" Zora mendekati tubuhnya ke Dira, mendesak Dira untuk bicara. Bukankah kuncinya selama ini hanya di Dira jika gadis itu mau membuka suara.

"Kita enggak bisa bicara di sini, Zora."

Zora menatap sekelilingnya yang sudah hampir penuh. Sepertinya jam pelajaran akan dimulai, tak mungkin mereka membicarakannya sekarang.

"Oke, kita bicara saat pulang sekolah." Dira mengangguk membalas ucapan Zora.

Zora menjauhkan tubuhnya. Sebenernya dia merasa penasaran, tetapi dia tak bisa gegabah. Bahkan sepanjang pelajaran Zora benar-benar tak bisa tenang, diam-diam dia melirik terus menerus ke arah Dira yang sibuk dengan dunianya sendiri.

Apakah dia harus mempercayakan sepenuhnya kepada Dira, apa lagi Dira sepertinya mengetahui banyak hal. Sepertinya Dira memang sahabat baik dari Zora yang asli.

Zora menghela napas pasrah, semuanya sungguh rumit. Lagi pula mengapa dia harus berada di sini, jika dirinya sudah mati mengapa tidak langsung di kirim ke alam bakal. Lagi pula di mana keberadaan Zora yang asli.

Zora sangat penasaran mengapa dan apa alasan dia berada di tempat ini. Zora juga akan mencari tau, apakah dia dapat menemukan tempat tinggalnya dulu.

Mulai sekarang Zora akan fokus dengan tujuannya. Dia akan memecahkan pertanyaan yang selalu menghampiri kepalanya.

Inikan mau kalian wahai pembaca yang budiman. Kita lihat apakah Zora mampu memecahkan teka-teki mengapa dia berada di sana. Lalu apakah usahanya menjauhi kakak serta orang-orang yang mengganggu pikirannya berhasil.

Kalau penasaran minimal vote dan komen okee.

Thanks guys!

Enaknya update kapan lagi, nih?

Antagonis yang Terbuang (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang