Anya tau ada yang tak beres dengan ruangan penuh sesak yang saat ini dia tempati. Dia yakin pasti semua orang tidak akan meloloskannya begitu saja. Apa lagi beberapa kali Zafia sengaja datang hanya untuk memukulinya dan menyemburkan amarah gadis itu.
Sudah hampir setahun dia berada di sini, dan Anya merasa dirinya hampir gila saat semua yang berada di ruangan yang sama tak segan membully mentalnya mau pun fisiknya. Anya merasa lelah saat jatah makannya saja direbut hampir setiap harinya.
Untuk polisi? Anya tidak yakin para petugas di sana mempedulikannya. Bahkan beberapa kali mereka melihat Anya menangis karena merasa kesakitan atau sedih, dan semua terlihat tak peduli.
Anya dengan baju orange serta rambut acak-acakan hanya mampu duduk di sudut ruangan dingin dengan mata menatap kosong. Dia memegangi perutnya yang sedari tadi berbunyi, sialnya jatah makannya kali ini kembali di rebut. Apa lagi tadi dirinya baru saja selsai dipukuli.
Anya menatap ke arah tahanan lainnya yang sibuk mengobrol tanpa beban. Dia merasa iri, dia merasa dunia tak adil untuknya. Mereka sama-sama tahanan, tetapi kenapa dia yang diperlakukan layaknya binatang.
Jelas Anya sadar pasti ini ada sangkut pautnya dengan kakak-kakak Zora atau orang lain yang tidak terima atas kematian gadis itu. Anya jelas tak sebodoh itu untuk menyadari asal penderitaannya ini.
"Kenapa gue yang disalahin sih, dia juga mati sendiri!" Anya berucap pelan, tetapi sepertinya masih ada yang bisa mendengar suaranya.
"Lo juga paling bentar lagi mati!"
Terdengar suara gelak tawa yang membuat Anya menyembunyikan wajahnya antara lipatan tangannya. Dia berusaha tak mendengar ucapan-ucapan menyakitkan yang ke luar dari bibir orang-orang.
Di ujung lorong terdapat seorang pria yang saat ini tersenyum puas melihat penderitaan Anya. Dia tersenyum ke arah para tahanan yang saat ini menoleh ke arahnya.
"Seharusnnya lo pantas dapetin lebih dari ini," ucapnya entah kepada siapa.
Pria itu menggeser kardus yang berada di ujung kakinya dan memanggil petugas.
"Kasih dia makanan ini aja," ucapnya.
Setelah itu Anya yang masih menangis menoleh, dan mata mereka berdua bertemu. Bukannya panik pria itu tersenyum miring dan menunjukkan jari tengahnya ke arah aja.
Anya melebarkan matanya, dia bangkit dan menatap pria di ujung lorong itu dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa tebakannya selama ini salah?
***
Sudah setahun setelah kepergian Zora. Memang tak ada yang berubah, tetapi hidup semua orang semakin membaik setelah berusaha menerima kepergian Zora. Walau sebenarnya mereka semua tak benar-benar baik-baik saja, rasa bersalah itu terus menggerogoti hati mereka tanpa ampun.
Zafia yang merasa hidupnya paling jahat kepada Zora pun masih menunjukkan kesedihannya, bahkan dia masih sering mengunjungi Anya untuk sekadar memaki gadis itu.
Zafia mengetahui semuanya, Mahesa dan Gazza yang memberitahunya. Lalu dengan Anya yang akhirnya mengakui semua yang telah gadis itu lakukan kepada Zora.
Walau awalnya Zafia tak setuju dengan keputusan memasuki Anya ke penjara, karena dia yakin masih kurang untuk Anya membalas dosanya. Namun, seseorang meyakinkannya, dan menjamin kehidupan yang menyakitkan yang Anya dapatkan di sana. Alhasil Zafia mempercayai itu semua.
Zafia sendiri sibuk menghukum dirinya dengan berbagai hal, dia bahkan tak tau bagaimana caranya menebus kesalahannya.
Mungkin Anya bisa di penjara, tetapi dia? Zafia tidak tau cara membayar dosanya, bahkan merasa bersalah pun rasanya tak cukup, kesalahannya lebih besar dari pada yang dibayangkan.
"Zafia?" Raffael yang baru saja pulang kuliah menatap lembut pada adiknya yang asik melamun di sofa ruang TV dengan TV yang menyala dan berusara cukup besar.
Raffael menghela napas pelan, mendekati sang adik namun Zafia sama sekali tak menunjukkan responnya.
"Kita semua bersalah, tetapi kenapa lo malah hukum diri lo sendiri." Raffael tentu sedih. Setelah kehilangan salah satu adiknya saat ini Zafia perlahan berubah.
"Gue juga salah, kita sama-sama salah. Tapi jangan bersikap kayak gini, mungkin Zora enggak akan suka." Menyebut nama Zora membuat Zafia menatap ke arah Raffael.
"Mungkin Zora lebih suka kita hidup dalam penyesalan," ucapnya datar.
Raffael menghela napas dan menunduk dalam. Inilah Zafia yang setengah tahun perlahan-lahan berubah dan tak bersahabat.
Raffael menyenderkan tubuhnya, menatap sedih ke arah depan. Dia benar-benar dihukum karena telah mengabaikan adiknya sendiri.
Bagaimana sanggup dia melihat adiknya yang bunuh diri, lalu semua fakta terungkap. Ditambah dengan mental Zafia yang terganggu. Dia sudah banyak berusaha mengobati Zafia, sayangnya selalu tak berhasil.
Zafia belum dapat berdamai dengan dirinya sendiri, bahkan dia masih sibuk menyalahkan dan mencari hukuman yang tepat untuk dirinya. Raffael merasakan yang sama, dia tau mereka tak termaafkan. Namun, Raffael masih berusaha tetap waras untuk mengurus semuanya.
Zafia belum bisa sembuh karena belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Semakin kuat Raffael berusaha menyembuhkannya. Semakin kuat juga Zafia menyalahkan dirinya atas kepergian Zora dan apa yang telah terjadi selama ini.
"Kamu udah makan?" Tak ada jawaban kali ini Zafia sedang menatap ke arahnya juga dengan tatapan sendu.
Ya setelah lulus SMA Zafia tak dapat melanjutkan pendidikannya karena kondisinya yang kurang stabil.
"Zora belum pulang?" Raffael menyentuh tangan Zafia menatap sang adik sedih.
"Iya, Zora masih main." Raffael berbohong, dia tak bermaksud semakin memperkeruh suasana. Hanya saja Zafia akan mengamuk jika dia membicarakan fakta tentang perginya Zora.
"Anak nakal, padahal dia belum makan siang." Zafia tertawa pelan dan kembali menyenderkan tubuhnya.
"Nanti kalau dia pulang aku bakal ajak dia jalan-jalan, udah lama banget ya kita enggak jalan-jalan." Raffael hanya bisa mengangguk walau tau Zafia tak melihatnya.
Raffael berdehem singkat, akhirnya pergi dari sana untuk mengganti pakaian. Sepertinya dia harus lebih bersabar lagi, dia yakin semuanya akan selesai walau perlahan.
Hai-hai
Maaf ya baru sempat update.
Sebentar lagi aku bakal post Season 2, ada yang nungguin?
Kalian kok sekarang jarang komen sih, kan aku sedih.
Oh iya, kalian ada dengar begitu tentang anak artis yang dilecehin ayah tirinya dan ibunya diam aja?
Ternyata kisah Zora enggak mustahil terjadi ya. Bahkan seorang ibu aja bisa enggak percaya sama anaknya.
Ya namanya dunia ya, rumit kalau dipikirin hehe.
Ayo vote, komen sebanyaknya biar aku bisa segera publish season 2.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonis yang Terbuang (END)
Ficção Geral⚠️ Mengandung adegan kekerasan (Cerita Lengkap!) Adeline hanya anak manja yang hidup penuh dengan keberuntungan. Sayangnya nasib baik tidak berpihak kepadanya saat perasaan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Adeline harus mati terbunuh oleh musuh bisn...
