Zora berteriak dalam hati. Dia merasakan sesak dalam hatinya, dia juga merasakan seluruh tubuhnya mati rasa saat Mahesa akan membuka celana yang dia kenakan.
Zora meringis kesakitan saat sebuah ingatan masuk ke dalam kepalanya, ingatan mengerikan. Dengan reaksi di luar dugaan Mahesa. Mahesa terkejut saat menyadari ada yang salah dengan Zora.
Zora tak dapat mengontrol tubuhnya, Mahesa melepas dasi dari mulut Zora saat mendapati Zora kejang-kejang dengan napas putus-putus, bahkan mata gadis itu terlihat benar-benar kosong.
"Zora?" Mahesa mengguncang tubuh Zora, membuka kemejanya dan memasangkan ke tubuh Zora.
"Zora lo kenapa?" Mahesa khawatir saat menyentuh tubuh Zora yang sangat dingin. Bahkan Zora tak kunjung sadar.
Zora menatap Mahesa dengan tatapan teduh, lalu kehilangan kesadarannya. Mahesa panik, merasa khawatir sekaligus merasa bersalah. Dia membawa Zora ke dalam gendongannya, dan membawa Zora segera ke rumah sakit dengan mobilnya.
Beberapa kali Mahesa melirik Zora yang terlihat begitu pucat, bibir gadis itu membiru, tubuhnya seakan tak memiliki darah. Jelas Mahesa panik, ini karena salahnya, dia menyalahkan dirinya sendiri.
Walau dia tak tau mengapa respons Zora sama seperti itu.
"Trauma." Pikiran itulah yang masuk ke dalam kepala Mahesa. Dada Mahesa terasa sakit, dia yakin pasti ada yang tak beres dengan keadaan Zora saat ini.
Setelah sampai ke rumah sakit Mahesa hanya mampu duduk diam bergelut dengan isi kepalanya. Dia benar-benar khawatir, ucapannya tentang mencintai Zora itu memang benar adanya.
Flasback
"Kenalin aku Gazza, aku baru pindah di rumah seberang sana."
Zora kecil yang sedang asik bermain mendekat ke arah Mahesa dan juga seorang bocah lelaki yang begitu asing untuknya. Zora tersenyum lebar, mengulurkan tangannya ke arah Gazza kecil dengan antusias.
"Nama aku Zora, mulai hari ini kita temenan. Kamu jangan mikirin dia, dia itu emang cuek." Zora menunjuk Mahesa yang tampak sekali tak peduli.
Mahesa kecil merupakan anak yang cukup buruk dalam penampilan. Badan yang gemuk, kulit yang hitam, dan apa yang ada dalam Mahesa itu sungguh tak menarik, ditambah dengan sikap pendiam anak itu.
Hanya Zora yang mau berteman dengan Gazza, itu juga karena mereka sepupuan. Mahesa senang bersama Zora, walau kadang Zora membullynya, membuat Mahesa tak memiliki teman dimana pun.
Zora sejak kecil merupakan anak yang sempurna, cantik, ceria, dan pintar. Semua orang mau berteman dengannya, tetapi Zora tak mengizinkan semua orang yang berteman dengannya berteman dengan Mahesa.
Mahesa tau itu semua, tentang Zora yang selalu membuatnya dibenci banyak orang. Namun, Mahesa menyukai Zora, awalnya dia menganggap Zora adiknya, karena itu Mahesa berusaha melindungi Zora. Sampai dia melihat Zora dari sisi lain. Zora yang cantik, dan Zora yang begitu menarik perhatiannya.
Semuanya bertambah rumit setelah kedatangan Gazza. Anak pindahan yang begitu tampan dan baik. Zora yang awalnya selalu bersama Mahesa kini selalu bersama Gazza.
Mahesa kesepian, dia tak terima dengan itu semua. Dia sudah merelakan semuanya demi Zora, dia hanya ingin Zora yang selalu ada untuknya. Bahkan dia tak peduli dengan orang-orang yang mengajaknya berteman walau hanya ingin mendekati Zora, Zafia, mau pun Raffael.
Mahesa semakin tidak memiliki teman, apa lagi setelah dia tak bersama Zora. Semua orang membullynya semakin parah, bahkan tak segan-segan me
Mukulinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonis yang Terbuang (END)
Подростковая литература⚠️ Mengandung adegan kekerasan (Cerita Lengkap!) Adeline hanya anak manja yang hidup penuh dengan keberuntungan. Sayangnya nasib baik tidak berpihak kepadanya saat perasaan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Adeline harus mati terbunuh oleh musuh bisn...
