Zora pulang dalam keadaan basah kuyup, wajahnya pucat Zora memandang kosong ke dalam rumahnya begitu sepi. Sepertinya Zafia dan Raffael menjenguk Anya.
Sesampainya di kamar Zora membuka lemari pakaiannya, dia tak menemukan hoodie serta tas yang sama dengan seseorang yang mencelakai Anya. Zora kembali menangis keras, dia merasa benar-benar kesal dan lelah dengan semua ini.
Zora duduk di belakang pintu dan menangi di sana. Dia tak mempedulikan bajunya yang basah hingga membuat tubuhnya menggigil.
"Zora!" Zora menghela napas lelah, dia memejamkan mata berusaha menguatkan diri.
Zora ke luar dari kamarnya saat mendengar seseorang masih meneriaki namanya dengan nada marah. Hingga Zora menemukan Gazza yang berdiri di bawah tangga.
"Sialan lo!" Gazza berlari lalu mendorong kasar Zora. Zora yang memang sudah lemas terjatuh, bahkan dia tak berniat berdiri kembali.
"Kenapa lo nyakitin Anya?!" Zora tak merespon. Tatapan gadis itu begitu kosong.
"Jawab sialan!" Gazza kembali mendorong tubuh Zora.
Zora kali ini balas menatap Gazza dengan wajah sayunya. Zora menggeleng lemah lalu menyentuh tangan Gazza, sayangnya Gazza langsung menepisnya kasar.
"Aku beneran berani sumpah, bukan aku!" Zora berusaha meyakini Gazza.
"Iblis tetap iblis!" Gazza menarik kasar Zora, memaksa gadis itu untuk berdiri.
"Lalu apa balasan yang stimpal untuk dosa lo?" Gazza merapatkan tubuhnya dan Zora.
Pemuda itu menyeringai sinis, lalu meraba bokong Zora hingga sang empunya membulatkan mata dan berusaha memberontak.
Gazza menarik Zora memasuki kamar gadis itu, lalu menjatuhkan Zora di atas ranjang milik gadis itu. Zora berusaha berontak, apa lagi saat merasakan tangan kurang ajar Gazza sudah meraba ke mana-mana.
"Lepas brengsek!" Zora berusaha mendorong dada Gazza, tetapi pemuda itu malah mencekal kedua tangannya.
"Nikamtin aja, lo juga senengkan jalang?"
Gazza tersenyum sinis, dia mendekati wajahnya ke wajah Zora. Sayangnya belum benar-benar menyentuh Gazza tertegun saat Zora mengerang kesakitan.
Gazza menjauhi tubuhnya, menatap bingung Zora yang sudah menjambak rambutnya serta menyentuh dadanya seperti kesulitan bernapas.
"Zora?" Gazza berusaha menyentuh tangan Zora, tetapi Zora langsung menepisnya.
"To-long, per-gi." Gazza menggeleng. Dia memang tak peduli, tetapi bagaimana jika Zora mati lalu dirinya yang disalahkan.
"Tolong." Melihat wajah penuh kesakitan Zora Gazza memundurkan tubuhnya.
"Arrgghh!" Gazza berlari ke luar mencari bantuan. Meninggalkan Zora yang berusaha menjambak rambutnya sekeras mungkin.
Zora merasa kepalanya begitu sakit, bayangan asing muncul di kepalanya bayangan yang tak dapat Zora mengerti. Apa lagi Zora merasa tak bisa bernapas dengan benar saat ini, hingga tak lama kesadaran Zora menghilang.
***
Yang Zora tau di dunia ini hanya tentang Anya. Bahkan Gazza yang melihatnya pingsan pun langsung menghilang saat dia sadar.
Saat ini Zora sedang duduk di ayunan di belakang rumahnya. Menatap langit malam yang begitu indah yang dipenuhi bintang-bintang.
Dulu saat menjadi Adeline Zora begitu menyukai langit, karena dengan melihat langit Zora merasakan memiliki teman. Tapi perlahan Zora sadar, lebih baik sendirian dari pada harus terluka terus menerus.
Tanpa sadar air mata Zora luruh begitu saja. Isakan tangisnya terdengar begitu memilukan. Sampai Zora merasakan pelukan hangat yang mendekat tubuhnya.
Zora mengangkat wajahnya, menemukan Bi Nana yang sedang tersenyum dengan lembut masih dengan memeluknya erat.
"Non Zora enggak kedinginan?" Zora menggeleng.
Zora menyamankan posisinya, menangis dalam dia di dalam pelukan Bi Nana. Sebuah pelukan yang begitu dia rindukan, sebuah manjaan yang selama ini dia rindukan.
"Non Zora boleh nangis sepuasnya."
"Kenapa harus aku, Bi. Kenapa mereka benci aku." Bi Nana tak menjawab, tetapi wanita paruh baya itu mendengar dan memutuskan untuk mendengarkan.
"Aku capek, Bi. Aku pengen juga punya keluarga, aku pengen dimanjain sama saudara aku." Bi Nana mengangguk paham, bahkan saat ini wanita yang selalu menjaga Zora itu ikut menangis.
"Aku cuma pengen sekali aja Kak Raffael, Kak Zafia peluk aku kayak gini Bi." Isakan tangis Zora semakin kencang. Begitu pula pelukan keduanya.
"Percaya Non, suatu saat nanti tuhan akan kirimkan malaikat yang buat Non Zora selalu bahagia. Bibi yakin Non Zora segera menemukan sebuah kebahagiaan," jelas Bi Nana berusaha menenangkan.
"Aku cuma mau Kak Zafia dan Raffael." Mendengar ucapan Zora Bi Nana hanya mampu diam tak mengeluarkan suara. Begitu pun Zora yang sudah diam dan menikmati pelukan hangat yang sulit dia dapati lagi.
Bi Nana juga sama sekali tak peduli. Karena sejak kecil dia telah menjaga Zora, dia tau sekali sifat gadis yang berada dalam pelukannya ini. Bi Nana menganggap Zora lebih dari sekedar majikannya, Zora adalah putrinya juga.
Mewek dehh
Mau next ga nih?
Minimal spam lah okeeeee.
Jangan lupa follow, ga Follow awas aja aku teror loh hehe.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonis yang Terbuang (END)
Ficção Geral⚠️ Mengandung adegan kekerasan (Cerita Lengkap!) Adeline hanya anak manja yang hidup penuh dengan keberuntungan. Sayangnya nasib baik tidak berpihak kepadanya saat perasaan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Adeline harus mati terbunuh oleh musuh bisn...
