Berita kematian Zora sudah tersebar luas, begitupun dengan berita tentang Anya yang selalu menjadi topik paling hangat di sekolahan. Bagaimana tidak semua orang tak percaya dibalik wajah polos dan sikap lemah lembut ternyata Anya tak lebih dari seorang bertopeng yang selama ini menyembunyikan kejahatannya dibalik wajah cantiknya.
Begitu pun dengan Kaisar yang sudah mengetahui berita yang saat ini sedang trending di sekolahnya. Kaisar merasa ikut sedih atas meninggalnya Zora. Walau hanya beberapa kali pertemuan mereka, tetapi Kaisar sendiri tau Zora sebenarnya gadis yang baik.
Sebenarnya semua anggota keluarga Zora sedikit bingung atas berita keluarga mereka yang tersebar luas. Padahal Raffael sudah berusaha agar berita keluarganya tidaklah tersebar luas. Apa lagi berita tentang kematian Zora.
"Agak miris sama keluarganya." Teman-teman Kaisar yang saat ini sedang berada di rooftoop mengangguk setuju.
Orang waras pasti akan geleng-geleng kepala mendengar berita keluarga Zora yang benar-benar di luar nalar. Banyak dari mereka juga yang merasa bersalah karena sempat membenci Zora tanpa tau kebenarannya.
Bahkan tak jarang dari murid-murid mengirimkan surat bahkan pesan ke Anya dengan ucapan kebencian serta makian dan ancaman.
"Gila memang, ternyata Zora jahat selama ini karena keluarganya juga. Kaisar lo bukannya pernah deket sama Zora?" Semua mata menatap ke arah Kaisar penasaran.
"Ya, sedikit," jawab Kaisar.
Memang begitu adanya. Dia tak begitu dekat dengan Zora, walau beberapa kali sempat bertengkar. Namun, semua itu hanya dalam waktu yang singkat.
"Seharusnya Raffael dan Zora di ke luarin aja dari sekolah ini. Males banget satu sekolah sama orang-orang yang enggak bisa melindungi adiknya," ucap seorang pemuda yang saat ini sedang rebahan di kursi panjang dengan ponsel berada di tangannya.
"Ya, tapi kita kan enggak bisa menilai dari penglihatan kita. Gue sih no komen.
"Gue balik ke kelas." Kaisar bangkit lalu pergi dari sana tanpa mendengar jawaban teman-temannya.
Mereka saling tatap, lalu mengedikkan bahu tanda tak mengerti. Kaisar memang selalu susah ditebak.
***
Gazza beberapa kali sengaja datang ke makam Zora sepulang sekolah. Sudah lima tahun selama kepergian gadis itu, dan semuanya masih sama. Gazza masih tenggelam dalam perasaan bersalahnya.
Kali ini Gazza tak sendiri, ada Mahesa di sampingnya yang juga sedang menatap makam Zora dengan datar.
"Udah lima tahun aja," ucap Gazza memulai pembicaraan lebih dahulu.
"Gimana hidup lo?" Gazza beralih menatap ke arah Mahesa.
"Buruk," jawab Mahesa masih tanpa ekspresi. Namun, Gazza sendiri dapat melihat semuanya di balik mata pemuda itu.
"Di mana Raffa dan Zafia?" Gazza sebenarnya sudah tau berita tentang Zafia yang tidak baik-baik saja. Begitu pun dengan Raffael yang akhirnya berhenti kuliah karena harus menjaga adiknya itu.
"Gue kurang tau, mereka udah pindah lama." Gazza mengangguk paham.
Pantas saja, beberapa kali sengaja lewat di depan rumah Raffael dan Zafia dia tak pernah menemukan dua orang itu. Rumah itu tampak begitu sepi dan tak berpenghuni.
"Bi Nana memutuskan resign setelah tepat satu tahun kepergian Zora. Jadi Raffael agak kesusahan ngurus Zafia sendiri," jelas Mahesa.
Gazza merasa kasihan dengan Raffael dan Zafia. Keduanya seperti hidup tanpa tujuan saat ini. Raffael yang berhenti kuliah, dan Zafia yang berhenti sekolah karena mentalnya yang terganggu.
Gazza memang pernah menemui Zafia, dia jadi tau kondisi Zafia yang sangat memprihatikan. Zafia masih terus menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Zora.
Gazza lebih dulu berjongkok sambil mengelus nisan Zora, diikuti dengan Mahesa yang mengelus pelan gundukan tanah itu.
"Apa kabar, Zora?" Gazza tersenyum tipis.
"Semoga lo bahagia di sana, maafin kami semua yang udah buat salah sama lo." Air mata Gazza tanpa bisa dicegah terjatuh menyusuri pipi tirus pemuda itu.
"Maaf," ucap Mahesa. Dia sendiri tak tau harus berkata sepanjang apa lagi, karena Mahesa tau semuanya tak termaafkan.
Setelah kepergian Zora Mahesa memang tak baik-baik saja. Dia bahkan beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri, tetapi akhirnya dia kembali di sadarkan.
Ketika suatu malam dia memimpikan Zora sedang tersenyum ke arahnya dengan sangat lebar. Mahesa mengerti dan sadar, jika kematiannya pun tak dapat merubah apa pun.
Karena itu Mahesa berusaha hidup menjadi manusia baik dan berguna bagi orang-orang di sekitarnya. Dan saat ini Mahesa telah mewujudkan hal itu.
Dia menjadi dokter anak saat ini, dia juga telah mendirikan sebuah panti asuhan untuk anak-anak yang terlantar. Mahesa bersyukur karena tuhan masih memaafkannya dan membuatnya melakukan semuanya dengan lancar.
Mahesa hanya berharap satu, dia dapat berdamai dengan masa lalunya. Walau dia tidak pernah bisa melupakan Zora, bahkan perasaan Mahesa sampai saat ini masih sama.
"I love you," ucap Mahesa.
Gazza menoleh menatap Mahesa terkejut. "Lo?" Mahesa mengangguk dengan yakin.
"Gue cinta sama dia, sekarang dan selamanya." Gazza terkejut dia tak bergeming di tempatnya bahkan setelah Mahesa bangkit dan melangkah menjauh.
Ternyata di dunia ini perasaan seseorang adalah yang paling sulit ditebak. Bagaimana bisa dia tak menyadari itu selama ini?
End
Yuhu hari ini aku bakal publish season 2
Yeyyyyyyyyy
Mana tepuk tangannya nih?
Yuk jangan lupa ramein lapak sebelah ya biar aku bisa semangat update dan akhirnya bisa tamat seperti cerita ini.
Tencu semuanya yang udah nemenin aku selesain cerita ini. Kalian terbaik dan terhebat.
Makasih atas suport yang tak terlupakan. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia.
Maaf juga atas ekspektasi kalian yang tidak terpenuhi di karya aku. Aku juga masih belajar dan berusaha menulis lebih baik lagi.
Bye-bye!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonis yang Terbuang (END)
Teen Fiction⚠️ Mengandung adegan kekerasan (Cerita Lengkap!) Adeline hanya anak manja yang hidup penuh dengan keberuntungan. Sayangnya nasib baik tidak berpihak kepadanya saat perasaan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Adeline harus mati terbunuh oleh musuh bisn...
