13. Hari Yang Panjang

58 0 0
                                    

Ia menyodorkan ponsel, kuperhatikan dengan saksama. "Kau harus banyak belajar dari sana."

"Ini ap—"

"Cara memproduksi bayi," potongnya santai yang sontak membuatku meneguk liur, membayangkan kengerian.

Aku mendengkus. "Aku tidak bodoh sampai tak tahu cara melakukan itu!" Tatapan ini berubah bengis sebelum melayangkan bantal ke arahnya yang pria itu balas dengan kepergian.

Haruskah aku menonton ini? Ayolah! Ya, aku tahu kami sepasang suami istri. Jadi, mustahil jika tidak melakukan itu agar menghasilkan keturunan. Namun—

Aku mengajakmu kemari untuk menghasilkan keturunan, bukan tidur berkepanjangan.

"Sial!"

Lima belas menit berlalu hingga layar berubah kelam. Aku menoleh ketika pintu kamar terbuka lebar, kemudian menampilkan sosok Ares yang rupawan. Ke mana ia pergi beberapa menit lalu?

"Mengapa tidak mengajakku pergi juga?" Tubuh ini ikut mendarat di sampingnya yang duduk pada sofa sudut kamar.

Pria itu menukikkan alis sebelum menautkan jemari kami. "Aku hanya membeli permen. Kepalaku pusing sekali."

Apakah sudah saatnya berperan sebagai istri? "A-apakah ingin kupijat?" tawarku kikuk.

Pria itu mengangguk sebelum berbaring di pahaku dengan santai, mengabaikan jantung sang istri yang benar-benar hendak keluar. Rampung menyamankan posisi, ia terpejam bak bayi haus belaian. "Aku tahu kau masih kesulitan menerima ini dan selalu tersentak jika aku dekati."

Aku mengangguk kuat. "Mengingat kita—"

"Apa yang kau minta dariku?" tawarnya tiba-tiba yang sontak melepas akal licikku ke udara.

"Aku melarangmu memberi banyak tugas, memaksa belajar, dan melakukan apa pun yang tidak aku inginkan."

"Untuk permintaan terakhir, tidak akan kukabulkan." Matanya membuka sebelum menyorotku dari bawah. "Aku tahu kau tidak ingin bersentuhan lebih dari ini," ia mengangkat tautan jemari kami yang entah sedari kapan terikat lagi, "tapi kita harus memiliki keturunan. Jadi, permintaan ketiga kutolak."

Mataku berbinar terang, menyembunyikan semburat merah pada pipi. "Jadi, permintaan pertama dan kedua kau terima?"

"Tidak juga."

Menahan gondok, aku mengalihkan perasaan sebelum menatapnya sembari tersenyum genit ketika pria itu beranjak duduk. "Apakah seperti ini?" Kubuka satu kancing piama teratas. "Atau begini?" Aku beralih menampilkan bahu polos. "Apa ...."

Pria itu menggeleng. "Sayang—"

"Aku tidak bisa menggodamu! Aku ingin mandi dan jalan-jalan!" Aku beranjak sebelum melangkah ke kamar mandi.

"Ya, Tuhan, kau pemaksa sekali."

"Kau pikir, kau tidak?!"

***

Kami sempat mengitari air Yunani nan kebiruan menggunakan speedboat. Dari sekian banyak hal menarik di tempat ini, hanya itu yang kusukai dari Santorini. Kini Ares tengah merajut jemari kami seolah aku adalah satu-satunya makhluk yang ia miliki di dunia ini. Kuakui, pria itu banyak berubah.

Tatapan tajamku menukik ke arahnya setelah merasakan sentilan jemari Ares pada dahi. "Takdir memang ajaib. Aku tidak menyangka akan hidup bersamamu."

Pria itu menghentikan langkah, mengalihkan raga kami agar saling berhadapan. "Tidak bisakah kau bertingkah manis selayaknya istri?"

Gelenganku senada dengan senyuman pahit. Tidak usah terlalu bermimpi. "Aku tidak bisa seperti Emeline yang selembut kapas."

"Hanya kau dan aku. Tidak ada Emeline di sini."

CIMMERIAN (Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang