HAPPY READING!!!•
•
•
•
•Setelah seminggu Nana di Makassar, perkembangan dalam masalah pencarian bangkai mobil sudah menunjukan angka yang positif. Angka empat puluh persen sudah dalam genggamannya. Hanya beberapa jengkal lagi, semuanya akan terungkap dan dirinya dapat beristirahat dengan tenang.
Nana terkejut karena sang sahabat memeluk dirinya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di belahan leher miliknya “kamu ngapain? ”.
Tiara hanya menggeleng dan kini beralih duduk disebelah Nana “aku cariin, ternyata disini. Btw, aku sama Jeonghan habis jalan-jalan tau.. Ini ada nasi goreng, aku bawa buat kamu” ucapnya.
Nana mengulas senyum diwajahnya sembari meletakkan sebatang rokok di asbak dan kini beralih mengelus surai Tiara perlahan “makasih, Ti. Nanti aku makan. ” hanya balasnya seadanya.
Tak ingin kehabisan ide, Tiara selalu ngajak Nana berbicara namun sang lawan bicaranya hanya mengangguk ataupun menggeleng dan berakhir membalas seadanya. Tiara tahu kalau ini semua sudah menjadi kebiasaan Nana, namun untuk kali ini sangat jauh berbeda.
Berbicara dengan Nana sama halnya berbicara dengan sang kakak yang membuatnya gemas. Rasa gemas itu sudah tergantikan dengan kantuk yang amat menggangu.
Nana melirik kearah sang sahabat yang terlihat sayu “ayo tidur. Aku juga mengantuk. ” ucapnya dan mulai menutup pintu balkon.
Tiara tentunya langsung mengiyakan tanpa menunggu lama lagi “cepat!!!! , aku tunggu” balasnya dengan antusias.
Senyuman Nana mengembang begitu saja melihat tingkah laku yang sudah lama dirinya tak melihat itu. “aku akan mengecek Jeonghan terlebih dahulu. ” ujarnya dan berlalu pergi.
Tanpa menunggu waktu lama, Nana kembali dan mengunci kamar dan mulai mendekat kearah .
Keduanya berbaring disatu ranjang, canda ria menjalar dari keduanya hingga tak terasa jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Tangan Nana masih setia mengelus surai hitam milik Tiara dan Tiara pun masih nyaman dalam dekapan yang dibuat Nana.
“janji jangan pergi kemanapun lagi, Na. Aku gak mau kehilangan kamu lagi” ucapan melantur dari Tiara berhasil membuat Nana terkekeh gemas.
Pasalnya, jika dirinya ingat kebiasaan melantur dari sang sahabat terakhir kali terdengar ketika SD saja. Melainkan tetap saja hingga sekarang.
“aku tidak berjanji, namun akan aku akan selalu di sampingmu” monolognya dengan menatap wajah damai dari Tiara.
•
•
•Diki bersama sang sahabat yang tak lain adalah Cakra menatap tak percaya dengan hasil akurasi perhitungan yang Nana berikan pada tim mereka. Keduanya hanya bisa menatap tumpukan rangkaian mobil yang terpisah.
Helaan nafas dari Cakra berhasil menarik perhatian bagi Diki yang masih setia menatap coretan angka di kertas putih pemberian Nana dan beberapa kertas.
“kenapa? ” tanya Diki yang masih terfokus dengan kertasnya.
“aku merasa, jika Putri bukan gadis yang biasa. Bagaimana bisa, hanya dengan pengukuran secara hitungan, semuanya dapat ditemukan dengan mudahnya. Aku merasa takut dan ya, tentu saja penasaran dengan gadis itu.” papar Cakra yang membuat Diki mengiyakan ucapannya itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
DEAR HAECHAN
FanfictionBerteman dengan sosok Lee Haechan merupakan hal yang telah memberikan banyak warna dalam kehidupanku yang begitu monoton. kepergiannya, membuatku terpukul dan nyaris mengakhiri hidup karena hilangnya sebagian cerita dalam hidupku . Apakah aku akan...