HAPPY READING!!!
•
•
•
•
•Setelah mendapat izin dari sang ayah -om Agus memberi peluang kepada sang anak agar kembali dengan cepat dan selamat tanpa luka yang berarti lagi. Walau letih, itu semua dapat menjadi satu kisah yang tak akan bisa diucapkan secara lisan. Bertepatan dengan itu, ayah dan bunda pergi ke Surabaya dengan tujuan berbisnis.
Itu semua sebuah kebetulan yang benar-benar tidak disengaja dalam menyusun strategi kali ini. Keduanya tidak berkata-kata selain menjaga kesehatan, jangan lupa checkup dan minum obat yang teratur. Itu yang membuat perasaan gundah di benaknya yang masih diluar akalnya sendiri. Namun, mau bagaimana pun, jika dirinya terus mendengarkan 'sisi lembutnya' maka semuanya akan hancur dalam sekejap. Dan itu juga berbanding terbalik jika dirinya terus mengikuti naluri kejamnya, justru itu malah mempertambah korban dari pihak siapapun, termasuk pun di pihaknya.
Setiap langkahnya untuk saat ini, sangatlah berarti, apalagi jika dirinya terus memutar memori kenangan manis.
"gua gak boleh kalah ataupun berhasil tunduk ke diri sendiri. " monolognya secara memperhatikan pantulan wajahnya di cermin.
•
•
•Nana memulai perjalanan kali ini dari ibu kota, yang dirinya juga masih mempertanyakan tujuan asalnya adalah apa. Namun, kemungkinan besar dirinya mengikuti pola pikir Teo yang mencoba menyuruh menaruh senjata miliknya kepada Teo agar terbebas dari pemeriksaan yang dilakukan oleh para petugas di bandara.
Menurutnya, ini cara yang cukup berbelit, namun kembali lagi dengan dirinya yang malas berhubungan dengan pihak pemerintahan ataupun kepolisian.
Dirinya sadar, menjadi anak dari anggota kepolisian adalah hal yang cukup mengerikan. Apalagi dengan aksinya yang benar-benar menelisik sisi buruknya dengan begitu mudah.
Dirinya menjadi pelaku kriminal bukan untuk siapapun, aksi ini dengan dorongan dirinya sendiri untuk memecahkan misteri kematian keluarga Lee yang hingga saat ini masih dirinya pertanyakan fakta yang sesungguhnya.
Tak ingin merusak rencana, pemikiran dan yang lain, Nama mulai melangkah memasuki bandars dengan berbagai macam pemikiran yang bertolak belakang.
Tak perlu waktu yang lama, dirinya memasuki pesawat. Pejaman matanya memberat serupa dengan deruan nafasnya yang mulai tak beraturan. Ditengah keheningan maskapai, senyuman aneh terukir dari seorang pramugari yang menatap seorang pria berusia tiga puluh tahunan dengan tatapan yang menurutnya ingin membunuh.
Dalam hitungan mundur terdengar jeritan penumpang dari gerbong depan yang benar-benar histeris layaknya baru melihat aksi pembunuhan. Bersamaan itu juga semua penumpang kocar-kacir berpencar menuju pojok gerbang tepat dirinya berada.
"ADA PSIKOPAT GILA!! "
"JAUHI PEMUDA ITU!! "
"DIA BARU MEMBUNUH LAKI-LAKI ITU!! "
"HENTIKAN PESAWAT INI SEGERA!! "
Keadaan benar-benar ricuh dan tak dapat terkendali akibat berbagai jeritan histeris dari para penumpang gerbong yang berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Himbauan demi himbauan tak dapat digubris oleh semuanya yang disebabkan oleh rasa takut yang teramat. Bahkan para petugas kewalahan oleh aksi mereka dan sisanya para petugas diam mematung di ambang pintu dengan setia memandangi sang pemuda yang masih asyik menyiksa korban yang kemungkinan besar sudah sekarat.

KAMU SEDANG MEMBACA
DEAR HAECHAN
FanfictionBerteman dengan sosok Lee Haechan merupakan hal yang telah memberikan banyak warna dalam kehidupanku yang begitu monoton. kepergiannya, membuatku terpukul dan nyaris mengakhiri hidup karena hilangnya sebagian cerita dalam hidupku . Apakah aku akan...