40. Lentera Kehidupan

28 3 0
                                    


HAPPY READING!!!!!







Penghujung tahun sudah menyambut semuanya dengan suka cita yang berbeda-beda. Pergantian tahun identik dengan acara keluarga yang berupa bakaran ataupun pesta kecil-kecilan. Serupa dengan Nana yang kini menghabiskan waktu tahun ini dan akan di ganti tahun yang baru. Senyum terulas di pahatan wajahnya yang tengah mengamati interaksi dari orang tersayangnya dengan ditambah kedatangan daddy dan Mark.

Suasana semakin bertambah ramai dengan pertengkaran antara Jeno, Jisung serta si imut Renjun. Jika dirinya hanya duduk di antara para kepala keluarga, termasuk pun Abi dari Jeno dan Ayah dari Jisung yang kebetulan mengambil agenda liburnya tahun baru.

Pesta bertambah ricuh dengan kedatangan si Jepang alias Yuta fams. Ntah apa niatannya, namun ini cukup mengasyikkan. Gelak tawa serta kehangatan tercipta dari mereka semuanya yang membuat hati kecil milik Nana menghangatkan. Ini merupakan momen berharga yang tak akan bisa terbeli dengan sepeser uang ataupun harta dengan nominal lainnya.

Tepat pukul duabelas malam, semuanya memanjatkan doa dengan diikuti harapan untuk tahun ini. Tentu saja serupa dengan Nana yang masih setia terdiam di tengah para pemimpin keluarga. Lebih tepatnya, dirinya terduduk di samping sang ayah.

Bismillah untuk sembilan bulannya.
-batin Nana


.....

Pesta pergantian tahun sudah berakhir tepat pukul dua malam. Alhasil mereka semua menginap di kediaman besar milik Nana, minus Abi dan Umi (Jeno fams) yang kebetulan jarak rumahnya dengan Nana hanya berjalan dua putaran saja. Para golongan muda yakni Nana, Yuta, Jeno, dan Jisung masih berkumpul di taman tempat pesta tadi.

Keempatnya terdiam satu sama lain dengan menghirup udara dingin di tengah malam bercampur kan bau sangit bekas bakaran tadi. Hanya tautan hangat yang Yuta salurkan pada sosok gadis berwajah pucat. Belaian yang Nana berikan pada Yuta menandakan bahwa dirinya merindukan sosok yang didekatnya itu. Kedua bola mata mereka bertemu dan menciptakan sebuah senyum teduh yang benar-benar mereka rindukan satu sama lain.

Senyum tulus tanpa beban tercipta dari keduanya. Rasa rindu terhadapnya sudah sirna bersamaan dengan rengkuhan yang kian menghangat. Rasa takut kehilangan pada sosok gadis didepannya begitu menggambarkan begitu besar. Tak dapat dipungkiri dan dielak, dirinya merasa gagal menjaga Nana seperti pesan sang sahabat yang menitipkan Nana padanya.

Rasa menyesal dan kehilangan masih setia memenuhi relung hatinya yang tidak berkesudahan. Justru rasa penyesalan serta takut kehilangan itu malah bertambah besar, se berjalannya waktu yang kian cepat.

“kamu jangan pergi kemana-mana ya, Na?. Aku janji bakal ngulang semuanya dari awal untuk kamu. ” ucapnya dengan menenangkan dirinya sendiri didepan Nana.

Kekehan gemas mengalun sempurna didekat telinganya “tak perlu mengulang semuanya, Yuta. Aku akan tetap disini, walau nantinya, kita akan berbeda karena garisan takdir. Tapi percayalah, bahwa selagi kita masih berdiri di langit yang sama, maka akan ku pastikan bahwa diriku akan ada untukmu. Jika garisan takdir berbanding terbalik dengan ucapanku, maka aku akan menjadi bayangan untukmu, yang tak akan termakan hari serta waktu. ”

Mendengar ucapan itu baik Jeno, Jisung ataupun Yuta tak bisa berkutik lagi.



San tiba di area parkiran disebuah sekolah SMA negri di kota Bandung, kedatangannya bukan tanpa sebab ataupun tujuan. Dirinya hanya ingin mengunjungi sekolah SMA itu, dikarenakan dirinya rindu akan suasananya. Dan kebetulan juga sosok gadis berwajah pucat pasi dengan guratan dingin yang tak lain adalah Nana.

DEAR HAECHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang