chapter 34

14 6 5
                                        

Sepanjang hari melamun, ketika malam terisak-isak. Memang benar bahwa cinta itu tak pernah kemarau.

~Belva Sena~

"Ngapain?" tanya Alisya dengan nada ketus saat seseorang menyapanya dengan senyuman

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ngapain?" tanya Alisya dengan nada ketus saat seseorang menyapanya dengan senyuman.

"Gue mau ngomong sesuatu sama lo," Alisya mendemgus kesal mendengar ucapan Gavril.

"Gue sibuk," ucap Alisya hendak membalikkan badannya tapi dengan sigap tangan Gavril menahannya.

"Sebentar," tatapan Gavril seperti tengah memohon pada Alisya.Alisya memutar bola mata nya malas dan berjalan keluar rumah mendahului Gavril.

"Gue mohon sama lo maafin gue," pinta Gavril dengan suara memelas.

"Gue udah maafin lo," tatapan Gavril berbinar mendengar jawaban Alisya.

"Lo mau kan balikan lagi?" tanya Gavril dengan wajah yang terlihat sangat sumringah.

"Sorry,gue udah bahagia sama orang lain," ucap Alisya sambil menahan sesak di dada mengingat ucapannya barusan sangat berbanding terbalik dengan apa yang sedang terjadi.

"Gue tahu lo gak bahagia sama Alfio," bantah Gavril membuat Alisya menatapnya tajam.

"Lo gak tahu apa apa tentang hubungan kita berdua," bentak Alisya terlihat sangat emosi.

"Mending lo pergi dari sini," amarah Alisya semakin memuncak tanpa mengucapkan apapun lagi ia pergi meninggalkan Gavril yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Gimanapun caranya lo harus balik ke pelukan gue," Gavril tersenyum smirk dan pergi meninggalkan pekarangan rumah Alisya.

🐒🐒🐒

Sekarang kedua orang tua Alfio dan Annora tengah berada di rumah sakit. Sejak malam tadi penyakit Alfio kembali kambuh.sejak kecil Alfio sudah menderita penyakit Asma,semakin hari keadaannya semakin memburuk.kemungkinan untuk Alfio bertahan hidup sangat kecil.

Seorang dokter keluar dengan raut wajah murung.

"Keadaan pasien semakin memburuk,deru nafasnya mulai melemah," tangis Diana pecah saat itu juga.ia tak mau kehilangan anak semata wayang nya itu,sebisa mungkin Sandi menenangkan Diana yang terlihat sangat rapuh.tak diam saja Annora berlari masuk menghampiri Alfio yang tengah berbaring dan dengan berbagai macam alat yang menempel di seluruh tubuhnya.

"Lo harus bangun," lirih Annora sambil menahan air mata yang terus memaksa keluar.

"Tepatin janji lo buat bahagiain Alisya," tangis Annora pecah saat itu juga.tangisan Diana semakin menjadi saat melihat putranya yang terbaring lemah.

Belva Sena [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang