Chapter 37

14 5 0
                                        

Bagiku, tidur bukanlah sekadar melepas lelah, melainkan sebuah pelarian.

~Belva Sena~

Alisya terus menangis sendirian di gedung tua itu.ia putus asa saat ini,Alisya ingin pulang pada Alana,orang yang selalu mendekapnya jika ia sedang kesulitan.Alisya merogoh serpihan kaca yang berada di dekatnya,perlahan ia menggoreskan luka pada tangannya,darah terus bercucuran dari tangan yang ia gores,rasa sakit bercampur pedih itu tak sebanding dengan apa yang sedang ia alami.

"Alisya capek disini,Lisya mau pulang sama bunda," dada nya bagai terhimpit dua batu besar,ia ingin mengakhiri hidup nya saat itu juga.

Alisya menatap nanar tangannya,perlahan ia menggerakan tangan yang satunya untuk kembali menggoreskan luka di bagian nadinya.

Dari arah yang berbeda Elma terus berlari menaiki tangga gedung tua itu untuk mencari keberadaan Alisya.sebelum nya Ratna sudah memberitahu Elma bahwa Alisya pergi menemui Aldino dalam keadaan kacau,hal itu membuat Elma khawatir setengah mati mengingat Alisya sangat nekad.

"ALISYA!" panggil Elma saat melihat Alisya di sebuah ruangan gelap dengan tangan yang sudah bersimbah darah.ia segera menghampiri Alisya dan memeluknya sambil terus menangis.mendapat perlakuan seperti itu Alisya hanya diam dengan tatapan kosong,ia terlalu lelah hanya untuk membalas pelukan Elma.

"Kenapa lo disini sya?" tanya Elma sambil terus mengeluarkan air mata melihat keadaan sahabatnya yang jauh dari kata baik baik saja.

"Kalo ada masalah cerita sama gue," lanjut Elma sambil terus mengguncang tubuh Alisya yang terasa sangat rapuh.

"Kenapa gue baru tahu sekarang?" tanya Alisya dengan suara parau nya tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.

"Kenapa gue baru tahu setelah kakak gue udah gak ada?" tanya nya lagi sambil menatap Elma dengan tatapan kosong.Elma tertergun mendengar hal itu,dari mana ia tahu semua itu? Pasalnya tak ada seorang pun yang berani mengungkap kematian Sasya karena jika itu terjadi Alfio tak segan segan untuk membunuh nya.

"Ki-kita pulang ya Sya,lo harus istirahat," bujuk Elma dan mengenggam tangan Alisya.

"Lo pasti tahu semua ini,kenapa lo gak pernah ngasih tahu gue," tatapan Alisya menghunus tajam,ia menghentakkan tangan Elma cukup keras.

"Sya,lo harus istirahat jangan kayak gini," Elma terus membujuk Alisya agar ia menuruti perkataannya.

"Gu-gue harus pergi," ucap Alisya saat mengingat sesuatu.Alisya pergi meninggalkan Elma dengan keadaan kacau,Elma hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

Alisya menghubungi Lentera untuk bertemu di sebuah taman,ia harus menanyakan sesuatu yang bersangkutan dengan kematian Sasya.

Setelah beberapa menit menunggu,akhirnya Lentera datang dengan wajah kebingungan,pasalnya ia merasa aneh saat Alisya ingin menemuinya.

Perhatian Lentera teralihkan saat melihat luka di tangan Alisya,ia terlihat sangat khawatir melihat darah yang tak berhenti menetes,tapi dengan cepat Alisya menyembunyikan lukanya dan tersenyum tipis yang di paksakan.

"Lo pasti kenalkan sama foto ini?" tanya Alisya sambil memberikan selelmbat foto dari sakunya.

Raut wajah Lentera berubah menjadi murung setelah melihat foto nya,satu air mata lolos membasahi pipi nya.

"Gue tahu lo pasti terpuruk," ucap Alisya sambil menepuk pundak Lentera pelan.

"Sasya yang selalu nolong gue setiap gue di bully," jelas Lentera sambil mengusap pelan Foto Sasya yang terlihat ceria saat itu.

"Di bully?" tanya Alisya memastikan,Lentera mengangguk sebagai jawaban.

"Saat SMP gue sama Sasya satu sekolah,dia yang selalu jadi garda terdepan waktu gue dibully," Lentera berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.

"Dia selalu terluka gara gara gue,tapi setelah kelulusan kami berpisah,gue pindah ke kota lain karena pekerjaan orang tua gue,"

"Setelah mendengar kematian Sasya gue kembali kesini,karena gue ngerasa jadi pengecut.selama beberapa tahun ini gue selalu terpuruk," pipi Lentera telah basah karena air matanya terus mengalir deras.

"Waktu gue ketemu lo,dari situ gue yakin kalau lo itu adik Sasya yang pernah dia ceritain," dengan cepat Alisya menyeka air mata nya yang berhasil lolos membasahi pipinya.

"Ma-maafin gue yang terlalu kebawa suasana," ucap Lentera dan mengusap air mata nya.

"Gue ngerti,itu pasti sakit banget buat lo," jawab Alisya sambil mengulas senyum yang di paksakan.

Hari sudah mulai gelap,mereka sama sama pamit untuk pergi ke rumah nya masing masing,Mereka melesat pergi dengan mengendarai motor nya.

Aku up lagi nih,seperti biasa kalo mood aku bagus nanti up lagi.

Vote+komen=menghargai karya author.

Bay.

Belva Sena [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang