Nazwa termenung di sudut kamar, menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Fikiran nya kini tak menentu, sejak kemarin Nazwa merasa terus gelisah memikirkan perasaan Ning Amara kepada suaminya. Jujur saja Nazwa sangat takut jika suatu saat nanti beliau mengambil Gus Raka dari Nazwa.
"Ya Allah pusing nya. " Keluh Nazwa sembari menutup mata.
"Pusing kenapa Naz? " Mata Nazwa seketika kembali terbuka begitu mendengar suara sahabat nya. Nazwa tersenyum menggeleng pelan, lebih baik dia tidak memberitahukan apapun kepada sahabat nya, sebab ini adalah permasalahan rumah tangga mereka.
"Ngga.. Ngga ada apa-apa. Cuma pusing banyak yang harus dihafal. " Jawab Nazwa.
"Ouh kirain apa.. Tumben bener kamu ngeluh, biasa nya juga hafalan banyak santai aja. " Ucap Sania
"Kali ini rasanya agak beda. "
"Yaudah ayok masuk kelas bentar lagi pelajaran Ustadz Banu dimulai. " Ajak Melia.
"Iyaa. "
*****
Setelah selesai mengikuti kelas, Nazwa berniat ingin kembali ke Ndalem sebentar. Seperti biasa Nazwa hendak membantu sang Uma menyiapkan makan siang untuk semua.
Begitu Nazwa memasuki Ndalem, seketika Nazwa dibuat terkejut oleh hadirnya seseorang bersama dengan Uma Aminah. Benar, orang itu adalah Ning Amara, mereka sedang sibuk memasak bersama.
"Assalamu'alaikum Umaa.. Ning. " Sapa Nazwa membuat kedua orang dihadapanya seketika menoleh bersamaan.
"Waalaikumsalam Nazwa. " Jawab Uma Aminah.
Nazwa dan juga Ning Amara saling tatap untuk beberapa saat, bisa Nazwa lihat jika Ning Amara menarik tipis sudut bibirnya.
"Baru selesai nak? " Tanya Uma Aminah berhasil membuat Nazwa kembali tersadar.
"Ah iyaa Umaa.. Hmm ada yang perlu Nazwa bantu Uma? " Ucap Nazwa memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Namun dalam hati Nazwa mulai tidak suka dengan Ning Amara, sekarang wanita itu sudah berani mengambil tugas Nazwa biasanya.
"Udah selesai semua nak, tadi dibantuin sama Ning Amara. Sekarang kamu bisa kembali ke Pesantren saja, Uma takut nanti kamu bisa kecapean. " Jelas Uma Aminah dengan nada lembut.
"Ngga ko Uma.. Nazwa ngga cape, kalo gitu Nazwa bantuin bawa ke meja makan aja yaa? " Tawar Nazwa.
"Yasudah kalau seperti itu, kamu bawa nasi nya biar Uma bawa lauk. " Titah Uma Aminah mengambil semangkuk lauk kemudian pergi lebih dulu meninggalkan Nazwa bersama dengan Ning Amara.
Nazwa tak memperdulikan keberadaan Ning Amara, dan memilih untuk segera membawa nasi tersebut, tapi baru satu langkah Nazwa berjalan sontak saja Ning Amara kembali berbicara.
"Satu tugas kamu sudah bisa saya ambil, Ning.. Dan suatu saat suamimu yang akan saya ambil juga. " Gumam Ning Amara tersenyum licik.
Nazwa membalikan badan menatap Ning Amara dengan wajah datar.
"Hanya dengan membantu Uma sekali, kamu sudah besar kepala seperti itu, Ning.. Kamu harus tau, saya tidak akan pernah memberikan kesempatan kamu untuk mendekati suami saya. " Tegas Nazwa. Tangan yang sejak tadi memegang wadah nasi langsung mengepal dengan kuat. Nazwa masih tidak mengira jika seorang Ning seperti Ning Amara mempunyai sikap rendah seperti itu, bahkan beliau sama sekali tidak mencerminkan status nya.
"Kita lihat siapa yang akan menang. " Gumam Ning Amara tersenyum licik.
Nazwa sabar.. Sabar.. SABAR.. Inget kamu lagi di Pesantren, jadi jangan jadi reog disini. Batin Nazwa sebelum pergi dari dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Untuk Nazwa [TERBIT]
Jugendliteratur16+ ⚠AWAS BAPER!!!⚠ Author ga tanggung jawab "Gus Rakaa!" panggil Nazwa kembali disertai sedikit godaan. "Iyaa?" jawab Raka dengan wajah datar. "Nazwa boleh nanya?" "Silahkan!" "Boleh ngga Nazwa jadi istri nya Gus?" tanya Nazwa. Seketika kedua alis...
![Cinta Untuk Nazwa [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/160243166-64-k793056.jpg)