Entah sejak kapan Atlas sudah duduk diantara para pamuda dengan seragam Alpadia itu. Setelah kejadian yang membuatnya hilang kendali tadi, ia diajak nongkrong di cafe.
Suasana terlihat ramai di indoor karena sebagian besar diisi anak Alpadia yang tengah mengobrol dan bercanda. Sedangkan disisi lain, Atlas dan Vincent duduk menepi. Tadinya ada Mada disana, tapi pemuda itu pamit pergi untuk mengangkat panggilan.
"Algis, kakak lo itu kemana?"
Sudah Atlas duga. Pasti salah satu dari mereka akan bertanya tentang apapun mengenai dirinya.
"Mati." Ujar Atlas dingin.
Vincent melirik. Adik kelasnya itu tengah sibuk dengan ponselnya sejak mereka tiba disana. Bahkan beberapa kali ia menangkap raut kesal di wajah Atlas.
"Terus, kenapa lo anggap Mada itu kakak lo?" Heran Vincent.
"Berisik lo."
Pemuda itu menghela napas ketika mendapat respon tak menyenangkan dari Atlas. Dari cara bicaranya saja Vincent tahu jika Atlas orang yang keras dan penuh amarah.
Dilain sisi, Atlas tengah menahan kesal setengah mati. Susah payah dirinya mencari jejak lelaki itu. Tinggal selangkah lagi setelah bertahun-tahun ia mengejar bak orang gila dan semua akan berakhir. Tapi, karena kejadian tak terduga lelaki itu kembali lolos.
"Sialan!" Umpat Atlas.
Vincent menoleh penasaran. Mengamati gerak-gerik Atlas dari menempelkan ponsel ke telinga hingga menyingkir ke tempat yang lebih sepi. Dari jauh saja Vincent melihat Atlas seperti orang frustasi.
"Kenapa tuh anak?"
Tanpa mengalihkan pandangan, Vincent menjawab pertanyaan Chahel yang baru saja datang.
"Gila." Jawab Vincent asal.
Dilain sisi Atlas menahan kesal setengah mati. Akeil yang ia beri perintah mengawasi bar tempo hari kehilangan jejak lelaki yang selama ini Atlas cari. Seharusnya Atlas datang kesana. Dan perburuan selama bertahun-tahun akan berakhir dengan menyiksa lelaki itu.
"Find him! Or you who will die." Kata Atlas mengintimidasi.
Tidak. Atlas tidak akan pernah melepaskan lelaki itu. Sepanjang hidupnya, ia sudah berjanji akan menjaga adik yang paling ia sayangi. Tapi, dengan mudahnya janji itu hancur berkeping-keping saat ia baru saja menghabiskan waktu dengan sang adik.
"Shut up! Daddy gak boleh tahu. Pak tua itu udah gak berguna." Ujar Atlas lugas.
Memang seperti itu kenyataannya. Hanya dengan satu pukulan keras, lelaki tua itu kini terpuruk dalam rasa bersalah. Walau masih keras dan dingin seperti dulu, lelaki itu kini hanya menjadi seorang ayah yang gagal.
"Mau kemana lagi lo, Da?" Tanya Chahel penasaran.
"Ada urusan bentar. Nanti gue balik lagi." Jawabnya berlalu.
Atlas menoleh dan mendapati Mada mengambil jaket. Pemuda itu terlihat terburu-buru keluar cafe sesudah berpamitan. Menghiraukan itu, Atlas mengirim pesan pada salah satu bawahannya. Bukan Akeil pastinya.
"Ini lagi bocah, mau kemana." Ujar Kairo mengamati pergerakan Atlas.
"Bilang sama Algis, temuin gue besok di outdoor kantin saat makan siang." Kata Atlas.
Melihat pemuda itu pergi, Kairo dan Jay saling memandang. Seolah berbicara tanpa suara.
"Vin, ini gak apa-apa biarin dia pergi? Mada nyuruh kita buat nahan Atlas disini sampai dia balik." Tanya Jay. Keputusan lelaki itu bisa dipertanggungjawabkan.
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)