27. TEMAN

3.2K 339 10
                                        

Bugh

Mada tersungkur saat sang ayah memukul tepat di pipinya. Ia memegang wajahnya yang terasa ngilu. Hal seperti ini sudah sering Mada dapatkan saat berbuat salah.

"Setelah aku menyelamatkanmu, sekarang kau ingin menyerahkan nyawamu secara suka rela?" Todong Ace. Wajah pria itu merah seolah menjelaskan betapa marahnya dia.

Menyelamatkan katanya? Bahkan Mada tak pernah ingin berada diposisi ini. Selamat sendirian tak pernah ada di opsinya.

Dari bawah, Mada menatap nyalang sang ayah. Walau mendapat pendidikan keras dari pria itu, ia tak pernah takut melawannya.

"Aku bisa mengurusnya sendiri." Tekan Mada.

Ace menghela napas berat. Ia menatap tak percaya pada putranya yang kini telah berdiri dengan sorot tajam.

"Dengan menempatkan orang lain ke dalam bahaya?" Tanya Ace telak.

Mada mengalihkan pandang saat kalimat Ace tepat menusuk egonya. Semua yang berada disisinya tak akan pernah selamat. Itu kebenarannya.

"Kita punya misi disini. Ingat! Jauhi mereka yang tak pernah ada dalam rencana. I know, kau rindu padanya. Tapi, ada yang lebih penting dari itu." Ujar Ace memperingati.

Ruangan kecil itu terasa hening saat dua pria berbeda generasi itu saling hanyut dalam pikiran masing-masing.

"Satu bulan."

Sebelah alis Ace terangkat. Menunggu kalimat selanjutnya dari sang putra tunggalnya.

"Ini akan selesai dalam satu bulan. Lalu berjanjilah, kau tidak akan mengusik apapun yang aku lakukan." Kata Mada penuh keyakinan.

Ace tersenyum penuh arti. Walau ini tak adil baginya, ia rasa mengorbankan satu hal tak akan pernah membuatnya menyesal.

"Kerjakan tugasmu." Katanya berlalu pergi meninggalkan bangunan kecil itu.

****

"Bang Mada dari mana?"

Semua orang di penjuru kantin melirik penasaran pada anak yang memanggil Mada dengan akrab. Apalagi seorang Mada rela berjalan jauh dari gedung SMA yang tak dekat itu hanya untuk menghampiri anak baru.

"Dari toilet. Kenapa belum dimakan bekalnya?" Ujar Mada.

Remaja itu duduk di sebelah Ammar yang menunggu Carel membuka bekal dari Emiko.

"Kak Carel baru jemput tadi. Soalnya gak ada yang ngajak aku kesini." Kata Ammar sedih.

Ammar agak kecewa saat tak ada yang menghampirinya saat jam istirahat. Ia sudah berekspetasi terlalu tinggi untuk mempunyai banyak teman di hari pertamanya sekolah.

Kedua remaja berseragam SMA itu saling pandang. Tau jika hal ini akan terjadi. Bahkan Carel saja tak punya banyak teman karena marga Dawson. Ditambah lagi ia yang mempunyai kepribadian dingin dan acuh membuat sebagian orang menghindar.

"Kamu mau teman?" Tanya Carel.

Dengan cepat Ammar mengangguk antusias. Ia menatap Carel berbinar dengan senyum manis. Matanya mengikuti pergerakan Carel dari berdiri hingga keluar dari pintu kantin.

"Jangan melihatnya terus. Makan, sebentar lagi kelas akan mulai." Mada menggeser kotak makan ke hadapan Ammar dan menyerahkan sendoknya.

"Bang Mada gak makan?" Ammar memasukkan satu sendok penuh berisi nasi dan telur.

"Udah."

Bukannya Ammar tak melihatnya, ada lebam di pipi dan sudut bibir Mada yang terluka. Tapi, ia tak berani bertanya hal pribadi. Ammar hanya harus menjadi anak penurut dan diam seperti biasa. Semua pasti akan baik-baik saja.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang