17. HANYA MIRIP

6.2K 606 11
                                        

"Gue titip Ammar." Ujarnya menatap datar pemuda di depannya.

Mada memalingkan wajah saat melihat Ammar menatapnya berkaca-kaca. Sebenarnya ia tak mau meninggalkan anak itu pada musuhnya, tapi Mada maupun Sarah harus pergi ke Singapura beberapa hari.

Pemuda itu mengambil langkah menuju mobil di luar gerbang kediaman Dawson. Ia lebih baik menunggu sang ibu disana selagi berpamitan dengan Ammar.

"Hey, sayang jangan nangis. Mami janji bakal cepet pulang." Sarah menangkup wajah Ammar dengan dua tangannya.

"Kalau gitu biarin aku tinggal di kos aja. Gak mau disini. Nanti pasti kakak bakal nengok Ammar kok." Ujar Ammar sedih.

Mendengar itu, Sarah jadi makin khawatir jika Ammar akan kabur dari rumah dan pergi menemui pria itu. Ia menatap wanita lain yang sedari tadi hanya memperhatikan.

"Nak, tempat ini lebih aman. Mami gak mau kamu ketemu sama Atlas. Gak apa-apa, ada Tante Emi disini." Kata Sarah mengusap wajah Ammar.

Sepertinya Ammar tak punya kesempatan untuk menolak. Baru saja ingin berbicara, Sarah sudah berdiri dan mengalihkan pandang ke arah Emiko. Ia bahkan tak bisa bergerak leluasa karena lengannya di genggam kuat oleh Eros.

"Saya titip, Ammar."

"Sebentar lagi dia akan jadi putraku juga. Anda bisa mempercayai kami, Nyonya Sarah." Ujar Emiko tersenyum tipis.

Saat mobil itu menghilang dari pandangan, Ammar hanya bisa menatap nanar. Ia tak berani mengeluh lebih banyak pada Sarah begitu juga Emiko.

"Lepas!"

Ammar menggerakkan tangannya mencoba bebas dari jeratan Eros. Pemuda itu juga melepaskan cekalannya karena sudah ditatap tajam oleh anak di depannya.

Emiko menyamakan tingginya dengan Ammar. Mengalihkan pandangan remaja kecil itu untuk menatap dirinya penuh.

"Sayang, maafin Kak Eros ya? Dia hanya salah paham sama kamu." Ujar Emiko tersenyum harap.

"Maksudnya?" Tanya Ammar bingung.

Wanita itu tersenyum kecil. Ammar sepertinya sudah bisa diajak mengobrol. Kata Sarah, anak itu akan diam saja ketika membahas soal adopsi ataupun tentang Eros. Ini adalah kesempatan.

"Ayo, ikut tante. Ada yang mau Tante Emi tunjukkan ke Ammar."

Emiko menuntun Ammar untuk duduk di sofa ruang tengah disusul Eros yang duduk bersebelahan dengan anak itu walau beberapa kali Ammar bergeser menjauh.

Mata yang basah akan air mata itu menatap Emiko yang mengambil sebuah album dari lemari tak jauh dari sana. Pandangannya tak lepas sampai wanita cantik itu duduk di sisi lain Ammar yang kosong.

Lembar pertama ada foto keluarga dengan baju tradisional Jepang.

"Ini keluarga tante. Ada Kakeknya Eros, Nenek, sama saudarinya Tante Emi. Namanya, Hana Akiara."

Ammar memperhatikan. Ada beberapa lembar yang menunjukkan foto dua bersaudari itu saat masih kecil hingga beranjak dewasa.

"Ini Kak Nial?" Tunjuk Ammar pada foto  balita dengan sleepsuit berwarna biru.

"Bukan. Ini anak bungsu Tante Hana. Dia manis sekali, kan?" Tanya Emiko dengan raut antusias.

Remaja kecil itu mengangguk. Saat lembaran lain terbuka, Ammar tidak menemukan foto serupa. Hanya ada beberapa foto anak lelaki dengan raut dingin. Saat lembaran terakhir, ada remaja yang tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat.

"Anak bungsu Tante Hana?"

Saat Emiko menggeleng, Ammar tahu ia salah menebak. Wajah remaja difoto itu, kenapa ia merasa tak asing.

"Kalau ini, namanya Akio. Dia putra keduanya saudari tante." Ujar Emiko.

Album itu ditutup. Lalu Emiko memandang Ammar yang juga ikut memperhatikannya.

"Ammar tahu kenapa Tante Emi tunjukkan foto-foto ini?"

Sudut bibir Emiko melengkung ke atas hingga menampilkan senyum pedih dan rasa penyesalan. Ammar yang tak mengerti hanya bisa menepuk pelan kedua punggung tangan Emiko.

Hingga saat wanita itu mengambil ponselnya dan menunjukkan satu foto berisi anak kembar. Matanya melebar tak percaya. Kenapa dirinya ada di gambar itu.

"Mirip sekali, kan? Dia anak bungsu Tante Hana. Namanya Nehan Caldwell Reyes."

Hah! Ammar tak percaya ini. Semua kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini saling berkaitan. Seolah tali kusut yang memenuhi pikiran terbentang saling menghubungkan.

"Maafkan Eros, sayang. Kamu tahu? Mada mirip sekali dengan mendiang putra ketiga Hana Akiara. Eros tidak suka dengan keluarga mereka." Jelas Emiko.

"Reyes? Jadi, orang malam itu– maksudku Kak Atlas." Ammar bergumam tak jelas. Ia syok.

Ammar membisu. Tidak, Ammar tak bisa berpikir jernih. Ia merasa takut. Orang itu, Ammar melihat dengan jelas bagaimana kedua mata itu menatapnya seolah tak akan membiarkannya lepas.

"Aku bukan Nehan, Tante." Gumam Ammar. Ia menoleh dan menatap Emiko meyakinkan.

"Tante percaya. Nehan sudah meninggal tujuh tahun lalu. Kalau memang masih hidup, umurnya akan sama dengan Atlas."

Emiko membawa Ammar pada pelukannya. Ia mencoba memberikan rasa aman. Tangan yang gemetar dan raut panik itu, trauma Ammar kambuh.

"Tenang, sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Tante akan melindungi kamu apapun yang terjadi." Ia mengecup pucuk rambut Ammar.

Ya, sebagai penebusan rasa bersalahnya pada Hana atas janji yang tak dapat ia penuhi. Kalau saja ia bergerak lebih cepat, maka ia akan tahu jika Hana telah meninggal saat kakaknya itu hilang kabar. Lalu ia bisa segera mengambil alih hak asuh Nehan dan semua tak berakhir seperti ini.

Telinganya berdengung. Ammar tak mendengar apapun. Semua berantakan. Kenapa dia tak bisa hidup tenang sekali saja. Seolah bahaya tak mau lepas dari dirinya.

Tubuhnya membeku. Ia teringat pada satu orang. Mada memang pernah berjanji akan melindunginya dari apapun. Tapi, saat itu ia melihat ada tatapan ragu dimatanya. Ia melepaskan pelukan dan menatap Emiko.

"Kak Vince. Tolong cari dia, Tante Emi. Aku– maksudnya aku mau Kakak." Suara tangis menggema. Ia tak mau bertemu lagi dengan Atlas.

Pemuda yang sedari tadi hanya memperhatikan kini mengerutkan dahi bingung. Vince? Tidak mungkin kan orang yang dimaksud oleh Ammar adalah lelaki yang ia kenal. Apa Mada tahu hal ini?

Srek

Eros menarik lengan Ammar hingga mereka bertatapan. Ternyata mereka tertinggal jauh. Sudah ada bahaya yang mendekati Ammar selama ini.

"Lo– dari mana lo kenal sama Vince?" Sorot mata Eros menuntut.

Seingat Eros ayahnya pernah bilang jika jejak terakhir Vince ada di Swiss. Lelaki itu ada di salah satu kota disana. Tapi, sepertinya ada orang dibalik persembunyian Vince yang tak pernah ditemukan.

Tangan itu terlepas dari genggaman Eros setelah ia memberontak kecil. Ammar mendekatkan diri pada Emiko. Tatapan tajam Eros tak pernah gagal membuatnya ciut.

"Jawab!"

Tubuh Ammar terjingkat mendengar suara Eros yang meninggi. Ia berusaha menghindari sorot mata Eros. Ammar baru teringat jika ia harus merahasiakan pertemuannya dengan Vince.

"G–gak tau."

Sekali lagi Eros menarik wajah Ammar agar menatap tepat pada wajahnya.

"Apa lo tau? Vince itu pembunuh. Dia yang bunuh Nehan sama Algis."

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang