39. AMBISI

2.4K 229 5
                                        

"Kak Vince!"

Langkah kecil itu berlari menghampiri seorang pria yang tengah duduk di sebuah kafe pinggiran kota. Vince hampir saja tersedak saat sebuah tangan kecil menubruk tubuhnya.

"Ekhem, kamu ngapain kesini?" Tanya Vince bingung. Ia menyambut tangan Ammar dan membawa anak itu dalam gendongannya.

Bukannya menjawab, remaja kecil itu malah terisak didada Vince. Jelas sekali ia panik saat suara tangis Ammar makin kencang hingga menarik atensi para pengunjung.

"Hey, kenapa menangis? Apa ada yang menyakitimu lagi? Bilang pada Kakak." Tanya Vince beruntun.

"Jangan pergi." Ammar mengeratkan cekalannya pada kemeja hitam yang dipakai oleh Vince.

Vince bungkam. Ia tak dapat menjamin apapun akan tetap berada disisi Ammar. Tugasnya menjaga anak itu sudah berakhir. Ammar telah kembali pada keluarga kandungnya. Ia yakin, Karl tidak akan membiarkan putra bungsunya masuk dalam bahaya.

"Sepertinya aku butuh popcorn dan cola." Ujar Akio menatap drama di depannya jengah.

Kepalanya menoleh. Vince berdecak sebal ketika tau ini adalah ulah Akio. Padahal ia menyuruh anak itu untuk mengantarkan Ammar pulang dan memberi peringatan pada Karl Dawson tentang Noah. Kenapa jadi begini!

"Sebelum itu akan aku buat matamu buta selamanya." Kata Vince tanpa suara. Ia tak mau membuat Ammar tambah ketakutan saat mendengar perkataannya.

"Wah, menakutkan." Akio membalas ucapan Vince dengan ekspresi datar.

Meninggalkan dua lembar uang merah di meja, Vince beranjak menuju mobil Akio. Baru saja hendak menurunkan Ammar dijok belakang, anak itu malah mengeratkan pelukan.

Menghela napas sejenak, akhirnya Vince duduk disamping kemudi dengan Ammar dipangkuannya.

"Rupanya kamu tuli ya, Akio. Aku bilang pulangkan dia pada ayahnya. Bukan padaku!" Vince yang hendak memukul kepala Akio urung saat melihat darah yang telah mengering.

"What? Setidaknya ucapkan terima kasih. Aku masih punya hati untuk membiarkanmu mengucapkan selamat tinggal pada adik pungutmu itu." Mendengar kalimat Vince, Akio jadi merasa dongkol.

"Selamat tinggal? Emang Kak Vince mau pergi kemana?" Ammar menyela obrolan keduanya. Ia mendongak dan menatap wajah Vince menuntut jawaban.

"Ke neraka." Jawab Akio asal.

Vince mendelik. Tangis yang tadinya sedikit reda, kini mulai meninggi lagi. Sungguh, Vince bertanya-tanya bagaimana Akio dulu berbicara pada mendiang adik bungsunya. Mulut anak ini memang tidak bisa dijaga.

"Jangan dengarkan orang gila itu. Kakak tidak pergi kemanapun." Vince tau ucapannya tidak bisa dipegang. Namun, untuk saat ini biarlah kalimat itu untuk pengantar ketenangan.

"Dasar pembual."

Akio menyalakan mesin mobilnya. Ia akan mengantarkan bocah itu pada keluarganya. Tak mau merusak momen, Akio sengaja memelankan lajunya.

Dari sudut matanya, Akio melihat dengan jelas. Bagaimana Vince yang dulu punya ambisi besar untuk balas dendam kini berganti menjadi sosok yang lebih manusiawi.

Merasa tak nyaman dengan kepalanya, sebelah tangan Akio mengusap daerah yang terkena pukulan. Area itu terasa sedikit nyeri. Ia tak punya banyak waktu untuk mengobatinya. Sehingga dengan bahan seadanya, Akio hanya mencoba menghentikan pendarahan.

"Apa kamu sudah mau sekarat?" Ujar Vince membenarkan dekapan Ammar agar lebih nyaman untuk anak itu yang kini terlelap.

"Sialan! Adikmu memang harus diberi pelajaran. Bukankah dia tidak punya sopan santun?" Umpat Akio mengingat kejadian tadi.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang