PROLOG

1.4K 44 5
                                        

Akio tidak ingin punya anak!

Prinsipnya memang begitu, tapi saat jenuh Akio akan berakhir di ranjang dalam private room sebuah kasino. Begitu membuka mata di pagi hari, wanita yang tidur dengannya hilang.

"Mereka itu naif dan polos. Dapat benih lo terus kabur, wanita memang mudah ditebak." Vincent muncul dari balik pintu, menggeleng sudah tak heran lagi dengan tingkah Akio.

"Berisik! Lebih baik cari dan bunuh wanita itu. Aborsi atau apapun tidak akan menyelesaikan masalah."

"Lakuin aja sendiri."

Akio berdecak kesal. Sebenarnya siapa yang bos disini. Dia sudah berbesar hati menerima bocah tengik itu sebagai asisten pribadinya, tapi sekarang Akio menyesal.

"Kamu aku pecat. Orang tidak berguna sepertimu tidak aku butuhkan. Pergi, aku bisa mengerjakannya sendiri." Usir Akio jengah.

"Oke. Gue udah pesen tiket liburan ke maldives satu minggu. Jadi, selama gue pergi jaga diri dan beresin semuanya tanpa gu-e!" Vincent menekan tiap kata agar Akio yang telinganya agak bocor mendengarkannya.

"Kamu–"

"Oh iya, sekalian gue ingetin. Wanita yang lo tidurin tiga belas tahun lalu sekalian cari. Katanya lo bisa sendiri, kan?!" Ujarnya tersenyum lebar. Dia dengan riang meletakkan paper bag berisi pakaian dan sarapan untuk Akio.

Hanya mengandalkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya, Akio menurunkan kakinya dari ranjang. Duduk menghadap jendela kaca besar sembari memantik api ke rokok di sudut bibirnya.

"Itu salah satu tanda kalau kamu tidak berkompeten. Membunuh satu wanita itu saja kamu tidak bisa, payah!" Ejek Akio.

"Tepat sekali. Orang payah ini yang beresin semua masalah lo lima belas tahun belakangan. Makasih buat gue." Vincent masih mempertahankan senyum sinisnya.

Saking kesalnya mendengar nada tengil pemuda itu, Akio hampir menggigit rokoknya. Gara-gara untuk menguji kemampuan Vincent yang datang padanya meminta dijadikan bawahan, Akio kehilangan jejak salah satu wanita malamnya.

"Setidaknya pekerjaan kakakmu lebih bersih dari ini. Kamu sama sekali tidak mirip dengannya!" Akio menatap lamat Vincent yang membuka jendela lebar. Hanya wajah menyebalkan mereka yang sama persis.

"Ya, memang. Vince sama gue bukan saudara kembar. Kalau gitu, gue pergi dulu." Ujarnya melambaikan tangan meledek Akio.

"Sialan, jangan kembali!"

Vincent yang baru saja menutup pintu kembali melongok dari celahnya.

"Kalau selama gue liburan lo dapat pengganti, dengan senang hati gue mengundurkan diri. Bye, Akio!"

Hening menguasai ruangan setelah kepergian Vincent. Akio mendengus tak percaya jika dia mempekerjakan bocah ingusan macam Vincent selama belasan tahun. Seingatnya, pemuda itu keras kepala dan tempramental semasa sekolah dulu.

Lupakan, dia punya pekerjaan yang lebih penting. Walau informasi yang pernah didapatnya menyatakan wanita itu lemah dan mandul, tidak menutup kemungkinan dia akan kembali pada Akio dengan anak palsu sebagai ajang memanfaatkannya.

"Tidak peduli ada atau tidak, anak itu harus mati!"














Hai guys!

Ada yang masih buka lapak ini??

Maaf ya, Cece masih agak bingung mau buat cerita yang mana jadi suka up terus dihapus hehehe

Nah, niatnya sih lanjutin yang ini

Tapi waitt

Masih ada yang nunggin kah??

Atau

Ada rekomendasi lain

Kuy penuhin komennya!!

Oh iya, kalau suka yang ini Cece bakal buat ini jadi prolog cerita baru...

Yuhuu..

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang