31. MASA LALU MADA

3K 262 11
                                        

Mada tak tau sudah berapa lama ia berada disana. Kedua tangannya masih dirantai melintang. Lalu beberapa kali seseorang datang dan mencecokinya air minum dan makanan.

Walau beberapa bagian tubuhnya terasa sakit, Mada bersyukur ia sudah bisa melihat dengan jelas karena tempo lalu ada orang yang menyiramnya. Membuat darah yang saat itu mengalir hingga kelopak matanya sedikit bersih.

Ruangan itu gelap. Hanya ada satu lampu tepat diatasnya yang menyala. Ia tak bisa melihat apapun. Bermodalkan suara saja beberapa hari ini Mada menganalisis keadaan.

"Dia tidak mati kan?"

Sayup-sayup Mada mendengar suara seseorang dibalik kegelapan. Namun ia tetap menunduk dengan mata tertutup.

"Ck, mana mungkin. Luka tembaknya saja sudah kita obati. Kalau dia mati kita bisa dihabisi oleh Tuan." Ujar yang lainnya.

"Sepertinya dia tidur. Biarkan saja, kita harus keluar. Sebentar lagi Tuan akan berkunjung."

Mada mendongak saat mendengar suara pintu tertutup. Ia melirik kaki kirinya yang sempat tertembak. Lalu helaan napas kasar terdengar.

Pemuda itu terkekeh. Ia merasa de javu dengan kejadian ini. Dulu Mada juga pernah diculik saat berusia sebelas tahun. Masa kelam yang membuat Mada benci dengan marga sang ayah.

Waktu itu ia berhasil melarikan diri dari para penculik setelah mereka menyiksanya dengan membakar separuh wajahnya. Berlari menyusuri hutan ditengah kegelapan malam.

"Kalau gue gak sembunyi disitu pasti kita gak pernah ketemu kan, Algis." Gumam Mada.

Tawa pedih terdengar memenuhi ruangan. Ketika ingat malam itu ia bersembunyi di dekat bebatuan sungai dibawah jurang. Hingga ia bertemu dengan Algis yang terluka parah.

"Siapa?"

Mada kecil itu beringsut terkejut saat melihat seorang pemuda berlumuran darah dan basah kuyup. Ia makin merapatkan diri ke bebatuan besar dengan menutupi sebagian wajahnya.

"Nehan, apa itu kamu?"

Algis berdiri. Berjalan tertatih untuk mendekat ke tempat anak itu. Ia tak dapat melihat dengan jelas karena gelap dan pening.

"Ah, ternyata bukan." Pemuda itu mengusap wajahnya frustasi.

"Dimana anak itu?! Cepat cari atau Tuan akan marah besar."

Sebuah suara terdengar dari atas jurang. Algis mendongak dan mendapati cahaya yang bergerak acak. Lalu beralih pada anak kecil yang ia temukan.

"Mereka mencarimu?"

Algis terduduk di sebelah Mada karena tak bisa menopang tubuh lagi. Ia seolah berbicara sendiri karena anak itu tak mengeluarkan suara apapun.

"Heh, menyedihkan." Gumam Algis.

Mada kecil hanya memperhatikan. Ia rasa pemuda itu bukan bagian dari komplotan penculik. Melihat luka separah itu si pemuda masih bisa berdiri, Mada kira bisa meminta pertolongan.

"Adik–"

Dahi Algis mengernyit saat satu kata gumaman keluar dari bibir si kecil.

"Kau bilang apa?"

Bibir Mada bergetar. Sebelah tangannya masih menutupi bagian wajahnya. Lalu yang lain menunjuk ke arah hutan hingga Algis mengikuti arah tunjuk.

"Adikku masih disana." Ujar Mada lirih. Ia berpisah dengan sang adik saat berusaha mengambil atensi para penculik.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang