23. DUA WAJAH

4.6K 402 21
                                        

"Lo pernah mikir gak sih rumah Mada ada dimana?" Ujar Jay random.

Kairo yang sedang meniup baksonya karena masih panas melirik pada pemuda disebelahnya heran. Benar juga. Selama mereka berteman dengan Mada, lelaki itu tak pernah mengajak temannya untuk sekedar main ke rumah.

"Bokap sama nyokapnya aja kita gak tau." Sahut Kairo.

Pemuda dengan seragam basket Alpadia itu bertopang dagu. Mengetuk jari telunjuknya di kening. Mereka tak tau apapun mengenai Mada ternyata.

"Udah, makan aja tuh bakso. Otak lo itu jarang mikir, jadi butuh tenaga ekstra." Kata Chahel menyela.

"Sialan lo. Gini-gini juga gue lulus ujian masuk Alpadia yang susahnya kayak minta balikan sama mantan." Cibir Jay sebal.

"Kayak yang pernah punya cewek aja lo, Jay." Ejek Kairo.

Jay yang merasa ternistakan memilih bergeser menjauh dengan mangkok baksonya. Ia lelah setelah bertanding basket dengan sekolah lain sebagai ajang persahabatan.

"Tapi, kenapa Mada belum berangkat sekolah? Kemarin katanya dia udah balik dari luar negeri."

Kini Chahel jadi ikutan penasaran. Anak itu menatap Vincent yang diam dengan ponselnya. Pemuda satu itu sudah kenal dengan Mada sejak SMP. Ada kemungkinan Vin tau sesuatu tentang Mada.

"Ammar sakit." Ujar Vincent saat tau ada seseorang yang menatapnya.

"Lah, si bocil kenapa? Terus kok gue gak pernah liat dia di tempat kerjanya lagi." Kata Jay terkejut.

"Dia dirawat di rumah sakit." Jawab Vincent jengah.

"Rumah sakit mana?"

Sebuah suara mengintrupsi dari belakang tubuh Jay membuat si empu yang sedang memakan baksonya tersedak karena terkejut.

"Uhuk.. uhuk.. anjir lo. Kalau muncul kasih aba-aba dong." Jay menepuk dadanya untuk meredakan batuk.

"Kenapa gue harus kasih tau lo, Atlas?" Vincent tersenyum miring saat melihat raut kesal adik kelasnya itu.

"Lo gak tau? Ammar itu adik sepupu gue sekarang." Balas Atlas menyorot tajam.

"Kalau gitu seharusnya lo tau dong Ammar sekarang ada dimana. Kita bukan siapa-siapa dibanding lo yang keluarganya." Sahut Chahel.

Tanpa peduli dengan kalimat itu, Atlas meringsek maju. Ia berdiri tepat di samping Vincent. Dua pemuda dengan mata tajam itu memandang lurus ke depan.

"Dimana?"

Vincent terkekeh saat nada penuh ancaman itu keluar dari mulut Atlas.

"Kenapa lo gak tanya langsung sama Daddy lo itu?" Vincent melirik. Hingga tatapan keduanya bertemu saling mengintimidasi.

"Lo ketinggalan satu langkah."

****

"Aku dengar Akio ada di China. Apa kau tak mau menemuinya?"

Khaled menoleh ke arah pintu. Seorang lelaki yang masih mengenakan pakaian kantornya itu masuk ke ruang kerja Khaled tanpa permisi.

"Dia bisa pulang jika mau." Ujar Khaled kembali membaca berkasnya.

"Inilah kenapa Akio tidak pulang ke rumahnya selama tujuh tahun terakhir. Tidak ada yang menunggunya seperti dulu." Sindir lelaki itu.

"Aku tidak akan menemui orang yang sudah membebaskan pembunuh kedua putraku." Balas Khaled dingin.

Pria itu berdecak. Ia mengambil salah satu botol alkohol dari lemari yang ada disana. Lelaki itu duduk di sofa dan meneguk minumannya tanpa gelas.

"Yakhh, kasihan Akio. Dia punya ayah sejahat dirimu. Nehan pasti sangat sedih kakak kesayangannya diperlakukan seperti ini." Katanya terkekeh.

"Tutup mulutmu, Harace." Khaled menatap tajam sepupunya itu.

Tapi rupanya Ace tidak mau menuruti perkataan Khaled. Pria itu menatap lurus pada jendela besar di depannya.

"Challen memberitahuku jika Atlas juga kabur dari sini. Anak itu pasti takut padamu." Ocehnya.

"Berhentilah mengatakan omong kosong. Pergi dan cari wanita saja sana." Usir Khaled.

"Aku tidak berniat menikah." Ace memalingkah wajahnya.

Khaled membereskan kertas yang berserakan. Perkerjaannya hari ini sudah ia selesaikan. Ia berdiri dan ikut duduk disebelah Ace. Menyalakan pemantik dan mulai merokok.

Mereka sibuk dengan benda pada masing-masing tangannya. Terhanyut dalam pikiran yang tak mau mereka bagi.

Dugh

Ace meletakkan botol yang telah kosong. Minum segitu banyaknya tak membuat pria itu mabuk sedikitpun. Alkohol adalah teman sepanjang hidupnya.

"Aku pergi."

Khaled tak bergeming. Membiarkan Ace keluar sendiri dari kediamannya.

Sedangkan Ace yang berjalan menuju pintu keluar dikejutkan dengan keberadaan Atlas dengan seragam SMA dan wajah gelapnya.

"Kau pulang. Ayahmu menunggu di ruang kerja. Dia bilang sangat merindukanmu." Kata Ace terkekeh.

Langkah Atlas terhenti. Ia menatap penampilan pamannya itu yang terbilang berantakan. Pasti Khaled memperbudak sang paman seperti biasa.

"Istrimu juga pasti sangat rindu padamu, Paman." Ejek Atlas.

"Aku masih lajang. Tapi, pasti masih banyak wanita diluaran sana yang mau mengantri untuk jadi istriku." Ace tersenyum narsis. Padahal umurnya sudah menginjak kepala empat.

"Terserah." Ujar Atlas jengah. Ia meninggalkan sang paman menuju ruang kerja Khaled.

Wajah ramah itu luntur seketika tergantikan raut dingin. Ia tak serta merta bersikap demikian pada setiap orang yang ditemuinya. Ia melanjutkan langkahnya menuju mobil hitam yang terparkir di halaman.

Menyalakan mesin, Ace memutar setir untuk keluar gerbang. Ketukan jari terdengar mengisi setiap sudut mobil yang hanya diisi oleh pria itu. Melirik kaca spion, ia tak mendapati siapapun mengikuti mobilnya.

Jalanan ditengah hutan itu terlihat minim penerangan. Khaled selalu saja memilih lokasi seperti ini untuk dijadikan tempat tinggal. Berbanding terbalik dengan Ace yang lebih suka hidup normal ditengah masyarakat.

Bising kendaraan Jakarta kian terdengar. Butuh waktu agak lama untuk keluar dari wilayah kekuasaan Khaled. Melewati kemacetan yang ada, Ace akhirnya sampai pada tujuannya.

Grand Blue Lagoon. Perumahan yang hampir penghuninya tak selalu berada di tempat. Tepat pada pagar hitam nomor enam, Ace membunyikan klakson hingga seorang pria membuka gerbang ketika melihat mobilnya dengan raut terkejut.

"Selamat datang, Tuan Harace." Sapanya menunduk hormat.

Ace menyerahkan kunci mobilnya pada lelaki itu untuk memindahkannya ke garasi. Ia berjalan menuju teras hingga senyum hangat terbit dari bibirnya saat seorang wanita dengan dress rumahan sederhana terlihat menyambutnya.

"Aku merindukanmu." Ujar Ace memeluk erat dan mengecup kening si wanita.

"Aku juga, Ace. Lama sekali kamu tidak pulang ke rumah. Kamu tidak lupa pada istri dan putramu, kan?" Ujarnya terkekeh ringan.

"Apa kita akan berpelukan disini semalaman?" Kata Ace menggoda.

Wanita itu membawa sang suami untuk duduk di ruang tamu. Ia membawakan pereda pengar untuk lelaki itu.

"Jangan terlalu sering minum alkohol, Ace. Aku lelah memberitahumu terus." Bukannya wanita itu tidak tau ada bau alkohol pada kemeja suaminya.

"Kamu mau marah di pertemuan pertama kita tahun ini, Sarah?" Ujar Ace memelas.

Sarah, wanita itu tersenyum maklum. Pasti pria itu lelah sekali menghadapi bosnya yang otoriter.

"Dimana dia? Apa putraku itu tak tau ayahnya datang hari ini." Ace memandang seluruh penjuru mansion yang terlihat sepi.

"Mada bilang ada urusan dengan temannya." Ujar Sarah mengambil jas suaminya.

"Kalau begitu malam ini hanya untuk kita berdua."

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang