Ruang tamu terasa hening. Namun, jika didengar lebih seksama ada suara tawa kecil dari beberapa orang. Melihat bagaimana reaksi Ammar ketika baru menyadari ketika tangannya digandeng seorang perempuan berseragam SMA.
Ammar terus memandang wajah Zara lekat. Jujur, ia tidak pernah berinteraksi apalagi disentuh remaja perempuan. Ia melongo ketika gadis itu mengecup pipinya hingga bersemu merah.
"Aduh, kamu lucu benget sih. Boleh dibawa pulang gak?" Zara menatap Eros yang hanya memperhatikan dari sofa lain.
"Tanya dia lah, jangan gue." Ujar Eros terkekeh.
Tangan lentik itu menyusuri pipi Ammar dan mencubitnya tanpa henti. Zara sangat gemas dengan raut tertekan Ammar yang berusaha menjauhkan wajahnya.
"Mau ya? Nanti Kakak beliin kamu es krim tiap hari. Terus Kak Zara ajak kamu jalan-jalan kemana pun yang kamu mau pakai motor." Celoteh Zara.
Eros hanya bisa menggeleng melihat tingkah sang kekasih. Zara tak pernah bertingkah seperti ini. Gadis itu tidak lebih dari seorang yang keras dan juga sedikit gila. Ini jadi momen langkah ketika Zara bersikap normal saat bertemu dengan adik bungsunya.
"Motor?"
Akhirnya Ammar menyahuti celotehan Zara dengan mata berbinar. Sadar ada celah, Zara akhirnya tau jika adik Eros ini suka berjalan-jalan keluar dengan menggunakan kendaraan terbuka.
"Iya, kita nanti naik motor keliling Jakarta. Kamu bisa pergi kemana aja sama kakak. Ber–du–a." Kata Zara menaik turunkan alisnya.
"Maaf, sayang. Ein belum boleh keluar rumah selain ke sekolah untuk sekarang ini." Emiko muncul dari arah dapur membawa nampan berisi jus dan camilan.
"Kenapa?" Tanya Ammar agak kecewa dengan perkataan Emiko.
Karena sampai saat ini kondisi diluar belum terlalu aman. Baik Emiko maupun Karl takut jika salah satu dari mereka salah mengenali Ammar sebagai bagian dari anggota Reyes karena wajahnya yang mirip dengan Atlas waktu kecil.
Emiko meringis. Harus dengan alasan apa supaya putranya ini mengerti dan tak bertanya apapun lagi. Mereka hanya berusaha membuat Ammar aman.
Semua terdiam. Zara menunggu kalimat Emiko selanjutnya dan Eros yang hanya bisa memperhatikan. Wanita paruh baya itu mendekat dan duduk disamping Ammar.
"Ein percaya sama Mama dan Papa, kan?" Ujarnya menangkup wajah sang putra. Ammar mengangguk.
"Semua ini demi kebaikan kamu. Ein tunggu sebentar, bisa? Nanti Ein bisa main diluar sepuasnya." Lanjutnya lembut.
Walau Ammar tak bisa menerima jika dirinya merasa terkurung semenjak diadopsi keluarga ini, ia hanya bisa menurut. Apalagi saat ini Ammar melihat ada binar khawatir dari kedua mata cantik Emiko.
"Ah, iya. Kak Zara juga bisa kapan aja kok. Sementara Kakak yang kesini buat temenin kamu main. Nanti, Kakak juga bawa hewan peliharaan punya Kakak." Suasana kembali cerah ketika Zara mengambil alih atensi.
"Zara, adek gue alergi bulu kucing." Ujar Eros memperingati. Padahal ia sudah bercerita tentang kejadian yang menimpa adiknya tempo lalu.
"Astaga, gue lupa." Zara menepuk dahi ketika baru mengingat hal itu.
Ammar tertawa saat melihat tingkah random Zara. Ia sedikit merasa terhibur. Walau pacar Eros ini terlihat tomboy dan nakal, namun dari sisi lain Ammar menyukai tingkah Zara yang ceria.
"Uluh-uluh lucu banget sih kamu. Gue bawa pulang, ya?" Pinta Zara sekali lagi pada Eros.
"Lo juga punya adek Zara." Kata Eros menggeleng heran.
"Kita tukeran aja kalau gitu. Boleh kan, Mama Emi?"
Emiko tertawa kecil menanggapi permintaan Zara. Ia sudah tau tabiat gadis itu yang suka sekali melontarkan candaan. Dua tahun berpacaran dengan Eros bukanlah waktu yang singkat untuk Emiko mengenal Zara yang kerap kali putranya bawa ke rumah.
"Nanti Mama kamu sedih kalau tau anaknya mau dituker loh." Canda Emiko.
"Kayaknya gak deh. Mama bakal seneng dapet anak selucu ini." Zara membawa Ammar ke pelukannya karena gemas.
"Emm, Mama." Rengek Ammar berusaha melepaskan diri dari jeratan Zara.
Tau jika sang putra merasa tak nyaman, ia segera menengahi.
"Ayo, Ein harus mandi dulu. Aduh anak kesayangan Mama mukanya udah kucel gini." Ujar Emiko mengusap dahi Ammar.
Dengan berat hati Zara melepaskan Ammar pergi. Eros yang melihatnya hanya bisa memutar bola matanya malas. Selain Emiko, hanya Ammar yang bisa membuat Zara si ratu jalanan berekspresi seceria itu.
"Lo gak pernah ngomong semanis itu ke gua, Zara." Kata Eros menyindir.
"Pardon?" Zara menatap tajam sang kekasih. Suaranya bahkan berganti lebih tegas.
Eros mengalihkan pandang ke ponsel. Memancing kemarahan Zara adalah hal yang paling Eros hindari.
****
Malam begitu panjang. Bahkan Ammar rasa ia baru memejamkan mata sejenak sebelum mimpi lain menghampirinya dan membuatnya terjaga ditengah malam.
"Nafas pelan-pelan, Ein. Semuanya baik-baik aja. Kamu aman sama Papa." Ujar Karl berusaha mengambil perhatian sang putra yang terlihat panik mengambil napas.
"Haah.. akhh.. argh." Ammar merasa sakit setiap mengambil nafas. Hingga satu tetes air mata turun dari pelupuk mata kecilnya.
"Ikuti, Papa. Tarik napas lalu buang. Ayo kamu pasti bisa." Karl memberi arahan, namun ia jadi ikut panik saat Ammar menggeleng merasa tak bisa mengikuti.
"NIAL!"
Suara menggelegar itu sampai hingga si empu berdiri di ambang pintu terdiam menyaksikan bagaimana si adik bungsu tengah berusaha meraup udara.
"...al."
"Nial, jangan melamun! Cepat panggil Dave." Ujarnya menyadarkan putra sulungnya.
Emiko masuk dengan tergesa membawa kompres air hangat. Dengan cepat wanita itu membuka kancing piyama Ammar dan meletakkan kompres di dada anak itu.
"Kenapa ini makin parah, Karl. Kemarin tidak sampai begini." Emiko tak dapat lagi menahan air matanya melihat keadaan putranya yang kesakitan setiap malam.
"Hanya ini yang bisa kita lakukan, Emi." Kata Karl. Ia mengusap dahi si bungsu untuk menyingkirkan anak rambut Ammar yang sudah basah oleh keringat dingin.
"Bisa baringkan dia?"
Karl menoleh saat mendengar suara Dave yang tergesa-gesa membuka kotak medisnya. Ia mengangguk, baru saja akan meletakkan tubuh sang putra ke ranjang, kemejanya dicekal erat.
"Periksa seperti ini saja. Dia tidak mau melepasku." Karl kembali duduk dengan Ammar yang berada di dekapannya.
Tak ada pilihan, Dave segera melakukan pemeriksaan. Setelahnya ia meminta Nial untuk membawa tabung oksigen yang ada dimobilnya. Lalu dengan telaten Dave memasangnya hingga nafas anak itu berangsur membaik.
"Sepertinya Ein bermimpi tentang masa lalunya. Apa putra anda memberitahu sesuatu?" Tanya Dave pada Karl.
"Hah, katanya dia ditenggelamkan di kolam dengan sengaja oleh Ayahnya." Jelas Karl frustasi.
"Ini salah satu prosedur terapi dan ada kemajuan. Ein akan sembuh jika dia berdamai dengan masa lalunya." Ujar Dave tersenyum tipis.
"Apa putraku seperti ini setiap malam? Dia pasti takut menghadapinya sendiri selama ini." Gumam Emiko merasa bersalah.
"Tidak, Eros bilang teman-temannya tidak pernah melihat Ammar seperti ini saat masih tinggal dimarkas mereka." Sela Nial.
"Saya menduga ada pemicu kenapa putra anda mengingat masa lalunya."
Saat kalimat itu meluncur dari mulut Dave, ketiganya langsung terdiam seolah dalam satu pikiran yang sama. Beberapa hari sebelum mengadopsi Ammar, anak itu melihat kejadian yang seharusnya tak boleh dilihatnya.
Ammar melihat pembunuhan tepat di depan matanya.
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)