13. BUKAN ILUSI

8K 642 9
                                        

"Selamat datang, Tuan Challen."

Akeil menunduk saat seorang pemuda turun dari mobilnya. Kedatangan putra sulung Khaled Reyes itu tidak ia duga. Tapi, sepertinya Challen tahu akan sesuatu.

"Dimana Atlas?" Tanya Challen saat tak mendapati sang adik.

"Tuan Muda ada di kamarnya." Ujar Akeil.

Informasi apapun akan sampai ke telinga Challen terlebih dahulu sebelum ayahnya. Lelaki itu tahu, Atlas telah berbuat ulah dengan membunuh seorang bartender.

Ceklek

Terkunci. Challen menatap heran pintu kamar milik Atlas. Tidak mungkin hanya karena masalah itu sang adik mengunci diri.

"Tuan Muda tidak keluar kamar selama tiga hari." Sela Akeil memberitahu.

"Buka paksa."

Pintu terbuka dengan kunci cadangan. Beberapa hari ini para pekerja enggan masuk ke kamar Atlas walau tersedia kunci lain. Begitu juga Akeil.

Pemandangan pertama yang Challen lihat adalah Atlas yang duduk di kursi dengan kanvas penuh cat di depannya. Warna biru dan merah yang pekat.

"Kau melanggar perjanjian." Ujar Challen.

Pria itu mengibaskan tangan membuat Akeil dan pelayan yang mengikuti pergi keluar. Challen tidak mempercayai Akeil. Lelaki itu bekerja untuk Khaled, bukan padanya.

"Dia masih hidup." Gumam Atlas menghentikan aksi mencoretnya.

Challen menaikkan sebelah alisnya. Bingung dengan perkataan Atlas yang ambigu. Siapa yang masih hidup?

"Jangan melantur. Kemasi barangmu, sekarang juga kau harus pulang." Ujar Challen menarik dasinya yang terasa mencekik.

Beberapa saat terjadi keheningan. Sudut mata Challen memperhatikan punggung lebar sang adik. Hingga Atlas melempar kuasnya sampai mengotori dinding.

"ADIKKU MASIH HIDUP! Han– kemarin aku melihatnya. Dia menatapku takut."

Atlas menoleh. Sorot matanya tajam dan rahangnya mengeras. Tapi, kontras dengan pipinya yang basah dengan air mata. Raut wajah yang sudah lama tidak terlihat dimata Challen setelah hari pemakaman tujuh tahun lalu.

"Kamu terlalu lelah. Akan aku panggil Akeil untuk membawa obatmu kemari." Ujar Challen.

"Stop it! Itu bukan delusi." Atlas menatap Challen marah. Kenapa semua orang tidak percaya padanya.

Tentu Challen tidak percaya. Enam tahun lalu Atlas divonis mengalami skizofrenia paranoid. Adiknya itu sering kali berhalusinasi. Atlas tidak tau mana yang nyata dan khayalan semata. Hingga sang kakek yang terkenal keras berhasil menanamkan kenyataan pada Atlas jika Nehan sudah tiada.

"Mereka melihatnya juga. Tanya saja, mereka melihat Nehan dan Algis di tempat itu." Ujar Atlas.

Challen memijit pelipisnya pening. Mengurus Atlas memang tidak semudah kelihatannya. Pantas saja Khaled menyerahkan adiknya pada sang kakek.

Atlas berdiri. Ia berjalan mendekati si sulung yang masih menyorotnya datar. Menatap sinis lelaki itu.

"Kak Algis– ah, bukan. Tepatnya Mada Algiser Vidor. Kamu akan tahu setelah melihatnya, Kak Challen." Ujar Atlas tersenyum miring.

****

Brak

Challen melempar tablet yang ia pegang ke meja kerjanya. Arlo, bawahannya itu baru saja mengirim data seseorang yang ia minta. Pemuda bernama Mada yang Atlas sebutkan.

"Kau tidak tahu hal ini?" Tanya Challen menatap dingin Akeil.

Lelaki itu menunduk dalam. Challen yang melihatnya menghembuskan napas kasar. Jika itu bukan ilusi, maka ada kemungkinan anak yang dilihat Atlas juga mirip adik bungsunya.

Masalahnya hanya ada satu. Data anak itu sulit dicari. Dan para bawahan yang Atlas bawa tidak mengenali rupa Nehan dan Algis. Ayahnya menghapus semua data dan foto milik mendiang putranya.

"Jangan biarkan Daddy tahu. Kau paham jika informasi ini sampai ke telinganya." Ancam Challen pada Akeil.

"Baik, Tuan Challen."

Biarlah ia menyembunyikan ini untuk sementara waktu daripada kepalanya terpenggal. Urusan dengan Khaled akan Akeil pikirkan nanti.

"Ah, jangan biarkan Atlas keluar dari kamarnya juga. Biar aku yang mengurus semuanya." Ujar Challen.

Dan sepertinya perintah Challen yang terakhir tidak bisa Akeil wujudkan. Saat sampai di kamar Tuan Mudanya, si pemilik kamar sudah tidak ada.

"Sial!"

Dilain sisi Atlas meneliti bangunan di depannya. Ia kabur dari rumah ketika Challen berkata kedatangannya adalah untuk menjemput ia pulang. Tidak sebelum ia membawa Nehan ke dalam genggamannya.

"Kamu teh siapa?"

Atlas menoleh saat seorang perempuan berdiri tepat di sampingnya. Wanita berhijab itu tersenyum ramah padanya.

"Anak kecil yang tinggal disini." Gumam Atlas.

Awalnya wanita itu mengerutkan dahi tak mengerti apa yang pemuda itu katakan. Tapi menyadari jika sedari lima belas menit lalu remaja itu hanya memandang ke arah sebuah indekos ia paham siapa yang dicari.

"Oh, Ammar. Cuman dia anak kecil yang tinggal disana. Tapi kayaknya dia gak ada di dalam. Udah tiga hari lampu kamarnya mati." Jelasnya.

Jadi, namanya Ammar. Atlas baru tahu nama anak itu hari ini. Tapi bagi Atlas anak itu adalah Nehan adiknya.

"Kamu siapanya Ammar?" Tanya wanita itu penasaran. Sekilas pemuda itu mirip dengan Ammar.

"Saya kakaknya."

Wanita itu tersenyum lebar. "Pantesan. Kamu teh mirip sama Ammar. Tapi, kenapa dia tinggal sendiri."

Merasa perbincangan tak akan selesai, Atlas hendak pergi sebelum ia melihat siluet seseorang diantara kegelapan. Ternyata ada yang memata-matai dirinya.

"Dia kabur dari rumah karena marah sama saya." Ujar Atlas sebelum melenggang pergi.

Pemuda itu mengerang kesal. Kemana kakak kelasnya itu membawa adiknya. Ada yang aneh dengan identitas Mada. Alamat rumah dan asal usulnya sengaja disembunyikan.

Besok. Atlas harus menemui Mada saat disekolah. Cukup tiga hari ini ia menata diri. Ia bukan mengurung diri. Malam itu kakeknya tahu apa yang ia perbuat. Mengancam akan memberitahu sang ayah, Atlas menuruti sang kakek untuk merenungkan diri.

Atlas harus mengubah semua rencananya.

Melihat remaja itu sudah menjauh, lelaki itu menampakkan diri. Menatap tajam arah dimana Atlas menghilang. Ia mendial salah satu nomor seseorang.

"Dia sudah tahu." Ujarnya.

Nial, pemuda itu menaiki mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Menyalakan mesin dan melaju membelah jalanan.

"Challen juga sudah mulai bergerak. Dia mencari data Mada sore tadi."

Keluarganya bukan sembarang orang. Semua informasi dapat dengan mudah Nial dapatkan. Ia punya informan terpercaya. Bahkan semua data tentang mendiang putra Khaled Reyes yang sudah terhapus berada di genggamannya.

Panggilan berakhir. Ia menghubungi sang ayah untuk berjaga agar Khaled tidak mengetahui hal ini. Mereka akan semakin kerepotan jika Khaled ikut turun tangan.

"Cepat temui dia. Kita tidak punya cukup waktu. Jika surat adopsi sudah disetujui, mereka tidak akan mudah membawanya."

Nial menoleh ke arah samping. Dimana Eros duduk tenang mengamati jalanan dari kaca.

"Kamu mendengarkan, kan?"

Eros berdecak. Ia mungkin merasa bersalah pada anak yang secara tidak langsung Eros usir. Jika waktu itu ia tidak dikuasai rasa benci, Ammar masih tinggal di markasnya dan semua tidak akan berakhir rumit.

"Aku tidak tuli." Ujarnya sarkas.

Ibunya pernah bilang, jika saudarinya selalu menceritakan tentang putra bungsunya yang ceria dan lucu lewat ponsel. Mereka tak bisa bertemu secara langsung karena mendiang sang kakek melarangnya. Hingga satu persatu berita duka memutus hubungan persaudaraan keduanya.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang