"Nih, buat kamu."
Mada menyodorkan boneka berbentuk koala yang diterima Ammar dengan ragu. Pemuda itu langsung menuju ke kediaman Dawson dari bandara. Ia khawatir saat Eros mengirim pesan singkat jika Ammar tengah sakit.
"Makasih, Bang Mada." Ujar Ammar memeluk erat bonekanya.
Pemuda itu sudah tak bisa membawa Ammar untuk tinggal bersamanya. Karl sudah mendapatkan surat adopsi dua hari setelah kepergiannya ke Singapura hari itu. Jadi, mungkin ia akan mengajak Ammar sesekali menginap dirumahnya.
Tangan besar Mada mengusap wajah dan rambut Ammar yang lepek. Anak itu demam beberapa hari ini. Untung saja pagi tadi sudah mulai turun. Hanya butuh pengawasan sementara karena keadaan yang tidak stabil.
"Mau keluar kamar? Tante Emi bikin bolu katanya." Mada berdiri dan menatap Ammar menunggu jawaban.
"Lemes."
Dengan sigap Mada membawa Ammar ke gendongannya. Tubuh itu sangat ringan dan kecil dibandingkan dengan anak seusianya.
Saat turun tangga, Mada menangkap suara ramai dari ruang tamu. Saat ia datang rumah itu terlihat sepi. Hanya ada Emiko dan Carel. Mungkin itu Eros dan teman-temannya.
"Loh, kenapa ada si brengsek itu di rumah lo?"
Sialan! Mada mendengarnya. Dia tidak tuli dan jarak antara dapur dan ruang tamu hanya dipisahkan oleh sekat.
"Tante Emi."
Wanita yang memakai apron itu menoleh. Mendapati Ammar dalam gendongan Mada, dalam hati Emiko bersyukur. Kedatangan pemuda itu membuat perasaan Ammar lebih baik.
"Nak Mada butuh apa? Biar Tante siapkan." Ujar Emiko tersenyum hangat.
"Bolu yang Tante buat tadi." Mada melirik Ammar yang menyenderkan kepala pada pundaknya.
"Ah, sebentar. Tante hangatkan dulu, ya. Lebih baik kalian nunggu di ruang tamu aja bareng teman-teman Eros. Ammar gak apa-apa kan?" Emiko sedikit mendorong tubuh Mada untuk segera pergi.
Tidak!
Mada tidak mau berada disatu ruangan yang sama dengan para musuhnya. Begitu juga Ammar yang masih enggan bertemu Eros. Ia masih teringat dengan perkataan pemuda itu tempo hari yang mengatakan kalau Vince adalah pembunuh.
"Gak mau." Lirih Ammar membuang wajah.
Emiko menghela napas sabar. Ia tidak bisa memaksa Ammar untuk memaafkan Eros. Memang mulut putra keduanya itu tak bisa dikontrol. Selalu saja mengatakan sesuatu diwaktu yang tidak tepat.
"Yaudah, kalian ke teras aja. Ammar udah lama gak keluar juga." Kata Emiko.
Langkah Mada melewati ruang tamu dengan wajah dingin tak peduli ketika mendengar mereka membicarakannya. Keadaan Ammar lebih penting.
"Lah, dia bukannya Ammar ya?" Tunjuk Abyaz pada anak yang berada di pelukan Mada.
"Ammar?"
"Oh, lo berdua jarang ke markas jadinya gak tau. Tuh anak dulu tinggal di gudang markas kita." Ujarnya lagi.
Dua pemuda itu beralih menatap Eros mengikuti arah pandang Abyaz dan Reiki yang ingin tahu. Sepertinya ada yang perlu pemuda itu jelaskan.
"Dia adek gue." Ujar Eros.
Suasana hening. Abyaz melongo dan Reiki masih mencerna perkataan Eros yang terdengar seperti candaan. Tapi, wajah pemuda itu masih sama datarnya seperti biasa.
"Terus kenapa lo ngusir anak itu dari markas? Lo kayak gak kenal dia." Zev, salah satu sahabat Eros itu kebingungan.
"Adopsi."
Berita mengejutkan apa ini. Mereka tak menyangka jika remaja kecil yang Eros usir waktu itu telah menjadi adik bungsunya. Mungkin ada alasan dibalik ini semua. Dan mereka tahu batasan untuk tidak mengulik privasi keluarga.
"Mada, kenapa dia ada disini?" Ujar seorang pemuda yang duduk di ujung sofa, Elijah.
Eros menghembuskan napas jengah. Ia juga bingung kenapa Mada begitu peduli pada Ammar yang notabennya orang asing. Apa ikatan di kehidupan sebelumnya membuat mereka bertindak selayaknya saudara lama.
"Cuman dia yang bisa bujuk Ammar makan kalau lagi ngambek." Jelasnya.
"Dahlah lupain. Jadi nongkrong gak kita? Katanya mau bahas sunmori sama yang lain." Abyaz mencairkan suasana.
"Ajak Ammar juga. Kenalin adek lo ke yang lain lah." Lanjutnya.
"Gak bakal mau dia." Ujar Eros kesal.
Lagi mereka memandang Eros heran. Baru kali ini pemuda itu berekspresi demikian hanya karena seorang anak kecil. Bahkan dengan Nial dan Carel saja setahu mereka Eros tidak dekat dengan keduanya.
"Katanya mau kok. Tapi, Mada harus ikut."
Mereka melotot horor pada Abyaz yang sudah berdiri dengan Mada di sampingnya. Wajah pemuda itu tampak kesal saat Abyaz menariknya tanpa izin.
"Sialan lo." Kata Reiki mengumpati Abyaz.
"Berisik." Ujar Mada menutup telinga Ammar.
****
Ramai sekali. Ammar melihat banyak remaja yang masih mengenakan seragam SMA datang terus-menerus hingga hampir memenuhi area outdoor sebuah cafe.
Tadi Emiko mengizinkan ia ikut pergi dengan Eros selagi ia senang katanya. Ia mengeratkan jaket milik Mada yang dikenakannya. Ammar duduk meja pojok bersama Mada. Ada bolu buatan Emiko dan susu putih dimeja. Ia masih tak boleh makan sembarangan.
"Mau makan?" Mada membuka tempat makan berisi bolu itu.
Mata sayu itu menatap wajah Mada lekat. "Bang Mada gak capek?" Tanya Ammar.
Pasti pemuda itu lelah mengurusnya disaat dirinya baru tiba dari luar negeri. Ammar merasa sangat merepotkan semua orang akhir-akhir ini.
"Maaf, ya. Gara-gara aku sakit, Abang jadi–"
"Abang gak capek." Sergah Mada. Ia meminta sendok pada pelayan.
"Makan." Ujar Mada. Ia tak suka melihat tatapan Ammar saat ini.
Ammar menerima sendok yang Mada berikan. Memasukkan satu suap bolu coklat ke mulutnya. Tetapi, baru saja ia telan ada rasa gejolak yang muncul dari perutnya.
"Bang, mau muntah."
Dengan sigap Mada menggendong Ammar ke toilet. Menghiraukan tatapan penasaran dan teriakan Eros. Ammar segera memuntahkan isi perutnya saat sampai diiringi air mata.
"Udah? Ada yang sakit? Kenapa nangis." Tanya Mada beruntun.
"Hiks.. pusing." Lirih Ammar menenggelamkan wajah pada dada Mada.
"Kita pulang."
Mada keluar menuju parkiran. Ia baru sadar jika tadi mereka berangkat bersama menggunakan mobil milik Eros. Pemuda itu meliarkan pandangan hingga menemukan sebuah kursi tak jauh disana.
"Tunggu sebentar disini." Ujar Mada berlari kembali ke cafe.
Tempat yang Ammar duduki teduh, jadi ia tak merasakan sinar matahari menerpa kulitnya. Menatap depan, pandangannya berputar dan berkunang. Tubuhnya limbung hampir jatuh ke tanah.
Bruk
"Astaga, hampir saja."
Lelaki itu mengangkat tubuh Ammar yang tak sadarkan diri. Menatap lekat wajah anak kecil dalam gendongannya. Senyum miring terbit dari sudut bibirnya. Jemarinya menelusuri wajah manis Ammar yang pucat.
"Bersabarlah. Ini masih begitu awal untuk merasakan sakit." Ujarnya menatap iba.
Tangan berbalut sarung tangan hitam itu merogoh saku celananya. Mengarahkan ponsel tepat ke wajah Ammar. Mengirimkan foto dan lokasi rumah sakit terdekat pada salah satu nomor di ponselnya.
Surprise
Satu kata. Tapi pasti orang yang menerima pesannya akan senang dengan hadiahnya.
"Ini menyenangkan."
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)