"Sial! Sepertinya kita terlambat."
Akio menggaruk pelipisnya ketika melihat apartemen yang selama ini Vince dan Noah gunakan sebagai tempat persembunyian telah kosong.
"Sepertinya dia curiga atau mungkin sudah tau jika kita sengaja mengawasinya selama ini." Vince maraih ponsel.
"Merepotkan." Ujar Akio jengah. Ia butuh tidur sekarang ini.
"Sudah dapat. Well, sepertinya dia sedang meminta bantuan pada dewan." Kata Vince tersenyum sinis. Ia berbalik keluar diikuti Akio.
Jejak terakhir yang Vince dapat dari alat pelacak yang ia pasang disemua benda milik Noah berada di gedung dewan perdamaian, tepat dipusat kota.
Kali ini Vince yang menyetir. Mereka mengejar waktu sedangkan Akio berada dalam kondisi yang tak baik untuk menyetir dengan kecepatan maksimal.
"Sepertinya mereka tidak punya tempat lain untuk mengungsi." Komentar Akio saat mereka melewati jalan dikawasan gedung.
Turun dari mobil, Akio menatap keatas dimana hampir seluruh kaca yang ada telah pecah. Sisa-sisa keributan tempo lalu masih berbekas seolah sengaja dipampang bahwa ini adalah bukti sebuah kudeta dari Reyes sebagai pelakunya.
Hingga ponselnya berdering, Akio memberi kode pada Vince yang sudah berjalan agak jauh untuk masuk terlebih dahulu.
"Maaf mengganggu waktu anda, Tuan Akio. Tuan Muda Mada melarikan diri dari mansion."
"Kabur lagi?!" Suara Akio meninggi saat mendapat kabar yang menambah beban pikirannya. Bocah itu nekat sekali!
"Maafkan kelalaian saya, Tuan."
Akio sebenarnya tak peduli dengan keadaan Mada yang kabur disaat kedua kakinya terluka parah. Namun, ia dan Pamannya Harace telah sepakat akan membawa Mada ke tempat yang seharusnya. Keturunan Reyes harus ditempa untuk menjadi kuat.
"Apa saja yang dia bawa?" Tanya Akio frustasi.
"Ponsel milik Tuan Muda, uang, pisau, dan mobil." Jelasnya. Ia memberitahu barang apa saja yang hilang dari kediaman.
Berarti anak itu sudah masuk dan menggeledah ruang kerjanya. Semua barang yang disebut semua ada dilaci, kecuali pisau. Mungkin Mada membawa pisau buah atau senjata apapun yang dia lihat di depan mata.
"Dimana dia sekarang?" Akio berjalan masuk ke gedung dengan panggilan yang masih tersambung.
"Pelacak yang ada diponsel dan yang kami tanam diluka tembak berbeda. Kami sedang berpencar menuju lokasi yang ada."
Ting
Lift terbuka, tak berapa lama kemudian Vince datang setelah menyusuri lantai satu dan tak mendapati apapun. Mereka masuk dan menekan tombol menuju lantai paling tinggi.
"Berikan lokasnya padaku."
Panggilan diputus sepihak oleh Akio. Ia berdecak sebal. Karena Harace sedang menjalani hukuman, pria itu menitipkan sang putra tunggal padanya.
"Ada masalah?" Vince menyalakan rokok elektrik yang dibawanya. Asap berterbangan didalam kotak besi itu.
"Bocah itu menyusahkan sekali! Apa dia tidak bisa duduk manis sehari saja." Keluh Akio yang mendapatkan anggukan mengerti dari Vince.
"Mana bisa dia percaya pada orang sinting sepertimu. Dan dia juga tidak tau kalau kamu ini sepupunya." Ujar Vince acuh.
"Lebih baik kamu matikan rokok dan pegang pistolmu. Dia bisa saja langsung menembak kepalamu saat pintu lift terbuka." Kata Akio masih fokus pada ponsel.
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)