"Hai Ammar. Nama dokter, Dave."
Ammar menatap lelaki dengan seragam putih itu dengan tanya. Lalu ia melirik Karl dan Nial yang berdiri di belakang pria itu. Sang ayah mengangguk dengan senyum simpul.
"Halo, dokter Dave." Ammar tersenyum manis menyapa balik.
"Panggil Kakak aja. Emm, Ammar mau permen gak?" Tawar Dave.
"Kata Papa gak boleh makan ini." Cicit Ammar menunduk.
Dave tertawa melihat anak di depannya mencuri pandang pada Karl dengan takut. Penurut sekali remaja kecil itu. Padahal biasanya anak seumuran Ammar akan merajuk jika tidak diberi hal yang mereka mau.
"Kali ini boleh kok. Kenapa natap Papanya gitu, kan Kak Dave dokternya." Canda Dave.
Mendengar suara ramah Dave membuat Ammar tak sengaja mengeluarkan tawa kecil. Dengan ragu ia menggenggam lima permen yang Dave berikan padanya.
"Ayo kita jadi teman. Nanti setiap Kak Dave datang, Ammar bakal dapat premen."
"Kak Dave mau temenan sama aku?" Tanya Ammar menatap heran.
Dua sudut Dave membentuk senyum tipis saat ia menangkap kalimat Ammar yang sedikit aneh.
"Loh kenapa gak. Ammar kan baik, manis, penurut sama Papa, gimana Kak Dave gak mau coba." Pujinya.
"Tapi aku bodoh dan pembawa sial." Lirih Ammar. Matanya memandang sendu Dave.
Dave mendekat. Mengusap surai Ammar dan menggenggam tangannya yang dingin.
"Siapa yang bilang?"
Sudut mata Ammar memandang takut pada Karl dan Nial yang hanya berdiri memperhatikan. Ia menunduk hampir menangis. Dave yang mengerti langsung mengkode dua pria itu untuk meninggalkan mereka berdua.
"Ammar tau tidak, Kak Dave punya banyak teman anak-anak. Mereka juga punya rahasia seperti Ammar. Dan Kak Dave bantu mereka untuk jaga rahasia biar gak sakit sendirian."
Agaknya Dave berhasil mengambil sedikit hati Ammar saat anak itu mendongak dengan deraian air mata. Remaja kecil itu tak pernah menangis di depan orang lain selain Mada, pemuda yang paling ia percayai.
"Hiks, a-Ayah yang bilang gitu. Katanya, gara-gara Ammar mereka semua mati." Ujar Ammar sedih.
"Husstt, tenang. Ammar bukan pembawa sial. Gak ada anak yang seperti itu kok." Dave membawa tubuh Ammar pada pelukannya.
"Aku takut. Kata Ayah, semua orang yang ngadopsi aku bakalan mati. Gimana kalau Papa sama Mama juga gitu?"
Nafas Ammar tersendat. Ingatannya berputar saat lelaki yang dulu pernah ia panggil Ayah mencacinya dengan menodong botol bekas alkohol yang runcing. Itulah kenapa Ammar tak pernah mau dikembalikan lagi ke panti asuhan setelah kejadian itu. Semua yang mengadopsinya akan mati mengenaskan.
"Nafas pelan-pelan, Ammar. Papamu gak bakal meninggal karena Ammar itu pembawa keberuntungan." Ujar Dave mencoba menenangkan.
"Ada darah. Waktu itu, a–aku dikurung di lemari karena aku makan roti yang ada di meja. Tapi, Ayah gak buka. Te–terus tangan Ayah gak ada."
Dave hanya bisa menghentikan Ammar untuk mengingat kejadian itu. Walau perkataan anak itu terbilang acak dan sulit dimengerti, Dave mampu menangkap garis besarnya.
Ada yang memotong tangan pria itu dan membunuhnya. Dan kemungkinannya Ammar melihat kejadian dari celah lemari.
"Tenang, Ammar. Gak akan ada lagi darah." Ujarnya lembut.
Sesi mengobrol dengan psikiater harus usai lebih awal karena kondisi Ammar. Dave tidak mau memperburuk situasi disaat anak itu sedang sakit dan baru mengalami kejadian tak menyenangkan.
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)