16. VINCE

6.5K 624 14
                                        

Asap rokok mengepul memenuhi kamar. Botol minuman keras berserakan di meja dan lantai. Pria itu menikmati semilir angin bercampur air hujan yang masuk lewat jendela.

"Sudah kau kembalikan anak itu, Vince?"

Seorang lelaki memasuki kamar tanpa permisi. Ia duduk berdampingan dengan Vince dan memakan popcorn yang dibawanya.

"Ck, minggir Noah!" Vince mendorong Noah hingga pria itu terjungkal.

"Kejam sekali. Kalian memang tidak ada bedanya. Tidak tahu terima kasih!" Ujar Noah mengomel.

Vince menatap tajam Noah. Lelaki itu memang tidak sadar umur. Padahal sudah berkepala tiga, tapi sering kali merajuk karena hal sepele.

"Ya, kami sama-sama buronan." Kata Vince tak menyangkal.

Bibir itu mengikuti perkataan Vince tanpa suara. Mencibir pelan lelaki di atas sofa yang kerap kali memeras uangnya. Sama seperti sahabatnya.

"Aku lihat."

Noah berdehem. Ia memalingkan wajah dan kembali memakan popcorn yang tinggal setengah karena sebagian sudah jatuh berhamburan.

"Akio, bagaimana kabarnya?" Vince mematikan rokoknya. Ia beralih meneguk wine hasil memalak Noah.

"Dia masih bisa berjudi di kasino seperti dulu. Yah, kudengar Akio membangun aliansi sendiri." Kata Noah acuh.

Ruangan itu kembali hening dan dingin. Dua manusia itu hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga satu pertanyaan muncul begitu saja dalam diri Noah.

"Tapi, kenapa kau tidak memberitahu Akio tentang anak itu? Dia pasti akan sangat senang." Tanya Noah heran. Ia memperhatikan raut wajah Vince.

"Rahasia." Ujar Vince.

Noah berdecak. Ia mengusap dadanya mencoba bersabar. Noah harus bangga pada dirinya yang selama tujuh tahun ini menampung dua orang sinting sekaligus buronan internasional.

"Jangan macam-macam. Anak itu tidak ada hubungannya dengan masalah kalian." Kata Noah menasehati.

Tak

Vince menyenderkan kepala pada sandaran sofa dan meluruskan kaki setelah meletakkan gelasnya ke meja. Ia memejamkan mata menikmati suasana malam itu. Ia sedang merasa lelah sudah melarikan diri selama tujuh tahun terakhir.

"Nehan juga dulu pasti manis sekali seperti Ammar. Aku hanya mendengar tentang Nehan dari cerita Akio." Ujarnya dalam pejam.

"Tidak seperti adikmu, ya." Jawab Noah acuh.

"Benar, dia nakal sekali." Kekeh Vince mengingat kenangan bersama adiknya.

"Dia pergi ke sekolah. Tapi, adikku tak pernah pulang."

Sepertinya Vince sudah mabuk. Noah hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan lelaki itu yang melantur. Sudah biasa ia mendapati suasana seperti ini dari dua orang yang berbeda.

Noah berdiri. Memperhatikan sekeliling kamar milik Vince di kediamannya. Puntung rokok dan botol bekas bertebaran. Ia melirik si pelaku yang kini tertidur di sofa dengan gumaman.

"Hah! Sepertinya aku akan ikut gila."

****

Sarah memperhatikan Ammar yang kini tengah sarapan dengan lahap. Wajah itu sedikit lebih ceria dibandingkan yang terakhir kali.

"Mau nambah, sayang?" Tanya Sarah ketika melihat piring Ammar sudah kosong.

Dengan senyum malu, Ammar menunjuk nugget yang tersisa dua. Sarah segera mengambilkan. Wanita itu tersenyum hangat walau ia bingung dengan suasana hati Ammar yang berubah drastis secara tiba-tiba.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang