30. MISI UNTUK ATLAS

2.9K 261 13
                                        

"Kalian keluarga pasien?"

Saga terdiam. Matanya melirik Atlas yang terpaku di sampingnya. Lelaki itu tak mengeluarkan sepatah katapun sepanjang jalan hingga sampai di rumah sakit.

"Kami temen sekolahnya, dok. Saya udah hubungin keluarganya. Mungkin kakaknya sebentar lagi sampai." Jawab Saga.

"Pasien sedang tertidur setelah saya menyuntikkan obat tidur dosis rendah. Untung saja kalian dengan cepat membawanya ke rumah sakit untuk mendapat penanganan. Apakah pasien memegang atau makan sesuatu sebelum ini?" Jelasnya.

"Kucing. Kayaknya gara-gara itu." Ujar Saga menghela napas.

"Kalau begitu minta kakaknya untuk ke ruangan saya nanti. Saya permisi." Kata si dokter melenggang pergi.

Dilain sisi Atlas menatap kaca di pintu yang memperlihatkan tubuh Ammar terbaring di ranjang pesakitan. Karena dirinya anak itu merasakan sakit.

"Gila! Gue kira dia bakal mati." Ujar Saga terduduk lemas di kursi tunggu.

"Jaga omongan lo!" Atlas menyorot tak suka. Ia tak suka kata kematian tersemat diantara kalimat yang tertuju pada remaja kecil itu.

Saga menegakkan punggung. Ia menatap heran pada Atlas. Lelaki yang digosipkan seorang psikopat ini kenapa mau mengantar orang asing ke rumah sakit. Lalu apa-apaan hadiah kucing itu.

"Ya kan gue panik waktu dia sesak napas tadi. Lagian lo siapanya Ein? Muka sangar lo itu gak cocok jadi orang baik tau gak." Komentar Saga jujur.

"Dia adik gue."

Satu alis Saga terangkat. Berpikir jika pemuda di depannya memang orang sinting. Sejak kapan adik Carel jadi adik Atlas juga.

"Saga! Lo apain adek gue?!"

Brugh

Tubuh Saga terhempas ke lantai saat seseorang menerjangnya tanpa aba-aba. Carel mencengkram kaos Saga. Matanya penuh amarah saat tau adiknya masuk rumah sakit. Padahal ia telah mempercayakan Ammar pada anak itu.

"Minggir dulu sialan! Bukan gue yang buat Ein masuk rumah sakit. Tuh liat orang di belakang lo!!" Saga jadi tersulut emosi saat dituduh yang tidak-tidak.

Carel menoleh. Ia terkejut mendapati Atlas yang berdiri dengan wajah dinginnya. Carel melepaskan cekalannya lalu berdiri tepat di depan sepupunya itu.

"Setelah kehilangan adik kesayangan, lo mau rebut adik orang lain?" Ujar Carel tersenyum remeh.

"Kalian itu sepupu gue. So, dia juga adik gue kan?" Balas Atlas tersenyum miring.

"Gue gak sudi punya sepupu kayak lo, Atlas. Pembunuh macam lo ini gak berhak jadi kakak Ein."

Atensi ketiganya beralih pada sosok pemuda yang baru saja datang dengan dua orang lainnya. Pemuda dengan jaket hitam itu mendekat penuh aura gelap.

Atlas melirik pada sepasang suami istri di belakang tubuh Eros. Ia menatap dingin seorang wanita yang melihatnya terkejut. Wajah itu mirip dengan wanita yang pernah mencoba meracuni dirinya.

"Halo, Bibi. Maaf sudah membunuh saudarimu." Kata Atlas tanpa ekspresi.

"Basi tau gak. Lebih baik lo pergi sebelum gue buat lo jadi salah satu pasien di sini." Ujar Eros berusaha tenang.

"Tidak, nak. Itu bukan salahmu. Kakak Bibi lah yang bersalah. Bibi minta maaf."

Emiko menatap penuh rasa bersalah. Kakaknya yang tak tau apapun itu melampiaskan dendam pada para putranya tak tidak bersalah.

"Tapi, Bibi mohon. Untuk saat ini kamu jangan temui Ein dulu ya. Keluargamu sedang tidak baik-baik saja." Lanjut Emiko memohon.

Atlas mengernyit bingung. Sudah lama ia tak pulang ke rumahnya dan memilih tinggal di salah satu apartemen tak jauh dari Alpadia. Dia kabur dari rumah.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang